Soeharto Sebagai Pahlawan Sudah Disepakati Internal PKS

November 19th, 2008 by anismatta

SUMBER : DETIK.COM

Jakarta - Iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menempatkan mantan penguasa orde baru Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa mendapat reaksi dari sejumlah kalangan. Partai berbasis agama ini kemudian dituding sudah menjadi antek Soeharto. Akibatnya isu perpecahan pun melanda partai tersebut.

Asumsi ini berlandaskan perbedaan pendapat antara Presiden PKS Tifatul Sembiring dengan Sekjen PKS Anis Matta terkait iklan tersebut.

Tifatul merasa ada yang salah dalam iklan tersebut. Sebab sepengetahuannya, materi iklan yang dipresentasikan Anis Matta di hadapan dirinya, Selasa 4 November 2008, berbeda dengan iklan yang muncul di sejumlah televisi. Lagi pula, Tifatul kurang setuju dengan penempatan Soeharto sebagai pahlawan maupun guru bangsa.

Bagaimana dengan Sekjen PKS Anis Matta? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Anis Matta melalui telepon:

Iklan PKS yang menyatakan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa banyak dikecam. Apa anda pendapat soal ini?
Saya kira wajar kalau ada yang mengkritisi iklan tersebut. Alasannya macam-macam. Tapi PKS tidak punya tendensi apa-apa selain ajakan untuk rekonsiliasi.

Tapi Presiden PKS Tifatul Sembiring mengaku ada yang salah dalam iklan tersebut. Mengapa demikian?

Itu masalah teknis saja. Sebab waktu materi iklan ditampilkan pada 4 November, di hadapan Presiden PKS serta dewan syura, suaranya belum ada. Karena memang baru berupa dummy.

Soal isu perpecahan di PKS bagaimana?Itu tidak benar. Karena hanya masalah teknis saja. Bukan gagasannya yang berbeda. Saya juga sudah bicarakan itu dengan Tifatul.

Tapi soal Soeharto yang dikatakan dalam iklan sebagai guru bangsa dan pahlawan apakah sudah disepakati di internal partai?

Tentu saja sudah. Sebelum keputusan menayangkan Soeharto sebagai bapak bangsa kami sudah melakukan survei tentang harapan masyarakat Februari 2008. Setelah dilakukan survei munculan nama Soeharto yang diusulkan sejumlah kader-kader di daerah.

Bagaimana dengan tudingan kalau Bang Anis sebagai antek Soeharto karena iklan tersebut?

Sekali lagi yang menempatkan Soeharto sebagai guru bangsa itu adalah hasil survei di daerah-daerah. Dan dari beberapa survei sebelumnya yang pernah dirilis sebuah lembaga, Soeharto menempati urutan pertama sebagai mantan presiden yang masih dicintai rakyat. Jadi kami menganggap penayangan Soeharto sangat tidak berlebihan.

Dan dari survei yang kami lakukan, sebagaian besar masyarakat menganggap reformasi tidak memberikan apa-apa kepada rakyat. Reformasi diartikan antitesa terhadap Orde Baru.

Jadi reformasi tersebut mirip-mirip orde lama. Misalnya dari banyak partai tapi gagal dalam pembangunan ekonomi. Sedangkan orde baru ekonominya stabil tapi demokrasinya yang gagal.

Dari situlah PKS ingin mengubah pandangan tersebut. Kami ingin mengajak semua komponen bangsa untuk melihat ke depan. Jangan lagi terjebak antara orde lama maupun orde baru. Untuk itu kita akan melakukan upaya rekonsiliasi demi kesejahteraan masyarakat.

Tapi apakah rekonsiliasi tersebut sebagai sebuah solusi untuk kesejahteraan rakyat?Dengan adanya rekonsiliasi kita bisa bahu-membahu membangun bangsa. Tidak lagi melihat dari orde mana atau partai mana. Yang penting masyarakat bisa disejahterakan.

Tapi gagasan rekonsiliasi itu kurang mendapat respon. Bagaimana?

Sejauh ini beberapa anak atau cucu dari tokoh-tokoh bangsa, sudah kami datangi. Mereka umumnya menyambut gagasan kami. Mudah-mudahan pertemuan antara keluarga tokoh bangsa ini bisa terlaksana.(ddg/iy)

8 Amanat Pemenangan Pemilu

August 27th, 2008 by anismatta

Mengunjungi seluruh rumah warga Republik Indonesia untuk mendengarkan harapan dan suara hati mereka yang mungkin tidak tertulis media atau tidak tersuarakan di parlemen serta mengajak mereka berpartisipasi aktif bersama PKS dalam pesta rakyat pada pemilu 2009.

1. Meningkatkan taqorub pada Allah dan meniatkan dengan penuh keikhlasan kepada Allah semua amal dalam pemenangan pemilu 2009 sebagai ibadah jihad politik.

2. Meningkatkan ukhuwah dan soliditas sesama kader da’wah sebagai sumber kekuatan syarat kemenangan.

3. Memekarkan struktur partai sampai seluruh desa agar da’wah dapat menjangkau seluruh jengkal tanah republik yang telah diamanahkan Allah sebagai media da’wah tanpa kecuali.

4. Memperbanyak silaturahim dengan seluruh tokoh dan kelompok masyarakat tanpa membedakan aliran ideologi, agama, suku, ormas bahkan parpol mereka karena perjuangan kita adalah untuk kepentingan mereka semua.

5. Menebarkan senyum, sapa dan salam cinta pada seluruh warga masyarakat kapan dan dimanapun menerima mereka, karena itu mendekatkan hubungan batin dengan rakyat sekaligus sedekah yang murah dan meriah.

6. Meningkatkan pelayanan pada seluruh warga masyarakat baik mutu maupun kuantitasnya karena cinta kepada rakyat harus dibuktikan dengan pelayanan yang tulus dan tidak kenal lelah.

7. Mengunjungi seluruh rumah warga Republik Indonesia untuk mendengarkan harapan dan suara hati mereka yang mungkin tidak tertulis media atau tidak tersuarakan di parlemen serta mengajak mereka berpartisipasi aktif bersama PKS dalam pesta rakyat pada pemilu 2009.

8. Meningkatkan hubungan dengan insan media dan menjadikan mereka sebagai mitra strategis dalam mengusung agenda-agenda perubahan menuju Indonesia baru yang lebih baik. (Ketua TPPN, M Anis Matta)

SELAMAT DATANG HARAPAN

August 17th, 2008 by anismatta

SELAMAT DATANG HARAPAN
Arahan Ketua TPPN, Anis Matta,
pada Mukernas PKS 2008, Makassar 21-24 Juli 2008

بسماللهالرحمنالرحيم

Kita tidak boleh lelah. Sampai hari ini. Bahkan sampai kapan pun. Untuk terus mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan panjang perjuangan dakwah ini. Cara kita memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjalanan perjuangan kita. Tidak semata bagaimana capaian itu dihasilkan, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan datang menghambat.

Itu pula yang akan mengantarkan kita kepada sebuah sikap –sebagaimana dikatakan oleh Harun Al-Rasyid, “Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.” Ya, yang paling sempurna tentu saja keberhasilan yang diberikan Allah setelah usaha dan kerja-kerja maksimal.
Dengan cara membaca yang benar dan menelaah yang utuh tahapan demi tahapan perjalanan kita, maka kita akan selalu mendapat penjelasan baru yang terus menyegarkan, tentang bagaimana realitas perjuangan ini dicapai, dan apa yang harus kita lakukan untuk menciptakan realitas baru berkelanjutan.

1. Tafsir keimanan atas kemenangan sebelum kemenangan
Setiap kali realitas internal kita berubah, realitas eksternal di sekeliling kita juga berubah. Pernah ada suatu saat dimana kita tidak percaya bahwa 20% itu mungkin. Itu mimpi. Itu utopia. Kita mungkin tidak mengatakannya. Tapi cara kita bekerja tidak menunjukkan bahwa kita memang yakin bisa mencapainya.
Tapi hari ini semuanya berubah. Keyakinan kita berubah, bersama berubahnya angka-angka tentang PKS dalam survey-survey politik. Jauh sebelum angka-angka itu berubah, sesungguhnya telah terjadi perubahan-perubahan besar dalam diri kita. Pikiran kita berubah. Perasaan kita berubah. Tindakan kita juga berubah. Alam batin kita seluruhnya berubah.
Kesadaran yang mendalam akan adanya gap yang jauh antara target 20% dengan realitas kita dalam survey —yang waktu itu berada dalam posisi 5%— mendorong kita merumuskan STRATEGI yang jelas untuk mencapai sisa TARGET tersebut.
Pada saat yang sama, kita terus membangun motivasi bersama yang kuat untuk mencapai target tersebut. Motivasi bukan soal kata-kata. Motivasi adalah soal keyakinan. Dari keyakinan yang kuat, akan lahir pikiran yang besar. Sarana dan sumber daya selalu tunduk pada ide dan pikiran-pikiran. Sebagaimana sebaliknya, ide yang besar dan pemikiran yang kuat, akan menciptaan sarana-sarananya, dengan caranya sendiri. Karena itu, dalam pepatah Arab dikatakan, منجدوجد. Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Perubahan yang berkelindan dengan kesadaran itu, mengantarkan kita kepada tiga situasi batin yang sangat mempengaruhi pertumbuhan pemahaman dan cara kita bekerja. Pertama, kita mulai semakin mengerti apa sebenarnya masalah-masalah kita (الوعيبالمشكلة) dan mengerti bagaimana menyusun langkah-langkah kita (وضوحالخطة). Karena itu, dengan caranya yang unik, Allah mensyaratkan perubahan harus dimulai dari kita sendiri, dan permulaan itu adalah bagaimana kita mengerti masalah dan mengerti bagaimana menyusun langkah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, hingga kaum itu mengubah diri mereka sendiri.”
Kedua, yang terus berubah dalam diri kita adalah semakin menguatnya kehendak dan kemauan kita (قوةالإرادة). Bahwa setiap kali kemauan kuat kita diberi taufik Allah untuk menjadi kenyataan, semakin pula kemauan itu terus menguat menjadi kehendak. Karena itulah, Islam memiliki caranya sendiri untuk membimbing kita, bahkan bila pun kerja-kerja kita tidak mendapatkan pengakuan yang semestinya dari orang lain, itu tidak boleh mengganggu semangat dan kekuatan kehendak. Sebab, Allah telah menjamin pengakuan dari-Nya, dengan caran-Nya sendiri. Bahwa Allah Yang Maha Melihat, menegaskan, Ia pasti akan melihat karya-karya itu. “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.’”
Ketiga, bahwa di dalam diri kita juga terus menguat spirit untuk terus bekerja dan bekerja (العملالمستمر). Dan bahkan dalam keberlanjutan kerja itulah proses menjadi baik, mendapat ampunan, dan diperbaiki oleh Allah akan kita dapatkan. Bila kita terus bekerja, mungkin akan selalu ada yang salah. Tapi dengan terus bekerja itulah Allah berjanji akan memperbaiki kesalahan kita. “Dan orang-orang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal-amal yang shalih, serta beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. Muhammad: 2).

2. Hubungan kausalitas dalam peristiwa sejarah
Sejarah umat Islam sangat kaya dengan pelajaran penting tentang hukum sebab akibat. Bahwa sebuah kemenangan memiliki syarat-syaratnya. Sebagaimana kehancuran sebuah bangsa, sebuah umat, memiliki sebab-sebabnya.
Sebagaimana para individu memiliki ajal, begitu juga sebuah umat, memiliki umurnya sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Dalam firman-Nya yang lain, “Dan bagi setiap umat ada ajalnya.”
Karena itu, sebelum jauh-jauh berbicara tentang bagaimana sebuah partai harus menang, yang harus kita lakukan adalah menanyakan tentang bagaimana sebuah partai bisa hidup. Umur partai ditentukan oleh umur misinya, selama misi itu hidup, maka selama itu partai itu hidup. Hal-hal yang membuat sebuah partai bisa hidup adalah:
- Adanya misi kemanusiaan yang luhur dalam kerja-kerja politik partai itu. Misi itulah yang akan memberi sentuhan-sentuhan kemanusiaan pada kerja-kerja politik.
- Misi itu juga akan menerbitkan manfaat langsung, dalam bentuk spritual maupun material. Kehadiran partai yang punya misi akan memberi manfaat secara politik, sosial, maupun ekonomi.
Tetapi untuk bisa menjalankan misi itu, kita harus menjadi partai politik yang punya kemampuan untuk memimpin, leading, dengan menjalankan politik kemanusiaan di tengah politik kepentingan. Setelah berbicara tentang bagaimana sebuah partai politik bisa hidup (أسبابالحياة), maka kita harus berbicara tentang bagaimana partai politik itu bisa memimpin. Untuk menjadi partai yang mampu memimpin (leading) kita harus memiliki tiga hal. Dan, tiga hal ini yang harus terus kita ulang-ulang:
- Pertama, narasi yang besar. Kita hanya akan memimpin apabila kita membawa gagasan besar yang dapat merangkul dan mewadahi seluruh harapan dan energi masyarakat. Gagasan itulah yang memberi kanal yang dapat menyalurkan energi yang ada pada masyarakat dan mengubahnya menjadi harapan bersama yang mencerahkan.
- Kedua, kapasitas. Gagasan besar itu hanya akan menjadi realitas kalau ada kapasitas yang memadai —pada skala individu maupun struktur— yang dapat mengeksekusi gagasan itu.
- Ketiga, sumber daya. Dalam segala bentuknya, seperti informasi, pengetahuan, sarana finansial, dan lain-lain adalah sarana yang diperlukan untuk mengeksekusi gagasan tersebut.
Jadi, makin besar narasi, kapasitas, dan sumber daya kita, makin besar kemampuan kita mengeksekusi. Itu modal yang besar. Sesudah itu yang kita tunggu tinggal momentum. Kalau kita punya tigal hal di atas, maka peluang itu hanyalah masalah waktu. Kita akan mendapat kemenangan dan memimpin kalau kita mempunyai kemampuan mengelola ide-ide, memiliki kapasitas untuk mengeksekusi ide-ide itu, dan memiliki sarana untuk merealisasi ide-ide itu.
Itu sebabnya, di Bali, kenapa salah satu isu yang kita angkat adalah keterbukaan, karena di Bali kita bicara narasi. Sekarang, di sini kita bicara tentang kepemimpinan kaum muda, karena kita bicara tentang kapasitas. Nanti, ketika kita bicara tentang managing globalization, kita akan bicara tentang sumber daya.
Ada fakta mendasar yang harus kita sadari, bahwa kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Fakta itu melahirkan kaidah-kaidah penting:
- Bahwa tidak karena engkau berkuasa, maka secara otomatis engkau akan memimpin.
- Bahwa kadang engkau bisa memimpin meski tidak berkuasa.
- Bahwa untuk bisa memimpin, tidak serta merta engkau harus berkuasa.
- Bahwa boleh jadi, sebuah kekuasaan hanyalah awal dari sebuah keruntuhan.
Jadi, persepsi kita tentang memimpin dan berkuasa, akan sangat mempengaruhi cara kita bekerja dan cara kita meletakkan kekuasaan dalam daftar tema-tema besar pekerjaan kita.

3. Hambatan-hambatan untuk menang
Cita-cita besar selalu punya caranya sendiri untuk direalisasi, tapi juga punya hambatan-hambatanny a sendiri yang harus disiasati. Hambatan akan selalu ada. Masalahnya kemudian apakah hambatan itu relevan atau tidak. Masalahnya apakah kita bisa menciptakan cara-cara untuk melampui hambatan itu dengan baik.
Hambatan paling mendasar yang harus kita sadari adalah hambatan persepsi dalam betuk sindrom-sindrom. Setidaknya ada empat macam sindrom yang harus kita waspadai yang akan banyak menjadi hambatan serius bagi tercapainya kemenangan.
- Pertama, Sindrom ketakutan bila menang. Sindrom ini lebih khusus terkait dengan ketakutan akan apa yang muncul dari kemenangan berupa fitnah dunia.
- Kedua, sindrom inferiority complex. Perasaan minder dan rendah, merasa tidak mampu. Padahal kerja-kerja kepemimpinan, yang salah satunya mencakup kerja-kerja politik, adalah jenis kerja-kerja yang dibangun di jalur eksperimen. Dan bahwa Islam lah yang pertama kali mengenalkan metodologi dan tradisi eksperimen (المنهجالتجريبي). Sementara tradisi Yunani membangun filsafatnya atas dasar metafisika. Jadi eksperimen merupakan anak kandung peradaban Islam. Karena itu kerja-kerja dakwah dan politik harus merupakan kerja-kerja yang punya tradisi eksperimen yang kuat. Itu tidak bisa dilalui dengan sindrom rendah diri.
- Ketiga, sindrom pemisahan antara tarbiyah dan politik. Sindrom ini bisa memicu keresahan, menciptakan kesan dan perasaan, seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja bersih, sementara politik adalah kerja-kerja kotor. Melahirkan perasaan bahwa seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja mulia, sementara politik adalah kerja-kerja yang hina. Perasaan bahwa orang-orang tarbiyah adalah orang-orang yang suci, dan orang-orang politik adalah orang-orang yang berlumur keburukan. Pemisahan seperti itu sungguh sangat membahayakan. Karena itulah dalam situas-situasi seperti ini, saya sering teringat dengan syair yang dibacakan Abdullah bin Mubarok kepada Fudhail bin Iyadh:
ياعابدالحرمينلوأبصرتنالعلمتأنكبالعبادةتلعب
منكانيخضبجيدهبدموعهفنحورنابدمائناتتخضب
wahai ahli ibadah di dua tempat suci
jika kalian menyaksikan kami
niscaya akan tahu bahwa kalian bermain-main dengan ibadah itu
bila leher-leher kaliah basah berlumur air mata
maka leher-leher kami dengan darah-darah kami berlumuran

- Keempat, sindrom kesucian dalam berpolitik. Di sisi lain, perasaan suci juga bisa muncul dalam diri kita, sehingga menimbulkan sikap-sikap yang kurang produktif bagi perjalanan perjuangan kita. Seperti enggan bergaul dengan berbagai pihak. Karena kita menganggap kita suci, kita menganggap orang lain kotor. Sehingga kita pun tidak bisa memberdayakan. Padahal dalam hadits Rasulullah dikatakan,
إناللهلينصرهذاالدينحتيبرجلفاجر
“Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini bahkan dengan orang yang suka bermaksiat.”
Persepsi yang harus kita bangun tentang mereka yang biasa berbuat maksiat adalah, pertama mereka obyek dakwah, kedua mereka adalah sumber daya. Suara orang kafir itu sumber daya, sebagaimana suara orang Muslim yang ahli maksiat, adalah juga sumber daya. Jangan sampai, karena kita merasa suci, kita tidak bergaul dengan orang lain. Sehingga kita tidak bisa memberdayakan. Menurut survey, salah satu faktor kemenangan kita di Jawa Barat itu karena dukungan orang-orang Cina dan tentara.

4. Realitas-realitas politik
Pada dasarnya kita sudah melampui hampir semua tahapan krusial, yang bisa menghambat rencana dan tahapan-tahapan yang kita canangkan untuk menang. Gagasan tentang new look new image menjelang tahapan take off preparation, isu tentang pluralitas, yang terus kita gaungkan, semuanya cukup memberi efek positif bagi persepsi orang lain tentang PKS.
Pada saat kita memasuki tahapan big wave, seiring terus menguatnya persepsi positif orang tentang PKS, kita harus mengetahui betul realitas-relaitas baru dalam politik Indonesia. Di antara realitas yang sangat penting itu adalah:
- Realitas demografi, bahwa tren pertumbuhan masyarakat berusia muda —antara 17 tahun hingga 45 tahun– populasinya mencapai 65 %.
- Perbandingan kaum urban-rural. Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.
- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media.
- Tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri. Setidaknya ada empat macam transformasi yang akan terjadi:
- Pertama, Transformasi dari politik aliran menuju politik kemanusiaan. Orang nanti tidak melihat ideologi itu sebagai soal benar salah, tapi bagaimana idelologi itu membangun kemanusiaan. Dulu orang berbicara nasionalisme, karena nasionalisme adalah padanan dari anti kolonialisme. Karena nasionalisme adalah alat untuk melawan imperialisme.
- Kedua, Transformasi dari politik pencitraan menuju politik konten. Karena itu iklan-iklan politik sekarang mengalami inflasi. Kata-kata dalam iklan itu menjadi sangat artifisial, karena yang ingin dilihat orang adalah artikulasi yang bersifat live, nyata.
- Ketiga, Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku bisa jadi tidak relevan.
- Keempat, Transformasi dari orientasi kekuasaan kepada orientasi kepemimpinan. Bahwa politik tidak bisa lagi dipersepsi sebagai sarana untuk mengejar ambisi kekuasaan. Itu tidak akan mendapat tempat di masyarakat, seiring dengan realitas-realitas baru.
Berdasarkan realitas tadi saya percaya bahwa partai yang akan memenangankan pemilu mendatang bukan lagi partai yang canggih dengan operasi politiknya, tetapi partai yang hadir dengan gagasan yang inovatif dan solutif, fresh idea, yang dapat membangun kembali rasa cinta dan bangga setiap warga negara kepada bangsa dan tanah air.
Ide-ide yang inovatif dan solutif itu adalah ide-ide tentang the next Indonesia. Siapa yang bisa memiliki ide-ide tentang Indoneisa masa depan, dialah yang akan memimpin Indonesia.

5. Bagaimana Strategi Selanjutnya
Sebelum masuk ke strategi selanjutnya untuk menang, kita perlu menjawab pertanyaan fundamental. Pertanyaan fundamental itu adalah “mengapa kita harus menang.” Jawaban dari pertanyaan fundamental itu, secara umum dapat disarikan ke dalam prinsip-prinsip berkut:
1. Bahwa kehadiran kita sebagai pemimpin adalah matlabun jamahriiyun li inqadzi asya’b. Adalah tuntutan publik untuk menyelamatkan masyarakat. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sosial.
2. Bahwa upaya-upaya penyelamatan masyarakat itu merupakan kewajiban agama, tuntutan syariat Islam. Ini bisa dikatakan sebagai tuntutan moral.
3. Bahwa ada keniscayaan sejarah terkait dengan pergantian generasi. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sejarah. Bahwa sebuah generasi pasti akan digantikan oleh generasi berikutnya.
Sesudah itu semua, kita berbicara tentang bagaimana cara kita menang pada sisa tahapan selanjutnya. Setidaknya ada lima tema penting yang harus terus ada dalam kesadaran kita. Lima kesadaran itu menjadi semacam tonggak-tonggak yang bisa dijadikan pusaran bagi segala cara, upaya, untuk menuju kemenangan pada sisa tahapan berikutnya. Lima kesadaran itu adalah:
1. Setelah image keterbukaan, pruralitas, kita perlu menukik lebih dalam kepada kesadaran publik, bahwa PKS adalah ruh baru kebangkitan Indonesia. PKS adalah ruh baru dan tulang punggung kebangkitan bangsa Indonesia.
2. Mempertahankan posisi PKS sebagai news maker, opinion leader dan trend setter. Karena itu, dalam konteks ini kita perlu mengartikulasikan secara lebih luas dan mendalam tentang the next Indonesia, dan the road map to the next Indonesia, step by step.
3. Memperkuat wibawa institusi partai. Melalui pengokohan struktur, soliditas dan leaderhsip, serta kekuatan jaringan yang menjangkau setiap jengkal tanah di Republik ini.
4. Menebar pesona pribadi. Maksudnya, keberadaan kita sebagai kader, sebagai dai harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam berbagai kerja-kerja politik dan dakwah kita.
5. Menguatkan penerimaan dan dukungan internasional.

Pada akhirnya, segala cita-cita punya kadarnya untuk kita geluti prosesnya secara maksimal, tahap demi tahap. Tapi ia juga punya kadarnya untuk kita serahkan kepada Allah dengan penuh pengharapan dan doa yang juga maksimal. Sejarah Islam juga mengajarkan, betapa Rasululah dan para pejuang pendahulu kita yang shalih, telah membuktikan, ketika umat Islam mengawali cita-cita dengan keyakinan iman, niat yang tulus, kerja yang tak kenal lelah, maka sesudah itu biasanya Allah sendiri yang mengambil alih sisa pekerjaan itu semua. Dan, memberi mereka kemenangan yang nyata, nasran aziza, dengan cara Allah sendiri.
Maka saya sangat yakin, bila kita memiliki keyakinan yang kuat, ketulusan niat, kebersamaan yang kokoh, dan kerja keras tanpa kenal lelah, nanti Allah juga akan mengambil alih sisa-sisa pekerjaan yang masih besar, lalu memberi kita kemenangan-Nya, dengan cara-Nya sendiri, bahkan sering melampui batas-batas imajinasi kita, tanpa pernah kita mengerti.
Jangan pernah merasa kita akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri. Tugas kita adalah menegaskan tekad dan memulai perjalanan. Setelah itu Allah akan membimbing kita hingga akhir perjalanan. Insya Allah.
اللهأكبر،اللهأكبرواللهأكبر،وللهالح

BACALEG PKS

August 2nd, 2008 by anismatta

Bakal Calon Anggota DPR-RI
Nama Daerah No Nama
Nangroe Aceh Darussalam - 01
1 M. Nasir Djamil (L) Komisi II (A-240)
2 Muhammad Ihsan, H. (L)
3 Mulyani, S.Ag (P)
4 Muhammad Rizal (L)
5 Salihin (L)
Nangroe Aceh Darussalam - 02
1 Raihan Iskandar, Lc (L)
2 Andi Salahuddin, SE (L) Komisi IX (A-241)
3 Suryani, S.Si (P)
4 Azhar, MT (L)
Sumatera Utara - 01
1 Tifatul Sembiring (L)
2 Muhammad Idris Luthfi, Drs., M.Sc (L) Komisi VII (A-242)
3 Ir. Kusuma Dewi Munthe, M.Eng (P)
4 Porkas Halomoan Rangkuti, SS (L)
5 Suriya Aifan, SH (L)
6 Pinta Siregar, dr. (P)
7 Hesti Mardiani, M.Ag (P)
8 Ummi Kalsum. SS (P)
Sumatera Utara - 02
1 Iskan Qolba Lubis, MA (L)
2 Yusri Efendi Lubis (L)
3 Hanni Sarihati Siregar (P)
4 Doli Gunawansyah Harahap, Ssos (L)
5 Maratussalihah, Lc (L)
6 Olivia, dr (P)
Sumatera Utara - 03
1 Ansory Siregar, Lc (L) Komisi IX (A-243)
2 Hidayani Fazriah Sitompul, Dr. (P)
3 Saut Maruli Tua Saragih Munthe (L)
4 Fitri Harahap, MH (P)
5 Yose Rizal Geneng (L)
6 Annio Indah Lestari, M.Si (P)
7 Rico Marbun (L)
Sumatera Barat - 01
1 Irwan Prayitno, DR (L) Komisi VII (A-244)
2 Hermanto, SE (L)
3 Deri Permatasari, DH (P)
4 Drs. Syaurium Sy. Khathib, H. (L)
5 Muhammad Taufik, S.Si (L)
6 Desi Asriani, S.Pt, M.Pd (P)
7 Fuadi Yatim, Dr. (L)
8 Enita Marsa, Dra. (P)
Sumatera Barat - 02
1 Refrizal, Drs (L) Komisi VI (A-245)
2 Ferry Nur, S.Si (L)
3 Susi Yemita, S.Si, Apt (P)
4 Amrizal M Nur. DR (L)
5 Rusdi Muchtar (L)
6 Hidayetti, SP (P)

Riau - 01
1 Chairul Anwar, Drs., Apt. (L) Komisi IX (A-246)
2 Veny Zano (L)
3 Asih Drajad Lumintu, S.Pd (P)
4 Alfaisal Jayuska (P)

Riau - 02
1 Abdul Jabbar, MA (L)
2 Hidayat Rohim (L)
3 Aida Malikha, S.Psi (P)
4 Tyas Soekarsono Utomo, Dr. (L)

Jambi - 01
1 Ruly Tisna Yuliansa, Ir. (L)
2 Desi Novrianti (P)
3 Janawir, dr (L)
4 Suryadi, Lc.S.Ag (L)
5 Sulthan, Lc (L)
6 Khairul Walid (L)
7 Rina Novita, Amd (P)
8 Nining Wilasari, SE (P)
Sumatera Selatan - 01
1 Musthafa Kamal (L) Komisi IX (A-248)
2 HM Yunus (L)
3 Fira Arsyad (P)
4 Abdul Malik (L)
5 Junaedi Syahputra (L)
6 Febriansyah (L)
7 Hero Ekonomosa, M.Sc (L)
8 Amarullah Adhi Saputra, B.Eng (L)
9 Hj. Husna (P)
Sumatera Selatan - 02
1 Bukhori Yusuf, MA (L)
2 Dewi Meryati Azka (P)
3 M. Darocky Willynova (L)
4 Muhammad Hermawan Ibnu Nurdin, S.Si (L)
5 Thol’at Wafa (L)
7 M. Lili Nur Aulia (L)
Bengkulu - 01
1 H. M. Syahfan Badri Sampurno, Drs. (L)
2 Elza Septarini (P)
3 M. Yunus (L)
4 Erniwati, SE (P)
5 Rida (P)
Lampung - 01
1 Almuzzammil Yusuf (L) Komisi III (A-249)
2 Agus Nurhadi, Dr. (L)
3 Desy Eviani, Hj. (P)
4 Murdiansyah (L)
5 Rahman Muzni, Drs. H. (L)
6 M. Nazir Hasan, K.H. (L)
7 Abdul Kadir (L)
8 Husna Hidayati (P)
9 Ananto Pratikno (L)
10 Deden Wahyudin (L)
Lampung - 02
1 Abdul Hakim, Ir. MM (L) Komisi V (A-250)
2 Kinkin Anida (P)
3 Ari Wibowo, Lc (L)
4 Qomaratul Kurniati, Hj (P)
5 Agus Wibowo (L)
6 Hilmuddin Sulani, Lc (L)
7 Siti Asma, Hj (P)
8 Effendi Husein, Drs (L)
9 Bambang Edin Purnomo (L)

Bangka Belitung - 01
1 Syahidil, Ir (L)
2 Iie Sumirat (L)
3 Silvia Emilia (P)
4 Menkiong (L)

Kepulauan Riau - 01
1 Herlini Amran, MA. (P)
2 Sa’id Iqbal (L)
3 Khusnul Inayati (P)

DKI Jakarta - 01
1 Ahmad Zainuddin, Lc (L)
2 Rama Pratama (L) Komisi XI (A-253)
3 Suzy Mardiani (P)
4 Adi Susilo (L)
5 Agung Yulianto, Ak. (L)
6 Anis Byarwati (P)
7 Ali Ahmadi (L)

DKI Jakarta - 02
1 M. Sohibul Iman, Dr. (L)
2 Ahmad Faradis (L)
3 Nursanita Nasution, Dr. (P) Komisi XI (A-252)
4 Fitra Arsil, SH (L)
5 Abdul Muiz, MA (L)
6 Azimah Subagio (P)
7 Evi Risnayanti, SH (P)
8 Abdullah Haidir, MA (L)

DKI Jakarta - 03
1 Adang Daradjatun (L)
2 Ahmad Relyadi (L)
3 Wirianingsih (P)
4 Taufik Ramlan Wijaya, Dr. (L)
5 Eka Wardiyati, Dra. (P)
6 Abdul Aziz Matnur (L)
7 Haekal Jauhari (L)
8 Samin Barkah, Lc (L)
9 Lilik Solihah (P)
10 Ofiyati Sobriyah (P)

Jawa Barat - 01
1 Suharna Surapranata (L)
2 Ledia Hanifa (P)
3 Adang, dr. (L)
4 Setiadi Yazid (L)
5 Upik Siti Ranah (P)
6 Saiful Islam (L)
7 Asep Wawan (L)
8 Arif Minardi (L)
Jawa Barat - 02
1 Ma’mur Hasanuddin (L) Komisi VIII (A-257)
2 Dumilah Ayuningtyas (P)
3 Husein Al Banjari (L)
4 Joko Sarwono (L)
5 Achmad Nuryasin (L)
6 Neneng Fathonah (P)
7 Agus Kusnayat, MT (L)
8 Zirly Nova Jamil (P)
9 Jajang Rohana (L)
10 Ayi Khodijah (P)
11 Muhammad Ibrahim (L)
12 Abdul Hadi Wijaya (L)
Jawa Barat - 03
1 Untung Wahono (L) Komisi I (A-259)
2 Ahmad Mabruri MA (L)
3 Ana Mariani Kartasasmita (P)
4 Eki Awal Muharam (L)
5 Jalaluddin Syatibi (L)
6 Nenah Haryati, S.Sos. (P)
7 Abbas Aula (L)
8 Oceu Wiguna Juanda (L)
9 Burdah Athori (L)
10 Karantiano Sadasa Putra (L)
11 Syahrul Arif (L)
Jawa Barat - 04
1 Yudi Widiana Adia (L)
2 Achyar Eldin (L)
3 Ratih Nilam Widyani (P)
4 Budi Muhammad (L)
5 Asep Burhanudin (L)
6 Primanita Sukmawijaya (P)
7 Sugeng (L)
Jawa Barat - 05
1 Sunmanjaya Rukmandis (L)
2 M. Razikun (L)
3 Sarah Handayani, SKM., M.Kes. (P)
4 Ahmad Muarif, Drs. (L)
5 Sofyan Tsauri, Lc. (L)
6 Hana Rohayani, Dra. (P)
7 Rudi Rahmat, Ir. (L)
8 Taufiq Azhar, Dr. (L)
9 Rina Ningsih, Ir. (P)
10 Tubagus Agus Yusuf (L)
11 Arfan Malik (L)
Jawa Barat - 06
1 Mahfudz Abdurahman (L)
2 Musholi, Drs. (L)
3 Sitaresmi Soekanto (P)
4 DH. Al Yusni, Drs. (L) Komisi VIII (A-262)
5 Nani Handayani (P)
6 Alamsyah Agus (L)
7 Hanri Basel (L)
Jawa Barat - 07
1 Arifinto, Drs. (L)
2 Mardani, Dr. (L)
3 Dwi Septiawati, Dra. (P)
4 Aryo Judhoko, Drs. (L)
5 Najiyulloh (L) Komisi VI (A-263)
6 Ana Rosaliani, dr. (P)
7 RB Suryama M (L)
8 Iwan A. Fuad (L)
9 Nurul Hidayati (P)
10 Kodar Slamet S.Pd. (L)
11 Mukhayar Rustamudin (L)
12 Laila Fauziah (P)
Jawa Barat - 08
1 Mahfudz Sidik, Drs., M.Si. (L) Komisi II (A-265)
2 Aan Rohana (P) Komisi X (A-255)
3 Karyatin Subiyantoro, Drs. (L)
4 Iman Santoso, Lc (L)
5 Bakrun Syafei, MA (L)
6 Sri Hana (P)
7 Sunardi, Drs. (L)
8 Muhammad Apud Kusaeri (L)
9 Sri Pulungsari, SIP (P)
10 Ahmad Rusli (L)
11 Rizal Darmaputra (L)
Jawa Barat - 09
1 Nur Hasan Zaidi, S.Sos.I (L)
2 Wahyudin Munawir, Ir (L) Komisi VII (A-266)
3 Suhartimah (P)
4 Ayon Prasetyawan, Ir. (L)
5 Ade Syabul Huda, Lc. (L)
6 Ike Medyawati (P)
7 Agus Harsanto, Ir. (L)
8 Tata Nurwita (L)
9 Eulis, Hj. (P)
10 Dwi Fahrial (L)
Jawa Barat - 10
1 Surahman Hidayat, Dr. (L)
2 Umung A Sanusi (L) Komisi IV (A-267)
3 Sri Martini S, S.Sos (P)
4 Cahya Zaelani, Amd (L)
5 Handi Al Husein, S.Ag (L)
6 Nenen Mulyani (P)
7 Ita Nurwita (P)
8 Dhadi G. Drajat, Dr. (L)
Jawa Barat - 11
1 Kemal Stamboel (L)
2 Ade Barkah, Ir (L)
3 Sigit Pramono, SE, MSAcc (L)
4 Kokom Komalasari (P)
5 Nasdiyanto (L)
6 Hilman Rosyad (L) Komisi I (A-268)
7 Ade Ruhimat (L)
8 Yusi Fitri Mardiah (P)
9 Hermawan (L)
10 Aep Saefulloh (L)
11 Azriah Aini (P)
12 Yanti Humairo (P)
Jawa Tengah - 01
1 Zuber Safawi (L) Komisi X (A-269)
2 Bambang Wirahyoso (L)
3 Dini Inayati, ST (P)
4 Handoyo, SH (L)
5 Wahid Hasyim,Drs., H. (L)
6 Malichah, S.Pd (P)
7 Nana Sudiana, S.Sos (L)
8 Maria Septriana, A.Md (P)
9 Ahmad Irfan (L)
10 Bayu Laksana Henditya, dr (L)
Jawa Tengah - 02
1 Abdul Kharis, SE., Ak. (L)
2 Tolhah Bin Nokin, Lc (L)
3 Feni Feristin, S.Pd (P)
4 Imam Nur Aziz,S.Sos.,M.Sc. (L)
5 Muhith Muhammad Ishaq,Lc.MA. (L)
6 Nurusysyahadah, SP (P)
7 Ahmad Dzakirin,SS.,MSi (P)
8 Ulis Tofa Muhammad Ali, Lc (L)
Jawa Tengah - 03
1 M. Gamari, Dr. H. (L)
2 Muhammad Najib Subroto, SE (L)
3 Siti Aminah, S.Sos (P)
4 Muqoddam Kholil, MA.Dr. (L)
5 Muhammadun Abdul Hamid, Lc.MA. (L)
6 Anisah Rohimah, SE (P)
7 Ganjar Lestari, SH (L)
8 Nuryati, SE (P)
9 Choiriyah, S.Pd (P)
10 Marsudi Budi Utomo, Dr. (L)
11 Yuni Setiawati, SKM (P)
Jawa Tengah - 04
1 M. Martri Agoeng (L)
2 Amin Wahyudi , Drs., MM (L)
3 Wuryanti, MA (P)
4 Pramono, Ak. (L)
5 Heri Tomi, SE (L)
6 Dian Savitri, SH (P)
7 Umar Sanusi (L)
8 Nurul Fitri Isfari, dr. (P)
9 Lely Firli Rohmani, S.Psi (P)
Jawa Tengah - 05
1 M. Hidayat Nur Wahid, Dr. (L) (A-254)
2 Joko Widodo, Amd (L)
3 Setiawati Intan Safitri, SP. (P)
4 KH. Fadlan Adham Hasyim, Lc. (L)
5 Haryo Setyoko (L)
6 Ida Trianawati, dr. (P)
7 Hartono Iggi Putro, S.Sos. (L)
8 Zaenal Abidin, Drs. (L)
9 Mujiati, SE. Akt., M.Si (P)
10 Ahmad Supriyanto, dr (L)
Jawa Tengah - 06
1 Priyatno Edi Kuncoro, SE. (L)
2 Budi Santoso (L)
3 Siti Zaenab (P)
4 Saefudin, KH (L)
5 Muhammad Syahid (L)
6 Nur Hayati, S.Ag (P)
7 Hertanto Widodo, SE. (L)
8 Dardewantara, A.Md (L)
9 Dartomo M. Sidik (L)
10 Dwi Ambarwati, Hj. (P)
Jawa Tengah - 07
1 Sugihono, Ir (L)
2 Amrullah Ahmad, Dr. (P)
3 Nur Chasanah, Hj. (L)
4 Faqih Munandar (L)
5 Dzuroh Eniyati,A.Md (P)
6 Syamsiyah, S.Pd (P)
7 Ishaq Abdul Azis (L)
8 Tuty Kurniawati.A.Md (P)
Jawa Tengah - 08
1 Tossy Aryanto (L)
2 Suwarso, Dr. (L)
3 Arum Nur Aini, Dra. Hj. (P)
4 Pardan Prasetyo, MPd. (L)
5 Suharto B.Wiyono, H,SH, MH (L)
6 Wiwiek Yuning Prapti, Dra., Hj. (P)
7 Unggul Wibawa Widhayaka (L)
8 Anggoro Wignyo Saputro, SE (L)
9 Darmadi Nugroho Agung (L)
10 Rumanti Agustina,S.Si (P)
Jawa Tengah - 09
1 Suswono, Ir., MMA (L) Komisi IV (A-271)
2 Abdul Karim Nagib (L)
3 Sri Kusnaeni, Ir. (P)
4 Ahmad Hanafi, Drs. (L)
5 Rohmani, S.Pd. (L)
6 Muniroh, Hj (P)
7 Kuntjoro Pinardi, DR (L)
8 Faisal Amri, dr. (L)
9 Nur Pujiasih, S.Pd. (P)
10 Fachrudin (L)
Jawa Tengah - 10
1 Arsul Sani, SH, M.Si. (L)
2 Ainun Mardiyah, dr. (P)
3 Umar Salim, SIP (L)
4 Mustaqim HU (L)
5 Abdul Syukur (L)
6 Siti Rahmah, S.Ag. (P)
7 Saptadi Imam Santoso, S.Pt (L)
DI Yogyakarta - 01
1 Agus Purnomo (L) Komisi III (A-272)
2 Naharus Surur (L)
3 Dwi Kurnia Handayani, S.Sos. (P)
4 Bodi Dewantoro, SH,Mhum (L)
5 RMA Hanafi, Drs. (L)
6 Dwi Aprilisasi, S. Si (P)
7 Basuki Abdurahman, Drs, M.Si. (L)
8 Habibah, S.Ag. (P)
Jawa Timur - 01
1 Sigit Sosiantomo, Ir. (L)
2 Suripto, SH (L) Komisi I (A-273)
3 Iswiyanti Widyawati, dr. (P)
4 Muhammad Sodik, Drs. (L)
5 Syarif Muhtarom (L)
6 Lina Ariani (P)
7 Farid Marzuki, Lc. (L)
8 Rudi Artono, dr. (P)
9 Lisdiyarti (P)
10 Rusli Efendi (L)
11 Ahmad Syukron (L)
12 Dyah Ayu (P)

Jawa Timur - 02
1 M Firdaus, Dr. (L)
2 Misbakhun, Ak. (L)
3 Aliyah Attamimi (P)
4 Muhammad Badaruddin, M.Sc. (L)
5 Edi Waskito (L)
6 Siti Marsiyah, dr. (P)
7 Zufar Bawazir (L)
8 Imam Joko SSi. (L)
Jawa Timur - 03
1 Usman Efendi, M.Sc. (L)
2 Cung Kusaeri (L)
3 Maryam Laila Musthofa, S.Ag. (P)
4 Widodo (L)
5 Warsidiyanto (L)
6 Dwi Hardiyanti (P)
7 Imaduddin Jamil (L)
8 Farida Kurniawati, SE (P)
Jawa Timur - 04
1 Agoes Kooshartoro, dr, SpPD. (L)
2 Gunawan (L)
3 Elly Nikmawati (P)
4 Syamsul Bahri, M.Si. (L)
5 Tintin Farida (P)
6 Ridho Kurniawan (L)
7 Hendratno (L)
Jawa Timur - 05
1 Luthfi Hasan Ishaaq, MA. (L) Komisi XI (A-274)
2 Budiyanto, M.Eng. (L)
3 Imamah Zuhro, M.Sc. (P)
4 Otto Budihardo, Ak., MM. (L)
5 Juni Farhan, Dr. (L)
6 Maya Novita, Lc., MA. (P)
7 Muhamadun (L)
Jawa Timur - 06
1 Amin, Ak, MM. (L)
2 Nur Azizah Tamhid, MA. (P)
3 Junef Ismaliyanto (L)
4 H. Muhammad Hamim (L)
5 dr. Susilo (L)
6 Drs. Syamsul Hadi (L)
Jawa Timur - 07
1 Rofi’ Munawar, Lc. (L)
2 NAVIS MURBIYANTO (L)
3 Nuzulia (P)
4 Maryudhi Wahyono (L)
5 Abdul Hakim Syafii (L)
6 Retno Damayanti (P)
7 Saiful Wari, Ir. (L)
Jawa Timur - 08
1 Memed Sosiawan, Ir. (L)
2 Ananto Pratikno (L)
3 Zahrul Azhar, SIp., M Kes (L)
4 Indah Sat Rahmaniati, Drg. (P)
5 Makhsusiati, Dra. (P)
6 Zulhilmi Asad, S.Ag. (L)
7 Nur Aini (P)
Jawa Timur - 09
1 Zakaria Sorga (L)
2 Taridi, MBA. (L)
3 Ningrum Agustina (P)
4 Syamsu Kohar, Ir. MM. (L)
Jawa Timur - 10
1 Aunurrofiq Sholeh T., Lc (L)
2 Ratri Handayani (P)
3 Slamet Wahyudi, SH., MKM (L)
4 Turhan Faqih, Drs., MAg. (L)
5 M. Azhari Hatim, MA (L)
6 Zuhrotin Niskiyah, S.Ag (P)
7 Ahmad Rofi’ Syamsuri (L)

Jawa Timur - 11
1 Sapto Waluyo, Drs, MSc. (L)
2 Budi Hermawan, Ir, Msi. (L)
3 Sri Hidayati (P)
4 Tamar Jaya, Ir.MM (L)
5 Hikmah, MA (L)
6 Amir Faishol Fath, Dr. (L)
Banten - 01
1 Syamsu Hilal (L) Komisi IV (A-256)
2 Oke Setiadi (L)
3 Lilis Mahmudah (P)
4 Yayat Suhartono (L)
5 Emma Ruchaemah (P)
6 Samson Rahman (L)
7 Muhsin Soleh (L)
Banten - 02
1 Zulkiflimansyah (L) Komisi VI (A-276)
2 Sadeli Karim (L)
3 Tini Rahmawati, MA (P)
4 Zaenal Arifin (L)
5 Eti Rusmiati (P)
6 Muhammad Nadjib Soewarno, Ir. (L)
7 Eman Sukirman, S. E. (L)
Banten - 03
1 Yoyoh Yusroh (P) Komisi VIII (A-261)
2 Jazuli Juwaini (L) Komisi II (A-277)
3 Warsito, Dr. (L)
4 Ahmad Aryandra (L)
5 Indra, SH (L)
6 Nurul Hidayati (P)
7 Abu Yasir Kamino (L)
8 Nirwan Nazaruddin (L)
9 Nurul Hurriyah, SKM (L)
10 M. Nasir Abdullah (P)
11 Ajisman, Dr. (L)

Bali - 01 1 Deni Daruri (L)
2 Ismail Lahji, Lc (L)
3 Sri wahyu Pujiani (P)
4 I Gusti Agung Gde Eka (L)
5 Turmudzi (L)
6 Evi Diana Kusumawati (P)
7 Slamet Sugiyono (L)
8 Irianto, SE. (L)
9 Juwita Rarasmaya, SP (P)
10 Mabni Darsi, Lc. (L)
11 Yayuk Herawati (P)

Nusa Tenggara Barat - 01
1 Fahri Hamzah, SE (L) Komisi VI (A-278)
2 Dwi Trijono, SH (L)
3 Istiningsih (P)

Nusa Tenggara Timur - 01
1 Sugeng Susilo, SE,. Ak (L)
2 Zainuddin Paru, S.H. (L)

Nusa Tenggara Timur - 02
1 H. Sulaiman, SKom (L)
2 H. Muhammad (L)
3 Mailan Sari (P)

Kalimantan Barat - 01
1 H. Rahman Amin (L)
2 Abdullah , S.PdI (L)
3 Ir. H.Abdussalam Bambang Mulyono Al Hinduan (L)
4 Ida Jumiati, S.Sos, M.Si (P)
5 Uray Santi (P)
6 Yacub Muhsin, H. SH. MH (L)
7 Joni Tanjung (L)
8 Syarifah Helda Al Haddad, SE (P)
9 Arba’in, SE (L)
10 Ruswati (P)
11 Solehah (P)

Kalimantan Tengah - 01
1 H. Antang Dwi Dasono, Ir (L)
2 Endang Hariyanti (P)
3 Ana Indriani, S.Pd. (P)
4 M. Taufik B. Darus, BBA. (L)

Kalimantan Selatan - 01
1 Aboe Bakar Al Habsyi (L) Komisi V (A-279)
2 Musyaffa Ahmad Rahim (L)
3 Hj. Syarifah Ramadhana (P)
4 DR. Shabran (L)
5 H. Bahrani (L)
6 Hj. Iis (P)
7 Drs. H. Bardiansyah (L)

Kalimantan Selatan - 02
1 Nabiel Fuad Al Musawa, Ir, M.Si . (L)
2 Drs. H. Badrani (L)
3 Hj. Hernawati (P)
4 Drs. H. M. Asy’ari ,MA (L)
5 KH. M. Basyuni (L)
6 Boy Hamidi (L)

Kalimantan Timur - 01
1 Aus Hidayat Nur (L)
2 Ahmad Chudori, ST (L) Komisi V (A-280)
3 Purwinahyu, S.Psi., MM (P)
4 Satya Graha (L)
5 Hj. Herminah Junaid, Lc (P)
6 Nur Laili Puspa, S.Pd., MM (P)

Sulawesi Utara - 01
1 Khalilullah Akhmas, Lc., KH (L)
2 Najmi Puspasari Marasabessy, dr. (P)
3 Muslih Abdul Gani, dr. (L)
4 Jefry Johanes Makalegi, ST (P)
5 Ridwan Olii (L)
6 Marina Limbanadi (P)
7 Irawan Damopolii (L)

Sulawesi Tengah - 01
1. Adhyaksa M.Daulth (L)
2 Akbar Zulfakar (L)
3 Rahmawati Ottoluwa, S.Sos (P)
4 Abdul Haris N. Baginda (L)
5 Hj. Syifa Abd. Rauf Sulaeman (P)
6 H. Hasan Bastari, BBA (L)

Sulawesi Selatan - 01
1 M. Anis Matta, Lc. (L) Komisi I (A-251)
2 Muhammad Ihsan, S.Ag (L)
3 Ismayati (P)
4 Halim A. Razak, Drs. (L)
5 Andi Maddusila Andi Ijo (L)
6 Defty Rezkiwati Ande Latief (P)
7 Asmin Amin (L)
8 Tajuddin Noer, Drs (L)
9 Sri Handini Chrisagiati (P)
10 Ahmad Maulana Dg Emba, SE. (L)

Sulawesi Selatan - 02
1 Tamsil Linrung (L) Komisi IV (A-281)
2 Cahyadi Takariawan, Apt. (L)
3 Fadliyah Syamsuddin, Dra. (P)
4 Mubyl Handaling, Ir (L)
5 M. Nadjib Bustan, Prof. (L)
6 Kasma F. Amin, SS. (P)
7 Andi Baso Abdullah (L)
8 Muhammd Nasyit Umar, H. Ir. MM. (L)
9 Hj. Munarti Ismail Paroki, SE. (P)
10 M. Yahya Rasyid, MH. (L)
11 Muzakkir (P)

Sulawesi Selatan - 03
1 Andi Rahmat, SE (L) Komisi XI (A-282)
2 Muzakkir Arif, MA. (L)
3 Irmawati Tahir (P)
4 Bachder Djohan, Ir., MM (L)
5 Iskandar Pasadjo (L)
6 H. Salmiyah, SH (P)
7 Syahrir (L)
8 Niswaty (P)

Sulawesi Tenggara - 01
1 H. Yan Herizal, SE. (L)
2 La Mpasa, Drs (P)
3 Anaway Irianti (L)
4 Hawaera (P)
5 Suryadi (L)
6 Waode Hasriyanti (P)

Gorontalo - 01
1 Habib Fahmi Alaydrus, Drs., Psi., M.Ed. (L)
2 Suprisno Baderan (L)
3 Marleni Limonu, SP., M.Si. (P)
4 Asep Teguh Firmansyah, SKM (L)

Sulawesi Barat - 01
1 Said Saggaf, Drs (L)
2 Tajuddin Usman, S.Ag (L)
3 St. Aisyah Sinring, Ir. (P)
4 Supriyadi (L)

Maluku - 01
1 Abdul Aziz Arbi (L) Komisi III (A-283)
2 Gamar Wakano, SAg. (P)
3 Abdurrahman, SPd. (L)
4 Sumiyati T. Marwut, SE. (P)
5 Abdurrahman Makatita, Lc. (L)

Maluku Utara - 01
1 Kusnandar Prijadi Kusuma (L)
2 Muslim Abdullah, MA (L)
3 Achlana Bahmid (L)

Papua Barat - 01
1 Muammar Khadafi Bauw (L)
2 Ade Chalifah M. S.Sos.I (L)
3 Nurhaya Djafar, SPt (P)
4 Ir. M. Zain Wajo (L)

Papua - 01
1 H. M.K. Renwarin (L)
2 Aidil Heryana (L)
3 Erni O. Rumbekwan (P)
4 Fahmi Islam Jiwanto (L)
5 Rahadi Mantikno (L)
6 Bekti Nur Ayomi (P)
7 M. Muzakir Asso (L)
8 Tatik Nuryanti (P)
9 Sumini (P)
10 Andi Wahab (L)
11 Hasnah Askari (P)

Bukan Karena Kita Menang Pemilu (Saja) Maka Kita Memimpin

June 3rd, 2008 by anismatta

 

 

Bismillahirrahmanirrahim.Uhayyikum jamian bitahiyyatil islam

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ikhwah sekalian

Alhamdulillah
siang hari ini kita bertemu kembali, dan pada kesempatan ini saya akan
mencoba share pada antum semua mengenai gagasan atau ide-ide besar di
TPPN ini.

Ikhwah
sekalian, saya ingin memulai–saya tidak memakai in focus karena saya
mau menulis (di whiteboard)–ke persoalan inti kita sebagai harakah.
Persoalan inti kita sebagai harakah ini ada dua (waktu kita mulai masuk
ke demokrasi, bikin partai dan mau memimpin negara) :

1. Persoalan yang fundamental.

2. Persoalan yang bersifat teknis.

Persoalan yang fundamental itu adalah menyangkut masalah leverage to lead sedangkan persoalan yang menyangkut teknis itu adalah strategy to win.

Jadi yang masalah leverage to lead itu adalah menyangkut syurutul qiyadah
(syarat-syarat kepemimpinan) yang dituntut kepada kita, atau
kualitas-kualitas yang diperlukan jika kita ingin memimpin Negara.
Sedangkan yang teknis itu adalah bagaimana memenangkan pemilu. Yang dua
ini bisa berjalan seiring, bisa juga tidak. Contoh yang tidak seiring
itu misalnya PKB : sempat punya presiden, tapi cuma bertahan 21 bulan,
setelah itu selesai. Bisa disebut partai bisa juga tidak, tapi ICMI itu
adalah satu kendaraan besar bagi Habibie, diluar golkar, tapi nyatanya
Habibie cuma bertahan 18 bulan. Begitu juga PDIP, justru ketika
terdzalimi suaranya naik 34%, ketika berkuasa suaranya menurun menjadi
19%.

Jadi
bukan karena kita menang pemilu maka kita memimpin. Itu harus kita
bedakan. Bukan karena kita menang pemilu maka kita memimpin, pemimpin
itu adalah leverage.

Kenapa kita ingin memimpin, ikhwah sekalian?? Karena  insdustri kita ini (industri kita sebagai harakah) adalah sina’atul hayah
-seperti yang sudah-sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya tidak tahu,
bukunya sudah diterjemahkan atau belum?? Ini penting antum baca buku
ini, (live making, sina’atul hayah), bukunya Abu Ammar, Muhammad
Al-Rasyid. Jadi, oleh karena itu kita mempunyai tugas merekonstruksi
kembali kehidupan kita secara keseluruhan. Dan untuk menjalankan fungsi
besar ini kita membutuhkan instrumen yang juga besar, instrumen itu
namanya kekuasaan, negara. Kenapa kita butuh Negara ikhwah sekalian??
Karena sekarang kita hidup di era institusi, dan institusi yang paling
besar di dunia ini -setidak-tidak dalam waktu 500 tahun terakhir ini-
adalah Negara. Tidak ada organisasi paling besar selain negara dalam
500 tahun terakhir.Walaupun organisasi ini(Negara) dalam beberapa tahun
ke depan, juga sedang menghadapi persoalan yang sangat eksistensial.

Saya
menganjurkan –karena Antum yang banyak yang bisa bahasa Inggris
disini-, membaca buku yang ditulis oleh Peter R. Gardner: “Managing The
Next Society”, disini ada pembahasan yang menarik kaitannya dengan
posisi yang namanya “Nation State”, Negara bangsa itu, dalam era
globalisasi, sejauh mana akan survive dimasa mendatang; baik karena
pengaruh perkembangan teknologi maupun karena pengaruh rasionalitas
ekonomi. Jadi kita membutuhkan instrumen besar itu, kalau kita ingin
memimpin. Sampai disini kita tidak punya perdebatan. Perdebatan kita
adalah tentang kapasitas apa yang diperlukan untuk mengelola itu semua.
Itulah kepemimpinan. Dan inilah yang kita inginkan. Oleh karena itu
persoalan fundamental ini harus kita pisahkan dulu dari persoalan yang
tekhnis, tentang bagaimana memenangkan pemilu. Sebab persoalan
memenangkan pemilu itu mostly adalah persoalan komunikasi.,  Fi muhzamihi, ahya itu adalah pada masalah komunikasi.

Image
waktu kita muncul pertama kali dengan membawa citra bahwa PKS itu
adalah partai yang besih dan peduli pada rakyat. Di image ini terserap
dan memberikan kita ruang yang besar di tengah masyarakat, tapi waktu
kita masuk dalam pemerintahan kita tidak perform. Jadi strategy to win itu adalah persoalan how to send, tetapi persoalan Leverage to win itu adalah persoalan how to deliver
bagaimana mendelivery ide-ide itu menjadi suatu kenyataan. Dan itu
membutuhkan kualitas tertentu dari kita. Tidak sesederhana yang kita
bayangkan.

Kalau
antum lihat, ikhwah sekalian, dalam literatur-literatur ikhwan -saya
ini senang buka ini karena antum orang kaderisasi-, setidak-tidaknya
dalam 20 tahun terakhir ini, persoalan inilah yang tidak terbahas
secara mendetil. Sebagian besar literature-literatur pemikiran politik
ikhwan itu masih ada dilevel menyelesaikan terminologi. Kalau antum
baca bukunya Yusuf Qordhowi tentang fiqh daulah itu semuanya
menyelesaikan masalah persoalan-persoalan basic/mafahim: Apa sikap kita
terhadap demokrasi. Apa posisi perempuan dalam percaturan politik. Apa
sikap kita terhadap ta’addudul ahzab. System multi partai. Apa sikap
kita tentang tahaluf (aliansi) politik, kita baru
menyelesaikan perkara-perkara terminologi. Dan itupun perdebatannya
panjang. Kalau antum lihat buku yang ditulis oleh DR. Abul Hamid
Al-Ghazali, judulnya : “Asasiyat masyru al-islam” itu belum keluar dari kerangka itu semua.

Jadi harakah islamiyah secara keseluruhannya, belum keluar dari persoalan-persoalan fikriyah
itu tadi, kepada persoalan-persoalan strategis. Persoalan-persoalan
strategis dalam pengertian bagaimana kita perform sebagai sebuah
eksistensi; baik sebagai harakah nanti maupun sebagai daulah. Itu yang
belum terbahas.

Tapi
disini ada bias besar dan ini harus kita waspadai dari awal. Bahwa
instrumen Negara atau kekuasaan yang perlukan ini pada akhirnya
tetaplah sebagai wasilah. Kenapa ikhwah sekalian? Karena kesejahteraan
itu bukanlah tujuan. Keadilan itu juga bukanlah tujuan. Tetapi
(keduanya adalah) sesuatu yang diperlukan oleh manusia, supaya naik ke
level kebutuhan yang lebih spiritual, setelah persoalan-persoalan basic
dia sebagai manusia selesai. Artinya ini apa? Manusia lebih kondusif
secara spiritual untuk taat beragama ketika dia tidak lagi memikirkan
persoalan fisik yang basic: persoalan makannya selesai, persoalan
minumnya selesai, pakaiannya selesai, tempat tinggalnya selesai,
kesehatannya selesai. Begitu ini semua selesai, pada umumnya,
–sekalipun tidak selalu begitu,karena kadang-kadang dalam keadaan
miskin orang lebih dekat kepada Tuhan–kebutuhan spiritual itu muncul
lebih beragam, lebih natural munculnya. Nah oleh karena itu kita perlu
menghilangkan hambatan-hambatan itu semua, yang disebut dengan mawaniut tadayyun, hambatan-hambatan seseorang untuk menjadi religius. Rasulullah saw mengatakan: “Kaadal faqru anyakuna kufran”.
Jumlah orang miskin yang lari ke masjid dibanding yang lari jadi
pengemis, jadi pelacur atau yang lari jadi perampok, lebih banyak yang
mana?? Artinya (bila) manusia-manusia itu dalam kondisi fisik tertekan
pilihan-pilihannya itu banyak, antara positif dan negatif, tetapi
umumnya mereka itu lebih cenderung memilih yang negatif, karena efek
keterpaksaan itu tadi. Tetapi ketika orang itu kaya, pilihannya juga
sama banyaknya dengan orang yang miskin, pilihan positif dan negatif,
tapi orang kan biasanya yang kaya kalau dia bergerak dari awal,
katakanlah dia kaya diumur 50 tahun, pada waktu fikiran tentang
kematian sudah bermunculan, terus menerus itu. Disitulah adilnya Tuhan,
disitu adilnya Allah, kita dikasih itu, dia dikasih kekayaan last minute. Dia dikasih kesempatan untuk menyaksikan hasil kerjanya tetapi tidak dikasih kesempatan untuk menikmatinya.

Nah,
oleh karena itu orang di tingkat seperti itu cenderung lebih
spiritualis dengan sendirinya. Alam yang mengantarkan dia kesitu,
begitu juga kita. Karena itu pemikiran itu harus lurus, supaya kita
tidak bias, kita membutuhkan instrumen ini untuk menghilangkan seluruh mawaniut tadayyun dalam diri manusia.

Ada pembasahan tentang ini bagus antum baca di bukunya Abbas Mahmud Al-Aqod, tentang Abu Bakar As-Shiddiq, Abaqoriyatu Abu Bakar As-Shiddiq. Dibuku ini dibagian awal ada pembahasan tentang mawaniul islam,
mengapa Abu Bakar itu berada dilevel nomor satu, dibahas dulu dengan
pertanyaan terbalik. Apa sih hambatan orang itu untuk berislam? Apa
hambatan orang berislam? Apa entry barrier orang berislam? Waktu dia bahas ini, dia jelaskan bahwa semua mawani’ ini, tidak ada dalam diri Abu Bakar, misalnya al-kibriya, itu tidak ada dalam diri Abu Bakar, dia berhasil melampaui itu semua.

Jadi fungsi kekuasaan yang kita cari ini adalah menghilangkan hambatan ini, itu persis juga dengan jihad fi sabilillah.
Jadi ketika kita melakukan ekspansi pada suatu Negara, kita tidak ingin
menundukkan orang dengan senjata, tetapi ingin menghilangkan mawaniu tadayyun yang salah satunya adalah at-thowagit. Thagut-thagut ini mencegah orang untuk beragama. Makanya rasul mengatakan: “Annasu ala diini mulukihim”. Jadi kalau para muluk ini dihilangkan maka mawaniu tadaayun itu hilang, orang diberi kebebasan. Jadi waktu kita menguasai satu wilayah, kita kooptasi
satu wilayah, setelah kita menaklukkan pasukannya, tidak dengan
sendirinya semua orang harus masuk islam. Itu tidak. Tujuan kita adalah
menghilangkan mawaniul tadayyun, mawaniul  islam,
apa hambatan orang kepada itu, kalau semuanya ini semua hilang, orang
belum masuk islam juga, itu sudah bukan tanggung jawab kita. Baru saat
itu kita bisa bilang “Ala hal balaghtu” iya kan..ini antum perhatikan.. ini clear yah..!!

Kalau ini selesai kita masuk pada persoalan leverage to win..

(Ada komentar: bukan masalah clearnya, tapi yang menjadi inhiraf itu apa?).

Dijawab : Masalah inhiraf
itu terjadi di semua marhalah, bisa jadi karena pembelotan, misalnya
begini: waktu kita berkuasa seperti itu, bisa jadi pembelokan,
sebenarnya pembelokannya bisa dengan sederhana, waktu sarana menjadi
tujuan, secara real itu tidak akan keluar dari itu semuanya, waktu kita
mulai berfikir, bahwa kekuasaan ini adalah tujuan. Karena itu ukuran
sukses kita adalah pertumbuhan ekonomi, tidak, itu ukuran sukses
dipermukaan, tapi ukuran hakikinya sebarapa banyak orang menjadi
beragama, dengan semua kesejahteraan itu.

Makanya
saya menyebutkan waktu di cibubur, bahwa cita-cita kita itu ada tiga :
satu politik, yang kedua dakwah yang ketiga peradaban. Yang politik ini
adalah memecahkan rekor partai-partai islam, mendapatkan satu share
politik yang berwibawa; 20 %.

Jadi, karena itu share
kita secara dakwah, kalau ditahapan ini, ditingkat ideologi ini, jika
kita sudah berhasil mengembangkan, menjadikan Islam ini menjadi pilihan
publik, baru kita menang secara dakwah, dan itu dibuktikan dalam bentuk
share partai-partai Islam secara keseluruhan. Bisakah
sewaktu-waktu partai-partai islam itu share, menimal 60 %, digabung
jadi satu, sekarangkan maksimum yang pernah ada dalam sejarah
Indonesia, cuma 45%, turun-turun jadi 38 %. Jadi secara politik kita
bisa menang, makanya saya debat waktu itu dengan mas Tamim, apakah PKS
bisa lebih besar dari Masyumi..? Bukan. Persoalan kita bukan disitu..
Masyumi menang 20 %, benar, Nasir jadi perdana menteri jelas, tapi
setelah itu masyumi kemana? Dan kenapa PNI yang masih punya pengikut
yang lebih banyak? Dan kenapa PBB waktu mengklaim diri sebagai pewaris
Masyumi ternyata, tetap saja akhirnya habis.

Jadi
kita tidak bisa tentang angka-angka politik. Kita bicara tentang
perimbangan kekuatan. Ini bukan angka tentang 20 %, tetapi ini
persoalan tentang “Man yaqudu al-mantiqoh” (siapa yang memimpin Negara),  “man yaqudu daulah
(siapa yang memimpin negeri ini), siapa yang menggaet masyarakat secara
keseluruhan. Kenapa ada banyak orang dinegeri ini, begitu PKS muncul,
tiba-tiba mereka datang dengan; ide pancasila dan NKRI final, padahal
keduanya juga tidak ada yang pertentangan dengan Islam. Tapi sesuatu
yang harus kita fahami disini bahwa; ini ada pengaruh yang luar biasa,
begitu substansialnya dalam mengarahkan dan membentuk idologi public.
Ini celar yah?? Wadih.

Sekarang tentang reference to lead.
Apa yang kita perlukan untuk memimpin? Reference apa yang kita
perlukan? Sekarang saya mau ceritakan dulu sedikit, langkah realitas
kita apa.

Kita
ini jarang mempunyai kesadaran geografis. Tentang Indonesia. Orang
pertama di negeri ini yang memberikan wawasan geografis dan juga
kesadaran seperti namanya Gajah Mada. Kita baru punya satu kesadaran
tentang satu eksistensi geografis yang namanya nusantara itu karena
Gajah Mada. Tapi karena kita tidak membaca sesuatu tentang Gajah Mada
umumnya kita tidak punya al-wa’yul geografi. Padahal unsur utama dalam peradaban itu adalah turab/tanah/wilayah/teritori. Ada bagusnya antum membaca buku yang ditulis oleh Malik bin Nabi, judulnya “Miladul mujtama” (Kelahiran sebuah masyarakat), dan yang kedua “Wijhatul alam islami”, setahu saya buku ini sudah diterjemahkan (Dunia baru islam). Unsur hardwarenya yang namanya peradaban itu tiga : al-ard/at-turab,wazzaman, wal insan, (tanah, waktu dan manusia). Quran ini kan software.

Kalau
Antum lihat lagi dalam sejarah Indonesia. Waktu imperialis datang ke
Indonesia. Perjuangan itu sifatnya kedaerahan. Zamannya Imam Bonjol,
Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cut Nya Dien, Pattimura dan seterusnya.
Tapi kemudian muncul yang namanya kegelisahan politik, bahwa perlu ada
pola baru dalam yang namanya perjuangan, yang menggabungkan kesadaran
geografis ini dengan kesadaran politik, itulah namanya Budi Utomo
dengan Syarekat Islam. Tetapi ini kemudian menjadi kesadaran yang
konteknya lebih kuat lagi, setelah era Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda
kalau antum lihat : Satu Bangsa, Satu Bahasa dan Satu Tanah Air. Itu
gabungan antara kesadaran geografis, kesadaran teritorial, kesadaran
sosiologis, bahasa. Indoneisa ini kan punya 300 suku dan 300 bahasa.
Dan dipilihnya Bahasa Indonesia itu sebagai bahasa, karena lebih
sederhana dan lebih demokratis dibanding bahasa lain. Kenapa bukan
Bahasa Jawa yang dipilih sebagai Bahasa Nasional.

Ada buku bagus yang boleh dibaca judulnya Collaps, disitu ada sedikit kisah tentang Polenesia “How China become Chinese” disitu, dipembahasan akhirnya ditulis tentang polenesia.

Jadi
Sumpah Pemuda itukan menggerakkan, menyatakan diri sebagai satu
kesatuan yang utuh tetapi kontennya juga dibuat; ada geografisnya, ada
teritorinya, ada bahasanya, dan juga konten politiknya yang namanya
bangsa. Jadi karena bobotnya itulah sumpah pemuda itu menjadi satu
moment yang sangat historis dalam sejarah Indonesia. Sejarah
pembentukan al-wa’yul wathani, dinegeri kita itu antum lihat
proses sejarah itu begitu, karena itu jarak antara sumpah pemuda dengan
tahun 45 itu begitu menjadi lebih dekat. Soekarno datang itu, diatas
situasi yang sangat menguntungkan, karena dia melanjutkan proses itu.
Tapi soekarno itu, punya kesadaran yang mendalam tentang teritori yang
namanya Indonesia ini. Dan juga punya kesadaran tentang struktur
sosiologis tentang masyarakat Indonesia. Kalau antum baca buku “Bung
Karno Menyambung Lidah Rakyat”. Tsaqofah ini sudah harus antum miliki
semuanya ikhwah sekalian. Supaya jangan ada yang mengatakan, bahwa PKS
itu lebih hafal Sirah Nabawiyah daripada sejarah Negara Indonesia.

Soekarno menyadari yang namanya gagasan Megalomania dari Gajah Mada, dari gagasan yang namanya Nusantara itu, yang include
sebenarnya Malaysia, Brunei dan Singapore. Itu satu kawasan, itu benar
itu. Seharusnya kita berfirkirnya begitu, itu yang namanya wawasan
teritori yang matang. Tapi kita ini umumnya itu tidak mempunyai
kesadaran territorial yang bagus. Negeri ini ikhwah sekalian,
penduduknya 230 juta sekarang, sama dengan total penduduk 22 negara
arab kalau dikumpul jadi satu. Jumlah penduduk dunia zaman Rasulullah
hidup, itu kurang dari setengahnya dari penduduk Indonesia hari ini.

Zaman
Rasulullah hidup itu penduduk dunia 100 juta orang, total. Umat islam
zaman Rasulullah itu yang masuk islam, yang ikut hajatul wada itu hanya
100 ribu, sekitar 125 ribu di Rahiqil Makhtum itu disebutkan, antara
itu. Jadi satu permil. Jadi kalau antum memimpin 230 juta, antum bisa
membayangkan, itu lebih besar dari dunia zaman Rasulullah hidup.

Kita
tidak menyadari kadang-kadang. Dan ini Negara keempat terbesar di
dunia, setelah Chna, India dan Amerika. Tiga Negara ini sekarang
menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Dan semua persyaratan yang
dimiliki Indonesia ini, persyaratan untuk menjadi kekuatan ekonomi baru
juga ada di negeri ini. Matahari ada gratis, tdiak semua Negara di
dunia ini dapat jatah matahari sepanjang tahun, energi. Hujan, inilah
lucunya Indonesia, bisa menyatu itu barang, air kan. Dan dua pertiga
dari wilayah kita ini air. 6 juta KM2 negara Indonesia itu, 4 jutanya
perairan. Dahsyat benar.

Jumlah manusianya, banyaknya ampun-ampun. Apalagi yang kita perlukan?? Sumber daya, semuanya ada. Jadi yang namanya syurutul hadlarah (syarat-syarat peradaban);  al-turab, wazzaman, wal insan,
itu semuanya ada. A Power semuanya ada. Jadi kita tidak punya alasan
untuk menjadi tidak sejahtera. dan di dunia islam, kita Negara Islam No
1. Tetapi inilah Negara islam terbesar yang selama ini tidak pernah
menjadi “The big brother”.  Kita tidak pernah dianggap di dunia islam itu sebagai The big brother.

Malaysia
sekarang, itu maksimum kemajuannya. Penduduknya cuma 20-26 juta,
diputar-putar kaya apa pertumbuhan ekonominya, sudah skala maksimumnya
seperti itu. Singapore skala maksimum, sudah segitu. Tidak akan lebih
dari itu. Makanya Singapore sekarang ini, berusaha bersaing
berinvestasi di negara-negara jiran sebanyak-banyaknya. Dia sudah
berlebihan. Hanya dengan itu caranya kalau dia mau jadi besar. Tapi ini
rentan, yang begini-begini rentan, jika ada perang bahaya, hilang itu
semua barabg. Jadi potensi pertumbuhan Negara jiran itu demikian.

Tapi
coba antum lihat cina, semuanya juga ada disana. India semuanya juga
ada disana. Itulah bedanya Singapore kan, bedanya antara mini market
dan hypermarket. Sebanyak-banyaknya pengunjung mini market, ya tetap
saja mini market. Ini masalahnya hypermarketnya yang sepi.

Jadi
kita musti faham dulu Negara yang kita mau pimpin ini adalah Negara
yang sangat besar, Negara benua. Jadi kita yang ditakdirkan hidup di
negara ini sebenarnya, itu sama saja- kalau kita merujuk pada la yukallifullahu nafsan illa wus’aha-,
mafhum mukhalafahnya itu kan adalah bahwa semua beban yang diberikan
kepada kita, itu artinya kita punya kemampuan untuk memikulnya. Makanya
teori sejarah itu ada yang namanya teori “at-tahaddi wal istijabahchallenge anda respon. Sumber dinamika sejarah itu dari situ, dan Allah memberikan kita itu, challenge (tantangan). Karena, itu diperlukan untuk menghidupkan adrenalin.
Tapi Allah tidak memberikan tantangan kepada kita melebihi kemampuan
yang kita miliki, dibikin impas. Allah tidak kasih kita roti langsung.
Dikasih tanah, dikasih air, kita tanam. Coba kalau kita disuruh
menciptakan tanah, itu diluar kemampuan kita. Disuruh menurunkan hujan,
diluar kemampuan kita, kita bisa bikin irigasi. Tapi kalau hujan tidak
turun sama sekali, kan irigasinya kering juga. Jadi ada hal-hal yang
diselesaikan oleh Allah sendiri. Tapi ada hal-hal yang disisakan untuk
kita. Yang disisakan itu, diberikan, dibebankan sesuai dengan kemampuan
akal kita untuk menyelesaikannya. Disitulah nilai at-tahaddi,
tantangannya, challengenya. Karena sesuai dengan kemampuannya. Nah,
kalau kita hidup di negara sebesar Indonesia ini artinya kita semua
mempunyai kemampuan di dalam diri kita baik sebagai individu maupun
sebagai bangsa dan termasuk juga sebagai harakah bahwa kita bisa
memimpin negeri yang besar ini. Kenapa tidak ditakdirkan hidup di
dubai?? Dikasih yang besar sekalian, tapi supaya punya pikiran ini
dulu..!! Fikiran sebagai bangsa besar, fikrian sebagai penduduk yang
berasal dari sebuah negara besar. Itu dulu. Teritorialnya besar, sumber
dayanya besar. Karena itu diperlukan pemimpn besar. Dan itu belum
pernah ada di negeri ini.

Inilah sebuah pendahuluan dan setelah kita itu baru kita masuk ke persoalan setelah kita memahami realitas ktia…

Setelah
kita merdeka, ikhwah sekalian. Dimasa Soekarno, dan Soekarno datang
dengan isu revolusi itu. Kita menghabiskan waktu 20 tahun pertama untuk
konflik ideology. Antum lihat sejarah Soekarno itu adalah sejarah
konflik. Sebagian dari konflik itu berujung darah. Konflik segitiga
antara islam, nasionalis dan komunis, semuanya menggunakan kekerasan
pada akhirnya. wujud politk islam itu ada pada Masyumi tapi wujud
tentaranya, kekerasaannya ada pada DI. Di komunis, pada mulanya
perjuangan ideology, kebudayaan dan seterusnya, tapi ujungnya juga
menggunakan pendekatan kekerasan. Makanya melakukan beberapa kali
kudeta yang terkahir terjadi di madiun pada tahun 65. Satu polanya
gerilya, satu polanya kudeta militer. Tapi kaum nasionalis yang
kemudian menang, diwakili tentaara. Tapi ujungnya antum lihat, sejarah
kita itu, 20 tahun pertama itu sejarahnya konflik. Berdarah-darah 20
tahun pertama.

Kita
tidak tahu berapa orang yang dibunuh oleh komunis dan berapa orang
komunis yang dibunuh oleh Orde Baru. Sama juga bedapa banyak DI yang
dibunuh oleh tentara Orde Baru, dan berapa banyak tentara Indonesia
yang dibunuh oleh DI. Tetapi faktanya kita hari ini, satu tanah bangsa,
satu tanah air dan satu bahasa, tapi (konflik) 20 tahun pertama. Ini
adalah era dimana ada demokrasi tetapi tidak ada kesejahteraan. Karena
itu collaps.

Orde
Baru datang dan membuat penyederhanaan, konflik ini kita akhiri, tidak
ada konflik ideologi, tidak ada politik, kita butuh stabilitas, karena
itu tentara diperkuat partai-partai disederhanakan, pembangunan kita
lakukan, investasi luar kita datangkan, masyarakat kita didik, semua
yang beraliran digabung jadi satu. PPP, islam, simbolnya satu. Yang
kiri-kiri dan PKI, (nasionalnya) digabung menjadi satu PDI. Nah, baru
dimunculkan alternative ketiga namanya GOLKAR, tidak disebut partai
karya, disebut golongan karya artinya jamaatul amal. Inikan, yang lain kerjanya bertengkar, kita bekerja.

Tapi ternyata itu ikhwah sekalian.

30
tahun kemudian, diatas semua kebaikan Orde Baru kepada kita. Kita
inikan produk Orde Baru semua, Saya lahir tahun 68, pas awal tahun Orde
Baru membangun. Kita yang menikmati semua pendidikan yang baik yang
tidak ada pada Orde Lama. Setelah kita menikmati semua kebaikan Orde
Baru ini. Orde Baru ini kita akhiri. Karena Orde ini memberikan kita
kesejahteraan tapi tidak memberikan kita kebebasan. Padahal kebebasan
dan kesejahteraan, itu dua-duanya adalah hajat manusia. Jadi Orde Baru
itu adalah era kesejahteraan tanpa demokrasi. Dan sekarang Malasyisa
sedang menghadapi ini, pada beberapa waktu ke depan Malaysia akan masuk
era 97 nya Indonesia.

Kita
perlu bebas bicara, sama persis kita juga perlu makan. Sama persis 10
tahun setelah reformasi. Seteleh kita sangat bebas bicara ternyata
makan kita tidak terlalu bagus. Makanya dalam survey kemudian
menyatakan, ternyata masyarakat lebih memilih Soeharto dan merupakan
presiden yang paling disukai dari semua presiden. Yang kedua soekarno.
Makanya kalau reformasi ini tidak merupakan kesinambungan pada
periode-periode sebelumnya. Maka reformasi ini pasti gagal, collaps,
kita sebagai masyarakat bisa collaps, sebagai negara juga bisa collaps.

Kenapa ikhwah sekalian? Karena kalau ini sustainable secara historis, seharusnya reformasi itu bukanlah antitesa terhadap Orde Baru, Sebab kesejahteraan pada Orde Baru itu tidak perlu kita hapus, yang kita mau hapus itu adalah dictatorshipnya.
Dan itu sudah kita lakukan, dengan megeluarkan tentara dari percaturan
politik. Pilar-pilar utama yang menyangga Orde Baru waktu itu kan ada
tiga; Tentara, Golkar, Konglomerat. Di politisi sama birokrat kita
masukan disini, di Golkar, karena politisi dan golkar itu satu paket.
Tapi sekarang coba antum lihat.. !! Tentara sudah dikeluarkan dari
percaturan Negara, Orde Baru hancur dan pilar-pillarnya kita gerogoti.
Dan Golkar dari 76% suaranya pada tahun 97 (pemilu pada tahun 97) suara
itu turun menjadi 20 %, pada tahun 99 terdiskon langsung kekuatannya.
Sekarang senaik-naiknya dia tidak akan lebih dari 30, itupun rasanya
tidak akan naik dari 25 ditahun 2009 nanti.

Diskonnya,
karena tentara sudah tereliminasi, keluar dari percaturan politik. Tapi
pengusaha. 10 tahun terakhir ini, ada ga pengusaha yang lahir diluar
dari pengusaha yang sudah eksis?. Kita memang bisa mengganggu
eksistensi para konglemarat Orde Baru. Semuanya bisa kita ganggu. Tapi
faktanya sebagaimana yang pelajari dalam kaidah dakwah itu “Alhadamu daiman ashalu minal bina
(menghancurkan itu selalu lebih mudah daripada membangun). Orde Baru
pergi, tapi para jaringan konglomeratnya ternyata tidak pergi-pergi.
Dia menguasai panggungnya sendiri. Dan tidak ada panggung baru
dipanggung itu, Tidak ada dari daftar yang kaya di indonseia ini, ada
yang keluar dari daftar yang kaya sebelum-seblumnya?? Kan itu-itu juga
kan. Bakrie besar dimana?, Arifin Panigoro, Jarum, Sampoena, Salim
semuanya besar di Orde Baru. pasar itu adalah teritori sendiri.

Jadi
sementara TNI terdemorelisasi begitu dahsyat, Golkar terdiskon begitu
besar. Pasar, itu tidak terdistorsi sama sekali. Dan 10 tahun setelah
era reformasi ini, ga ada perubahan. Tetapi yang menarik dari era
reformasi ini adalah system politik. Inilah sisi yang kita ambil dari
Orde Lama, demokraasinya. Tapi dari sisi kesejahteraan yang belum kita
ambil dari Orde Baru. Seharusnya era ini adalah era sintesa, antara
Orde Lama dan Orde Baru, kita membutuhkan kebebasan. Tetapi seperti
kata Thomas Jefferson : “Demokrasi itu memuaskan hati masyarakat tapi
tidak menyelesaikan persoalan mereka”. Karena itu cita-cita persoalan
Indonesia ke depan adalah persoalan menemukan titik equilibrium maksimum,
titik keseimbangan maksimum antara demokrasi dan kesejahteraan. Itu
persoalan Indonesia ke depan. Nah sekarang didalam situasi peta seperti
ini ada tiga panggung yang eksis sekarang. Panggung utama ini yang
sering saya sebut dengan segi tiga kekuasaan: Yang satu namanya Negara.
Yang satu lagi namanya civil society, (dan) yang satu lagi namanya
pasar atau market.

Jadi ikhwah sekalian…

Negara
ini, tidak lagi berdiri sendiri, walaupun ia adalah organisasi terbesar
yang mengatur ini (civil society) dan mengatur ini (market). Tapi
otoritasnya itu dan kapasitasnya tidak selalu besar. Karena pasar ini
juga tidak berdiri sendiri.

Lebih
berkuasa mana dalam mengatur pasar, Negara RI dalam hal ini menteri
keuangan atau WTO?? WTO. Jadi ada organisasi diatas Negara, yang
mengatur Negara-negara itu. Begitu juga civil society. Pada akhir
90-an. Setiap tahunnya ada 3 milyar orang yang naik pesawat dalam
catatan Newsweek. Sekarang kan lebih banyak. Apalagi di era
tranportasi murah sekarang itu, Sekarang lebih banyak orang. Artinya
apa? Ini artinya antum setuju atau tidak ini adalah era borderless terri.
Gak ada lagi batasan dari segi jarak. Tapi telekomunikasi itu
menghilangkan jarak waktu. dan 5 atau 10 tahun yang akan datang, tren
telekomunikasi itu nanti, ikhwah sekalian..!! Ini menurut ahlinya, saya
konsultasi dan ngobrol-ngobrol; nanti pembicaraan lokal dan
internasioanal itu akan sama. dan provider telekomunikasi, perusahaan
seluler sekarang itu akan mulai turun. Sama semuanya itu. Sekarang
sudah mulai sebenarnya. Jadi antum bisa membayangkan negara tidak bisa
membatasi lagi orang saling berkomunikasi. Pelan-pelan nanti
transaksi-transaksi pasar itu seluruhnya akan dilakukan melalui
internet. Dan sekarang bagaimana caranya pemerintah mengambil pajak
dari transaksi di internet.

Civil
society, itu artinya apa ikhwah sekalian.. Ada kejadian-kejadian kecil
yang terjadi disini itu kedengaran secara global, contohnya pembunuhan
Munir, bunyi suaranya sampai ke PBB, sampai ke Kongres Amerika itu.
Capee.. aja pemerintah menjawab pertanyaan. Itu civil society..

Oleh
karena itu ikhwah sekalian, jika kita hanya tumbuh kesini (Negara),
tidak menguasai ini dengan baik (civil society) atau tidak menguasai
ini dengan baik (market) kita tidak bisa mengendalikan hidup. Inilah
tiga distribusi kekuasaan utama, tiga kekuatan utama di Negara kita.
Bagaimana kekuatan pengaruh antara masing-masing ini? Itu tergantung
dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu periode ke periode
yang lain.

Waktu
di TPPN ada yang mempertentangkan DR. shohibul iman tentang, ya kalau
kita baca teori Soros, market memang lebih berdaya dari pada Negara.
Tapi kalau kita baca teori yang lain negara kan regulator. Tapi kuatnya
atau tidaknya negara itu tergantung siapa yang punya asset paling
banyak. Iya kan…?! Jadi kita tidak bisa mengatakan mana lebih kuat
market atau Negara…?! Ada waktu tertentu Negara lebih kuat, dan ada
waktu tertentu ini (market) lebih kuat, ganti-gantian aja itu. Tetapi
kalau kita ingin berkuasa kita mesti punya share kekuatan pada tiga
komponen ini. Oleh karena itu PKS harus ada disini (ditengah).
Distribusi kekuatan kita itu harus ada di tiga kekuatan ini. Kalau Cuma
disini (negara) sedikit. Disini itu (negara), pelaku utamanya ada tiga
; Politisi, Birokrat dan Militer. Disini (civil society) pelaku
utamanya kita sebut dengan informal leader. Informal leader itu bermacam-macam; budayawan, artis. Antum  suka atau tidak suka artis itu informal leader.
Suka atau tidak suka itu. Dia datang orang ikut. Antum boleh punya
janggut sepanjang-pangjangnya, sesoleh-solehnya itu belum tentu informal leader, tapi artis, suka atau tidak suka informal leader,
dia datang orang datang, dia goyang orang goyang. Jangankan itu
Presiden pun ikut bikin lagu pula itu, ya ikut jadi artis lah. Setelah
gagal jadi negarawan. Ini era bintang. Pemain bola jadi bintang.

Disini (civil) ada media sebagai infrastruktur yang paling kuat. Terutama TV. Pimpinan ormas itu informal leader. Ada masanya sendiri, pemikir, akademisi, pimpinan kampus dan seterusnya itu informal leader. Orang-orang yang punya pengaruh di tengah masyarakat, kita sebut sebagai informal leader.
Dia berpengaruh karena kapasitas pribadinya tanpa struktur, baik karena
intelektualitas maupun karena spiritualitasnya. Jadi dia mungkin
pemimpin spiritual, dia juga mungkin pemikir, Trand setter
dalam pemikiran-pemikirannya, tapi dia juga mungkin selebriti. Makanya
kalau demikian banyak para selebriti yang masuk politik memang gampang.
Itu termasuk salah satu jalur cepat, tanpa harus bikin partai. Kalau di
Amerika kan banyak contohnya; Ronald Reagan, Arnold Schwarzeneger. Yang
di DPR kan banyak ; Ada Dede yusuf ada Ajie Massaid, Angelina Sondakh,
ada Igo Ilham di DPRD.

Disini (market) pelaku utamanya kita sebut sebagai pengusaha, orang businessman. Jadi kalau kita bicara tentang leverage to lead kita bicara tentang distribusi ini.

Ikhwah sekalian..

Pertanyaan
bodohnya begini, kalau orang yang kita bawa kesini (negara) adalah
mahasiswa yang kita rekrut sejak SMP, kita
tarbiyah..tarbiyah..tarbiyah…sekarang kita kapitalisasi masuk ke dewan.
Jadi politisi dia. Ada Rama Pratama, Andi Ramco, Fahri Hamzah, Mustafa
Kamal,. semuanya masuk disini. Ada Abu Bakar yang waktu direkrut sejak
masih pakai celana pendek, sekarang masuk menjadi anggota DPR, masuk di
panggung negara. Tapi kalau ada ikhwah, mahasiswa yang kita rekrut
menjadi pengusaha sejak dia tidak kenal duit saat belajar dagang hingga
menjadi pengusaha sukses, kira-kira berapa tahun untuk mencapai level
ini…??? Keluarga Salim itu baru bisa menjadi konglomerat setelah 120
tahun bisnis keluarga itu berlangsung. Itu tidak gampang. Sampurna itu
menjual seluruh sahamnya itu setelah 50 tahun keluarga itu bekerja
total uang keluarga semuanya 2 milyar dollar (18 trilyun). Itu setelah
lebih dari 50 tahun. Nah sekarang, disini (market) kita kosong kan?!,
kita punya Dep-Tan, tapi kita tidak punya pengusaha Agri bisnis,
makanya kita kerjasama dengan pengusaha agribisnis, yah kecil-kecil
jadi calo lah. Gak apa-apa ini baru tahap pertama. Jadi broker dulu
lah. Sekarang kalu antum membina informal leader, trend setter disini.

Berapa jumlah pesantren kita? Ada al-kahfi.

Berapa jumlah selebriti kita? Ini masalahnya selebriti kita rekrut berhenti jadi selebriti.

Saya
ngobrol panjang dengan Dedi Mizwar. Dia bilang, Saya susah juga. Karena
Saya kerja sendiri. Tiap tahun Saya hanya bisa memproduksi maksimum dua
seri, dua serial. Maksimum. Memang sih meledak. Tapi sepanjang tahun
kan, akhirnya yang mengisinya Raam Punjabi. Jadi -dia bilang- sekarang
Saya sedang berfikir bagaimana membuat training-training, workshop
untuk para calon-calon selebriti. Dia mulai beli tanah, padepokan dan
lain-lain. Dalam pelatihan sambil kita didik moral mereka, supaya
menjadi selebriti yang bermoral dimasa yang akan datang.

Dan
kita kan belum punya investasi disitu sampai sekarang. Jadi antum
lihat. Kunci-kunci pengendalian sosial itu tidak kita miliki. Sekarang
antum bandingkan. Ada 12 channel televisi di Indonesia, semuanya punya
jam tayang 24 jam, kalau satu program itu minimunnya ½ jam, untuk satu
program TV, berarti kan setiap hari harus mempunyai 48 program. Satu TV
dikali dalam satu tahun 365 hari, dikali 12 channel TV (1X365X12). Jadi
berapa program yang harus tersedia??

Jadi
waktu kita mentarbiyah ikhwah kita semuanya, 2 jam dalam halaqoh itu,
setelah itu dia pulang, dia menonton TV berjam-jam. Setelah kita
doktrin semuanya, dia nonton TV. Dicuci lagi tuh. Kita mentarbiyah
supaya menjadi pemuda yang tangguh, setelah itu kita suruh dia untuk
kawin. Begitu dia kawin dan beranak pinak. Dia sibuk, anaknya diurus
oleh televisi. Diurus oleh internet. Dan ini masuk ke rumah kita semua.
Dan sekarang, kita tidak memasukannya lagi dalam wasail ghozwul fikri. – tidak tahu masih ada di materi kita ini. Ini sekarang masuk wasail tarbiyah atau wasail ghazwul fikri-.

Jadi ini yang Saya sebut dengan landscape sosial kita itu. Masyarakat itu dikendalikan oleh orang-orang, oleh figur-figur Ini, Informal leader.

Disini
–pasar- di drive oleh pengusaha. Masing-masing semua menjadi raja. Dan
disini tujuannya. Share tiga-tiganya. Politisi boleh punya presiden.
Boleh jadi presiden. Boleh jadi wakil presiden. Boleh jadi menteri.
Tapi eselon satu kebawah.. Nah itu birokrat. Begitu ada baru menteri
datang. Birokrat langsung lihat, ini high capacity atau under capacity.
Begitu under capacity dia dipimpin oleh birokratnya.

Tentara,
memang tidak berpolitik. Tapi dia bisa mempengaruhi seluruh jalannya
politik. Makanya semua calon-calon presiden tahun 2009, -coba antum
lihat- banyakannya dari tentara kan. Memang sudah di eleminasi, tapi
dia tidak hilang. Keluar dari permainan tapi dia bisa masuk dalam baju
yang lain. Sekarang SBY punya kebijakan, di semua pilkada mesti ada
satu dari gubernur atau wakil gubernur, walikota atau wakil walikota,
bupati atau wakil bupati dari tentara. Kebijakan SBY, supaya bisa eksis
lagi, bisa menang lagi pada 2009 nanti. Makanya jawa barat sampai
sekarang gak putus-putus, karena factor itu, jadi tiga panggung ini
sekarang kita ada sedikit disini, sedikit politisinya sedikit
birokratnya, belum punya leader.

Berapa share kita di negeri ini? Kecil kan.

Tapi kan kita mau memimpin ini negeri. Jadi persoalan PKS sekarang adalah bagaimana menjadi leading party. Bagaimana kita menjadi partai pemimpin. Sekarang kita baru tahu. Kalau kita memimpin apakah kita perlu memiliki semua??

Soeharto
disaat terakhir. Waktu dia terpilih lagi menjadi presiden tahun 97. Kan
semua timnya itu shohibnya semuanya. Bob Hasan yang tadinya pengusaha
masuk menjadi menteri. Anaknya sendiri masuk jadi menteri. Semua orang
dekatnya menjadi menteri. Panglimanya Wiranto. Dibawahnya ada Prabowo.
Semuanya. Geng besarnya masuk semua itu. Tapi waktu semua geng besarnya
masuk semuanya dia jatuh. Sekarang coba antum fikir-fikir dulu. Kalau
kita mau mengembangkan kapasitas kita, leadership capacity kita itu.

Jadi
tadi kita sudah sampai pada pembahasan distribusi kekuasaan. Cara yang
harus PKS kalau mau memimpin. Yaitu mempunyai share yang besar pada
tiga panggung utama itu (State, Civil society dan Market).

Secara
sederhana, kita sebagai gerakan itu kalau ingin punya kendali kira-kira
aset-aset utama kita itu adalah ini. Kita kembali lagi pada gambar
segitiga ini; Ide, Orang dan Uang.

Sekarang,
-kalau antum lihat- reformasi ini kenapa mengalami stagnasi? karena
tidak ada ide besar disini. Tidak ada satu kekuatan yang sangat
berkuasa. Karena tidak ada yang punya orang sebanyak yang diperlukan,
dengan kapasitas yang diperlukan. Begitu juga uang terdistribusi secara
tidak pasti dan tidak merata. Jadi tidak ada orang yang punya
tiga-tiganya sekaligus. Tidak ada kelompok yang punya tiga-tiganya
sekaligus. Makin besar kepemilikan kita pada tiga ini, maka makin besar
share kita dalam kepemimpinan.

Jadi,
kalau Gajah Mada kenapa dia legendaries di negeri ini kita, karena dia
datang dengan satu ide besar tentang Nusantara. Soekarno, juga datang
dengan ide besar namanya Revolusi. Soeharto datang dengan ide besar
namanya Pembangunan. Kita datang dengan ide besar namanya apa??

Saya sudah jelaskan pada pertemuan yang lalu bahwa ide besar itu adalah masalah ruang (dairatul mumkinat).
Semua yang menjadi mungkin dalam ruang pemikiran kita, menjadi mungkin
dalam realtitas. Jadi kalau di dalam ruang pemikran itu sesuatu tidak
mungkin, lebih tidak mungkin lagi dalam ruang realitas. Nah, makanya
makin besar ide seseorang, makin besar ruang realitasnya juga. Seperti
ketika Imam Syahid menjelaskan tahapan-tahapan dakwah, yang terakhir
adalah ustadziyyatul alam. Pada waktu dia masih dijajah,
masih di bawah penjajahan Inggris. Jadi kalau pada saat itu saja, dia
memiliki cita-cita besar seperti itu. itulah yang menjelaskan kenapa
ikhwan masih hidup (eksis) sampai sekarang. Idenya itu melampaui
zamannya. Sewaktu-waktu kalau khilafah ini tegak orang akan kembali
mengenang idenya itu.

Bandingkan
Hasan Al-Banna dengan pemikir sebelumnya, misalnya diatas beliau itu
ada Rasyid Ridha yang sempat berinteraksi, diatasnya lagi ada Muhammad
Abduh, diatasnya lagi Jamaluddin Al-Afghani, dan yang se zaman dengan
Jamaludin Al-Afghani tapi beda tempat; Abdurrahman Al-Kawakibi.
Abdurrahman al-kawakibi itu punya buku yang namanya tobai’ul istibdad (karakter kediktatoran). Dia mendefinisikan penyakit umat islam cuma satu yang namanya kediktatoran.

Al-Afghani
menyebutkan bahwa dia setuju dengan premis al-kawakibi. Dan karena itu
solusinya adalah perlu ada gerakan politik. Makanya Pan islamisme
idenya. Itu akhir abad ke 19. Ide Pan islamisme itu adalah ide dari
Al-Afghani. ide ini terlalu besar, tapi tidak -kalau istilah
orang-orang manajemen sekarang ini-, diketahui cara mengeluarkan
ide-ide secara nyata. Karena itu orang-orang dalam manajemen itu
-antumkan belajar planning-, yang jauh lebih penting dari planning itu
adalah menyusun strategi. Memformulaasi strategi adalah mengetahui
dengan pasti How to execute, bagaimana mengeksekusinya. Makanya ide-ide itu adalah ide yang tidak bisa di eksekusi, karena tidak ada penjelasan bring down-nya. Tidak ada sterategi untuk membuatnya jadi nyata. Antum lihat ruang kemungkinannya cuma satu disitu.

Muhammad Abduh datang dengan ide yang lebih aplikatif. Ide tentang pendidikan. Karena itu iconnya Abduh itu adalah islah. Dan islah itu dimulai dari pendidikan, makanya buku besarnya adalah kitabuttauhid. yaitu pembersihan masyarakat.

Rasyid RIdha melanjutkan ide. Dan karena itu dimelanjutkan perlunya pemahaman ulang  tajdid  dalam pemahaman kepada Islam.

Hasan
Al-Banna ada diurutan, merupakan satu kesinambungan dari sini. Makanya
konsepnya tarbiyah, tetapi itu tidak cukup. Itu adalah sarananya.
Diperlukan wadah yang lebih besar namanya organisasi. Makanya ide utama
dari Hasan Al-Banna itu adalah ide tentang tarbiyah dan yang kedua ide
tentang organisasi. Tarbiyah itu adalah reformulasi individu,
rekonstruksi individu, jamaah itu adalah kanang, wadah untuk
menyalurkan potensi yang sudah terbentuk. Kalau tidak ada itu tidak ada
yang bisa bekerja, oleh karena itu pemikiran tentang organisasi ini
adalah pemikiran yang mendahului zamannya.

Teori-teori
tentang manajemen yang lahir tahun 50an keatas, setelah perang dunia
kedua, itu semuanya membenarkan. Menjelaskan pentingnya, terutama kalau
antum bacanya buku Peter L Gardnerd, pentingnya bekerja di dalam dan
melalui organisasi. Karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Inilah
zaman dimana manusia tidak sebanyak seperti sekarang. Jumlah manusia
ini terlalu banyak dan karena itu kita menyediakan dan selalu bekerja
didalam dan melalui organisasi. Itu idenya. Karena ide ini besar, lebih
besar lebih besar dari ide selanjutnya, makanya lebih lama
beratahannya. Tapi ide Hasan Al-Banna bukan sekedar ustadziyatul alam,
bukan sekedar Pan Islamisme, idenya lebih besar dari itu. Dia
melammpaui wilayah geografi dunia Islam. Makanya di kelompok dunia
Islam idenya itu adalah tahrirul wathan islami setelah islahud daulah.

Selesaikan
persoalan internal di dunia Islam. Kita sudah bebas dari penjajahan.
Kita sudah melaksanakan konsolidasi. Tugas kita yang terakhir adalah ustadziyatul alam.
Idenya lebih besar, karena itu ruang kemungkinan ikhwan lebih besar.
Karena itu ruang realitasnya juga lebih besar. Tidak ada organisasi
yang bertahan se lama ikhwan di dunia Islam. Dan antum lihat sejak
periode itu..!! Karena idenya sangat besar, semua ide-ide kecil yang
datang kemudian, mengisi ide-ide yang besar itu. Berapa banyak buku
yang ditulis tentang satu judul yang namanya tarbiyah. Berapa banyak
buku yang ditulis tentang fiqh dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis
tentang idarat tandzim, idaratul jamaah, idarat dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang konsep ideology. Berapa banyak buku yang ditulis tentang fiqh daulah, sejak Abdul Qadir Al-Audah sampai Yusuf al-Qadhawi sekarang.

Ide
besar ini, merangkum ide-ide kecil, sub-sub yang ada didalamnya. Karena
ruangnya besar maka ruang realitasnya juga besar. Punya struktur di 70
negara. Dengan sumber daya yang sangat terbatas. Apa yang membuatnya
jadi mungkin?? Ide…

Dia
datang waktu umat Islam itu kosong. Makanya perpustakaan dunia Islam,
yang mengisi, semua penulis ikhwan. Semua buku yang terbit di adab 20,
di dunia Islam antum perhatikan, yang terkait dengan pemikiran
keislaman, pemikiran pergerakan, pemikiran tentang dunia Islam itu
sebagian besarnya adalah pemikir ikhwan. Antum lihat perpustakaan. Itu
ide. Dia punya ide dan dia menciptakn orang. Uang datang kemudian.

ikhwan-ikhwan sekalian…

Semua
actor ikhwan itu miskin semuanya. Tapi bisa bikin liqoat alamiyah.
Miskin tapi bolak balik luar negeri. Makanya Saya tidak pernah percaya
bahwa uang itu warisan. Bukan. Yang saya percaya uang itu adalah produk
ide dan orang. Makin besar idenya makin besar juga uangnya. Tapi kalau
kita tidak punya ini (uang dan orang), tidak ada ide yang jadi
realitas.

 

Jadi kalau kita jadi leading party ini:

1. Kita harus punya yang namanya narasi.

2. Kita harus punya yang namanya kapasitas.

3. Kita harus punya yang namanya sumber daya.

Apa ide yang kita tawarkan untuk itu?

Jadi
sekarang kita tidak lagi berfikir tentang sekedar bagaimana membesarkan
PKS tetapi bagaimana membesarkan bangsa. Setelah itu kita berfikir ke
level lebih tinggi bagaimana bangsa Indonesia punya kontribusi ke
dunia. Begitu kita punya ide, punya narasi yang kita tawarkan kepada
public. Kita akan menjadi leader. Makanya kapasitas pertama dari
seorang leader itu adalah naratif intelijen. Kemampuan
menguasai orang melalui kata. Itulah yang menjelaskan kenapa soekarno
masih bertahan sampai sekarang. Dan itu juga yang menjelaskan kenapa
mukjizat Rasulullah saw itu adalah kata. Al-Quran. Antum sekarang bisa
bayangkan waktu Rasulullah saw hidup perbandingan orang Islam itu
1:1000. 100 ribu orang hidup ditengah 100 juta orang di seluruh dunia.

Sekarang
perbandingan satu umat Islam dengan non muslim 1:5. Dari mana coba
datanya ini? pemimpinnya sudah mati. Tapi terus tumbuh. Jadi kalau
sewaktu-waktu Rasulullah mengatakan; “Bahkan ketika kalian punya dua emas sebesar dua gunung Uhud infak kalian tidak bisa melampaui pahala para sahabat”.
Ya jelas. Semua yang masuk Islam sesudah mereka kan, mereka dapat
pahala. Sekarang ketika jumlah umat manusia hampir 5 milyar lebih
hampir 6 milyar. Antum bisa bayangkan. Kata, Mukjizat. Ada yang masuk
Islam melalui ekspansi. Ada yang karena kesadaran sendiri, ketemu di
jalan atau macam-macam.

Nah, itu kapasitas utamanya seorang leader; naratif intelijen. Sekarang ini PKS itu, bedanya periode yang lalu dan yang sekarang adalah periode yang lalu itu I can see, seksi aja dimata orang, kelihatannya itu. Ada anak-anak muda bersih dan peduli. Tapi begitu kita ingin menjadi leader, expectasi
orang berubah. Kita tidak lagi dipersepsi sebagai partai mahasiswa.
Kemarin kita dipersepsi sebagai anak manis. Kumpulan anak-anak manis
negeri ini. Berkumpul jadi satu, dinamis, pinter-pinter, baik-baik.
Tapi untuk jadi leader? Enggak..

Nah
sekarang ketika ingin naik kesana persepsi kita harus dirubah..!
persepsi tentang kompetensi. Makanya di tim media sekarang mereka
merumuskan. Kata kunci itu, headline kita itu; “Bersih, Peduli,
Terbuka, Kompeten”.

Inikan
(bersih peduli) merupakan integritasnya, dan ini (kompeten) menyangkut
masalah kapasitas, sedangkan ini (terbuka) adalah imagenya. Maksudnya
kita diterima disemua pihak. Ini namanya (kompeten) what to say-nya bukan how to say-nya. Bagaimana cara mengatakannya itu lain lagi. Tapi ini empat point intinya ini.

Kapasitas
pertama yang harus kita miliki adalah naratif intelijen. Makanya para
pemimpin itu kalau mau punya naratif intelijen; dia harus seorang
penulis dia harus orang orator. Mutlak. Tidak bisa tidak. Jadi salah
satu training penting buat antum disini adalah publik speaking dan menulis. Itu maharat aqliyyah.

Ada
buku yang bagus antum baca dari “kumpulan pidato-pidato yang paling
berpengaruh sepanjang abad ke 20”. Saya dulu pernah membuat riset kecil
tapi tidak berlanjut, pidato-pidato yang paling berpeluang sepanjang
sejarah Islam. Itu menarik sekali. Ada pidato politik. Pidato ilmiyah
dan juga ada pidato perang. Kalau antum lihat Khalid bin Walid itu
bukan sekedar jago bertarung, tapi juga orator. Contohnya; Diperang
Yarmuk, dia kan tadinya ada di Irak, jumlah pasukan yang sudah masuk di
Yarmuk itu sekitar 27 ribu, berhadapan dengan 240 ribu pasukan Romawi,
ini berbulan-bulan lamanya pasukan saling berhadap-hadapan tapi tidak
saling bertempur. Periodenya Abu Bakar.

Khalid
waktu itu ada di Irak, setelah Abu Bakar meninggal ini soal komandan
lapangan, kenapa tidak bertempur. Artinya begini. Yang 240 ribu ini
tidak berani menyerang yang 27 ribu ini. Alasannya, memang (pasukannya)
kecil tapi pengalaman menangnya terlalu banyak. Yang ini (pasukan
Islam), memang pengalaman menangnya banyak tapi belum pernah bertemu
pasukan sebanyak ini.

Khalid
datang dan pasukan Khalid dipanggil dan ditambah lagi pasukan sebanyak
9 ribu orang sehingga menjadi 36 ribu ini. Waktu Khalid datang
wacananya sama seperti Abu Bakar. Cuma dalam sekologi militer. (Ada
buku bagus yang bagus juga antum baca “sekologi of war”,
sekologi perang). itu bahaya, tentara dibiarkan begini, karena
lama-lama itu ketakutan mulai merasuk kedalam. Mau lari tidak bisa. Mau
maju juga tidak bisa. Harus ada keputusan. Begitu Khalid datang. Dia
konsolidasi. Dan setelah konsolidasi satu bulan lamanya, diputuskan
kita memimpin secara bergantian. Pemimpin pertamanya Khalid. Setelah
itu bergantian. Setelah itu dia putuskan hari penyerangan. Waktu hari
penyerangan itu dia pidato. Pidatonya tidak terlalu panjang. Dan Saya
perhatikan para sahabat itu kalau pidato kenegaraan atau pidato perang
hampir tidak ada yang lebih dari 5 menit. Dilihat dari segi teksnya.
Dia bilang begini: “Ya ma’syarol muslimin, hadza yaumun min ayyamillah”. Antum lihat kalimatnya!! “hadza yaumun min ayyamillah” darimana antum dapat istilah ayyamullah
itu?. Itu saja, kemampuan orang mengartikulasi sebuah makna yang
tervisualisasi begitu kuat antum langsung terikat dengan Allah SWT,
terikat pada statemen pertama “hadza yaumun min ayyamillah, fa akhlisu fiihi jihadakum lillah”. Dia mulai dari statemen yang pertama “Fa akhlisu fiihi jihadakum fillah”.
Setelah itu dia masuk pada tekhnisnya. Daripada kita sibuk menghitung
jumlah pasukan, lebih baik kita sibuk menyembelih mereka itu. Setelah
takbir Allahu Akbar maju mereka menyerang. Selesai….

Jadi
komandan perang pun punya kadar yang besar dari naratif intelijen.
tidak ada ceritanya orang kalau gak orator dan bukan penulis. Dia tidak
akan abadi. Karena itu keterampilan itu mutlak. Itu dalam basic kompeten dari seorang leader.

Antum
lihat lagi presiden-presiden Amerika yang berpengaruh dari yang lain.
Umumnya itu adaalah begitu. Waktu perang dunia kedua siapa perdana
menteri inggris?? Itulah kelebihannya dia. Umumnya orang Inggris itu
tinggi-tinggi tapi dia pendek. Orator. Dari dialah istilah “Saya tidak punya sesuatu in Inggris, kecuali hanya darah, keringat dan air mata”. Itu dia ucapkan di parlemen, siapa bangsa yang sedang perang begitu dikasih kalimat-kalimat begitu. Abadi pidato itu.

Jadi begitu kita punya ide, kita jadi trandsetter. Yang lain, semuanya jadi follower.

Nah,
yang kedua dari kapasitas leadership itu adalah kapasitas eksekusi.
Kapasitas eksekusi itu ditentukan disini (orang dan uang). Ada orang
yang punya kapasitas dan ada sumber daya. Kita datang kepada negara
tapi kalau tidak ada orang untuk mengeksekusi ini. Tidak bisa. Sekarang
persoalannya adalah apakah orang kita cukup? Tidak bakal cukup. Apakah
kita harus menunggu sampai cukup? Tidak. Karena kapasitas yang ada
dinegeri ini juga banyak, masalahnya mereka belum tersentuh sama
harakah. Itu saja. Tetapi kalau kita punya ide-ide besar kita bisa
mendayagunakan semua orang-orang itu. Jadi kapasitas ini menyangkut
orang.

Sumber
daya. Ini juga bukan sekedar uang. Sebenarnya media itu adalah sumber
daya. Informasi adalah sumber daya. Uang adalah sumber daya. Tentara
juga sumber daya. Jadi kita perlu sosial capital, kita juga perlu financial capital, kita juga perlu political capital.

Sekarang
kalau kita jadi presiden, bayangkan kalau ada 35 menteri, di bawahnya
masing-masing 10 dirjen, berapa jadinya? 350 dirjen. Dibawah dirjen itu
biasanya ada berapa eselon duanya? Satu dirjen itu biasanya ada berapa
direktur? Rata-rata 5 direktur, jadi 10 x 5 / atau 50 x 35. Berapa
semua? 1500 lebih. Itu orang-orang inti yang antum perlukan.

Nah
jadi kita harus mengakui terlebih dahulu ketidak sempurnaan kita itu.
Tapi itu bukan penyakit. inikan menyangkut masalah cara mengelola. Yang
penting kita mengetahui dahulu dimana batasan kita dan dimana batasan
orang lain.

Nah
kalau ini sudah clear ikhwah sekalian. Pertanyaan besarnya: Bagaimana
caranya kita merakit semua potensi-potensi itu sekaligus? Yang tidak
boleh tergantikan pada orang, itu adalah ini (narasi), itu yang harus
original. Adapun yang ini (kapasitas dan sumber daya) bisa kita mix
dengan orang, karena ada banyak orang yang punya ini (kapasitas) dan
punya ini (sumber daya) tapi tidak jadi.

Jadi.
ikhwah sekalian Antum lihat. Uang itu menyangkut persoalan yang lebih
tekhnis. Dalam hal-hal seperti ini kita tidak bicara masalah hal-hal
yang bersifat idealisme dan pragmatism. Ini persoalannya adalah
pemahaman tentang realitas. Kita akan menjadi sangat picik kalau kita
menyederhanakan masalah ini dengan persoalan idealis atau pragmatis.
Karena tidak ada urusannya kesitu. Sama sekali tidak ada.

Antum
belajar sirahpun, antum akan sampai pada kesimpulan ini kalau pemahaman
kita benar. Karena tugas kita adalah sinaatul hayah, inilah semua yang
kita perlukan untuk sampai kesitu. Dan menurut Saya inilah persoalan
kronik di partai-partai Islam sejak masa Orde Baru yang tidak pernah
mereka selesaikan. Mereka terjebak kepada persoalan yang sangat picik.
Menjadi idealis. Akhirnya tidak bisa terjun ke politik secara bebas.
Karena di politik orang dituntut untuk menjadi pragmatis. Pragmatisme
itu adalah filsafat. Dan tidak banyak orang faham; filsafat yang
berkembang di zaman modern ini. Pragmatisme itu adalah filsafat.
Intinya adalah mengukur kebenaran suatu kebaikan, suatu ide dengan
hasilnya. Kalau hasilnya benar idenya secara otomatis jadi benar. Itu
idenya. Sebagian dari ide ini benar, tapi tidak seluruhnya benar. Jadi
pragmatism itu bukanlah satu cara tentang penjelasan menghalalkan
segala cara. Tidak. Dan menurut Saya parta islam karena terlalu lama
terjebak dalam masa-masa itu. Dalam fikiran-fikiran seperti itu.
Akhirnya fikiran besar itu tidak terangkum dalam ide besarnya.

Ini
pula yang menjelaskan, kalau kita membaca literatur partai-partai
Islam, para pemikir partai-partai Islam di Indonesia. Menurut Saya.
Mereka tidak pernah keluar dari persoalan yang semoit seperti ini.
Kenapa narasinya soekarno lebih bertahan daripada narasi atau
pemimpin-pemimpin Islam pada waktu itu. Tema yang difikirkan Soekarno
pada saat itu jauh lebih besar dari tema yang kita fikirkan. Saya tidak
tahu apakah buku itu masih dicetak sampai sekarang atau tidak, tapi
Saya dulu membaca total bukunya Natsir hampir semuanya saya baca. Yang
paling khusus itu adalah bukunya kapita selekta. Tapi kalau
antum baca debatnya soekarno dengan Abdul Qadir Hasan, antum akan
melihat ide itu. Tapi ide yang lebih menarik adalah di bukunya “Bung
Karno penyambung lidah rakyat”.

Antum
baca lagi pledoynya waktu dia berumur 29 tahun, memang terasa
perbedaannya. Jadi kalau kemudian dia mendapatkan penerimaan yang lebih
luas. Itu masalah skala, ruang yang kita fikirkan. Dan PKS ini kalau
yang kita fikirkan perkara yang kecil itu, orang lain akan merasa bahwa
kita tidak berada dalam ruang pemikiran PKS. Jadi orang-orang dinegeri
ini merasa bahwa mereka bukan objek yang difikirkan oleh PKS karena
kita tidak pernah punya sesuatu yang kita tawarkan. kita tidak pernah
punya satu profosal untuk bangsa Indonesia.

Apa ide kita tentang masa lalu dan apa ide kita tentang the next Indinesia?
Tidak jelas. Tidak prnah kita rumuskan. Dan kita tidak pernah membuat
satu proses internal yang sangat intensif untuk merumuskan itu. Ada
platform kita sebenarnya. Platform kita itu kan ada. Yang sekarang
sudah akan dicetak. Tapi ide secara keseluruhan itu yang belum ada.

Nah
menurut Saya. Itu yang menyebabkan kalau kita ingin mengungguli
partai-partai sekuler dimasa yang akan datang. Kita harus pertama kali
mengungguli disini (narasi). Akhirnya partai-partai islam itu cenderung
yang kita pertahankan kemudian kembali kepada kampanye yang simplikasi.
Membangun emosi keagamaan. Kita tidak membangun satu rasionalitas
kehidupan. Kita tidak menawarkan sesuatu yang rasional yang kita
kemudian yang ditawarkan oleh partai-partai islam adalah sentiment
keagamaan.

Makanya
kalau antum lihat ikhwah sekalian di bukunya Dreasley tentang Islamisme
di timur tengah dan transformasinya ke Indonesia, dia menukil satu
tulisan yang ditulis oleh olive roey: “Tajribatul al-islam siyasi”,
penulis Perancis, sudah diterjemahkan oleh penerbit Mizan, (kegagalan
Islam politik), jadi dia mengatakan; “Jadi demokrasi, perlu di
globalisasi dan tidak perlu mengkhawatirkan munculnya
pundamentalis-pundamentalis Islam, gerakan Islam pundamentalis di dalam
sistem demokrasi. Kenapa? Ketika mereka berkuasa. Mereka akan turun
sendiri. Karena mereka tidak punya kapasitas untuk berkuasa. Itu dia
persoalannya.

Kalau antum pergi ke Teluk sekarang antum bisa memahami kenapa terjadi futur yang terjadi di teluk secara qoutry.
Antum lihat di teluk sekarang itu ada perubahan demografi yang luar
biasa dahsyatnya. 5 atau 10 tahun ke depan penduduk asli Emirat Arab
itu akan tinggal 2,5 %. Inikan rekomposisi demografis yang dahsyat.
Tidak ada lagi fitur-fitur islam atau arab itu di Dubai. Seluruhnya
fitur-fitur modern disana. tidak ada. Itu benar-benar global sistem.
Sehingga ikhwah disana itu mulai futur. Hampir jama’i. Tidak sampai
keluar dari ikhwan seluruhnya tapi hampir semua menjadi futur. Tidak
mengerti apa yang harus mereka lakukan. Penduduknya hanya 200-300 ribu
sekarang hampir 400 ribu, dan undang-undang ke warga negaraannya
dirubah. Siapa yang punya –karena dihubungkan dengan investasi-,
sekarang Qatar mulai merubah undang-undang kewarganegaraannya, mereka
memerlukan tambahan penduduk. Jadi kalau antum pergi ke Qatar sekarang
Antum antri di bandaranya. Antum akan lihat, yang antri itu; satu orang
cina, yang kedua orang Eropa timur, yang ketiga orang India.

Di
Dubai sekarang ada lebih dari satu juta orang India, tapi di Dubai
sudah ada China Town. Jadi perubahan demografi ini. Itu membingungkan
orang semuanya. Karena ada uang secara tiba-tiba yang meledak, datang
dalam jumlah besar dan ini harus dikelola, harus di buat proferti,
kalau disebarkan ke proferti yang ngisi siapa? Kan mereka perlu warga
Negara. Mereka perlu penduduk untuk mengisi itu. Kalau tidak uang ini
mau disimpan dimana? Disimpan diluar tidak aman disimpan di dalam
(disini), Negara kecil.

Makanya
Saya lihat ikhwah banyak yang futur, kehilangan ide bagaimana
berhadapan dengan situasi baru ini. Bandingkanlah perubahan strategis
ini dengan buku-buku yang ditulis oleh mufakir harakah disana. Para
duat! Konsennya kemana mereka? Konsennya kemana para duat? Antum lihat
buku-buku yang ditulis misalnya yang paling poluler misalnya da’i di
Saudi? Aidh al-Qarni. Antum lihat ide-idenya..!! Bandingkan perubahan
sosial yang sekarang sedang terjadi. tidak macth. Semua ide-ide tentang
la tahzan itukan ide tentang pertahanan sosial, bukan sesuatu
yang expansif. Tentang bagaimana mendayagunakan perubahan-perubahan
baru, situasi-situasi baru. Ini tidak ada. semua ide-ide itu adalah
ide-ide defensive. makanya tidak akan kuat bertahan. Orang tidak setuju
dengan Walid bin Tholal. Dia bikin rotanah. Pusing… semua pake satelit.
Sekarang kalau antum lihat, sistem televisi disana itu bukan pakai
transmeter, tapi pakai satelit langsung. kalau antum nginep di
apartemen Saudi atau di Kuwait atau disemua Negara Teluk. Saya pernah
nginep di Kuwait. Di dalam apartemen itu, kita bisa nyambung dengan 500
channel televisi, Antum bisa bayangkan roda pemerintahan yang
digerakkan. Sudah perubahan demografi seperti ini. Sistem
pemerintahannya monarki pula. Bagaimana harakah bisa bergerak dalam
situasi seperti itu? Sudah begitu ada Amerika di sekililingnya. Dan ada
Palestina yang setiap mereka dengar tentang pembunuhan, pembunuhan dan
pembunuhan. Bagaimana tidak stress semua orang itu. Makanya tumplek
semuanya di Mekkah. Haji Umroh semuanya.

Saya
beberapa kali ke Aljazirah, bertemu dengan wartawannya dan lain-lain.
Semua dalam keadaan defresi. Jadi sesuatu terjadi disekitarnya dan dia
tidak bisa mencernanya. Kita juga akan mengalami hal seperti itu. PKS
ini, kalau kita tidak punya ide besar untuk mencerna, isti’ab, ihtiwa
terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perubahan-perubahan yang
ada. Kemudian sebuah profosal baru untk bangsa Indonesia, kita tidak
pernah nevely leader.

Nah
karena itu, persoalan PKS sekarang sama persoalan dengan bangsa
Indonesia. Ada sumber daya alamnya, tidak punya teknologi dan tidak
punya modal. Apa yang dilakukan oleh bangsa seperti itu? Mendatangkan
investor dan beli alat teknologi!! Jangan tunggu alat sampai Indonesia
pintar-pintar mengelola minyak sendiri. Kita punya laut, tapi tidak
bisa kita dayagunakan yang ambil semua isinya, semuanya orang Taiwan.

Jadi karena itu ikhwah sekalian…

Ide tentang strategic partnership
itu adalah ide tentang ketidak cukupan. Kita sebagai satu komponen ini
tidak berdiri sendiri, tidak punya semua asset yang kita perlukan itu,
dan karena itu kita perlu share.

Dan
dalam konstalasi global sekarang ini tidak bagus bagi harakah islamiyah
itu. tidak menguntungkan sama sekali bagi harakah islamiyah itu, untuk
muncul secara sangat digdaya, naik berkuasa sendiri habis itu yang lain
semua tunduk. Tidak.

Kita
belum lihat model Turki sepanjang apa dia bisa bertahan?? Tetapi kita
perlu melihat waktu-waktu ke depan, karena itu menurut Saya model Turki
perlu bagus untuk kita pelajari dan tidak bagus pula untuk kita kagumi
secara berlebihan, kita lihat bagaimana ini akan berlanjut dimasa yang
akan datang. Dan situasi seperti itu kalau antum perhatikan di
Indonesia, untuk negeri yang sangat plural seperti ini itu juga bahaya
itu. Tetapi yang penting bagi kita, kalau kita punya tiga-tiganya itu
adalah bagaimana mengendalikan. Mengendalikan kan artinya mempengaruhi
dan mengatur, bukan memiliki semuanya, oleh karena itu kita juga tidak
membayangkan nanti pengusaha nanti semuanya pengusaha PKS, birokrat
seluruh birokrat PKS, yang kita bayangkan itu bahwa semua pengusaha itu
mempunyai kontribusi dalam arus besar pembangunan bangsa kita di bawah
kepemimpinan PKS. Itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana mengumpulkan aset bersama menjadi satu power.

Kalau
kata Iqbal dalam salah satu puisinya dia bilang : “Ya Allah ajarkanlah
kepada kami kembali ajaran untuk saling mencintai supaya lidi-lidi ini
bisa kami rakit jadi sapu !!” Persoalan kita kira-kira itu.

Nah itulah ide tentang strategic partnership.
Bagaimana meperbesar aset dengan mangakumulasi aset orang digabung jadi
satu. Konsep itu adalah konsep pendayagunaan. Ini bukanlah konsep suatu
antitesa yang harus kita pertentangkan dengan konsep muamarah,
konspirasi yang selalu kita pelajari dalam ghazwul fikri. Sebab dulu
kita menganggap televisi sebagai ghazwul fikri tetapi sekarang menjadi shahib
pemilik ghazwul fikri, yang setiap hari menyebarkan ghazwul fikri itu.
Yang bangun gedung kita dia pula. Setiap hari kita bikin doktrin
ghazwul fikri dan yang kasih gedung kita dia.

Apapun
posisi kita itu selalu ada konflik, jadi kita tidak membayangkan bahwa
semua kekuatan dinegriini bisa kita rangkul semua. Yang diperlukan di
negeri ini, kekuatan yang solid sekitar 60 % dari total power yang ada.
Karena kalau tidak ada, negeri ini terancam disintegrasi. Bahaya. Mesti
ada yang seperti itu, sebab jika kurang dari itu maka tidak akan cukup
untuk memimpin negeri yang kuat.

Jadi
gabungan antara demokrasi dan kesejahteraan itu hanya mungkin terjadi
kalau ada civil society yang kuat, ada pemerintahan yang efektif. Kalau
sekarangkan, ada civil society tidak terlalu kuat tapi ada juga
pemerintahan yang tidak efektif. Dan karena itu ada pasar yang tidak
dinamis, itu sebabnya setelah kita demokratis kita tidak jadi
sejahtera, tidak kunjung sejahtera. Kalau ini ikhwah sekalian kita
fahami, sekarang dengan demikian kita bisa memahami kata kunci yang
kita sebut sebagai strategic partnership, sebelum kita masuk pada partnership ini Saya mau bertanya sedikit;

Selama ini apa hambatan orang untuk bergaul dengan PKS?

Kenapa dimata tentara kita dianggap ancaman?

Kenapa
dimata, -ini contohnya Jawa Barat. Agum Gumelar sudah mau koalisi
dengan PKS, DPW Jawa Barat sudah sepakat dengan PDIP juga untuk membuat
koalisi merah putih. Agum Gumelar sudah setuju, tadinya jelek
fikirannya tentang PKS, setelah diskusi dia berubah, dia datang ke
Megawati, Megawari yang tidak mau.

Jadi sekarang kita tanya dulu “mawaniul ijtima ma’a al-‘adalah”? apa hambatan orang untuk masuk ke kita itu?

Image ini yang bikin mereka atau kita ? kita sendiri.

Jadi
hambatan terbesar orang untuk bertemu dengan PKS itu adalah karena kita
memang yang tidak menginginkan mereka itu. Itu hambatan paling besar.
Dan menurut Saya inilah inti ekslusifisme itu. a

Makanya imam Ghazali mengatakan : “Al-Insanu aduwwun ma yajhulu”.
Manusia memusuhi apapun yang tidak diketahuinya. Karena kita tidak tahu
orang lain kita cenderung memusuhi orang lain. Karena orang lain
melihat kita ini jalan masuk PKS juga tidak jelas, kanal-kanal masuk
PKS lewat apa coba? Antum lihat, kanal pintu untuk masuk PKS itu lewat
apa? Jadi kalau kita mau masuk PKS tidak jelas, pintunya dimana tidak
jelas. Tapi kalau antum mau setor duit di BCA itu
kan outletnya jelas kan. Ada dimana saja outlet kami. Tapi PKS itu tidak punya outlet, itu masalahnya? Tidak ada.

Jadi
kita yang belum siap menerima orang, itu intinya yang terbesar, jadi
kalau orang memahami orang PKS itu ekslusif, itu benar. Dan menurut
saya membuat diri menjadi terbuka itu bukan sekedar perkara komunikasi.
Itu masalah konseptual juga. Karena itu antum lihat ikhwah sekalian di
dalam Al-Quran, kenapa ada banyak kata “istibdalul qoum”? disurat Muhammad ayat terakhir “Waintatallaw yastabdil qouman ghairakum tsumma la yakunu amtsaluku”.  Kalau kata orang Jepang kita ini perlu hati-hati jangan sampai jadi ibrah bagi orang lain. Itu kalau ada istibalul qoum.
Itu jadi ibrah bagi orang lain. Yang harus terjadi itu, kita jadi uswah
bagi orang lain. Tempat orang mengikuti. Kalau dari jauh orang dapat
ibrah dari PKS. Itu bukan berita bagus.

Jadi istibdalul qaum
itu artinya ikhwah sekalian. Dakwah ini dakwah ilallah, bisa dilakukan
dengan tangan kita bisa juga dilakukan dengan tangan orang lain. Kalau
sudah dicoba dengan tangan kita ternyata tidak becus, dengan gampang
Allah bisa mendatangkan orang lain. Sederhan. Oleh karena itu isu
tentang keterbukaan itu pertama kali harus difahami bahwa belum tentu
kita yang terbaik yang memikul beban dakwah ini. Itu dulu.

Mengapa
orang lain yang potensinya ada, tidak kita beri beban yang sama..??
kenapa kita tidak membagi beban ini kepada orang itu? Dan perkara
bangsa ini
kan
bukan perkara kita aja. Kalau kita ingin menciptakan kesejahtraan yang
akan sejahtera bukan cuma umat Islam di Indonesia sajakan?
Kan
yang kafir-kafir juga akan ikut sejehtera. Zakat itu ikhwah sekalian,
hanya khusus untuk orang lslam atau untuk orang lain juga? Makanya
antum perlu bikin mukhayyam fikri fi fiqh daulah, konsep al-muallafati fi qulubihim itu apa artinya? Itukan konsep tentang kohesi sosial, dan menggunakan uang sebagai instrument kohesi sosial. Tapi apa yang dimaksud dengan fuqora wal masakin. Apakah lifuqoro muslimin, masakin al-muslimin atau foqoro an-naas?

Ada bukunya Qordhowi bagus antum baca, “al-faqru wa kaifa ‘alajahu al-islam”.
Dan balik lagi kita ke fiqh zakat. Tadi kalau antum perhatikan konsep
al-muallafati dalam asnafu zakat itu dna konsep al-fuqoro wal masakin,
itu adalah fuqora an-naas, karena ga boleh ada yang mati, nyawa yang
mati karena kelaparan fi dzilli daulah islamiyah, itu tidak boleh, itu
bukan masalah agama kelaparan itu, yang harampun dibolehkan dimakan,
kalau kita terpaksa memakannya. Makanya huququ daulah, hak Negara
Negara untuk menghukum orang yang mencuri itu jadi hilang kalau orang
mencuri karena tidak sejahtera. Karena terpaksa. Jadi Negara tidak
boleh mengambil haknya karena kewajibannya tidak dia laksanakan dengan
baik.

Jadi
konsep tentang keterbukaan itu sekali lagi, ikhwah sekalian adalah
konsep tentang kapasitas. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa
di negeri kita ini banyak orang Islam, gak usah orang lain banyak orang
Islam, yang kapasitasnya luar biasa yang belum kita dayagunakan. Tapi
karena kita bekerja bukan hanya untuk umat islam, untuk bangsa secara
keseluruhan dinegeri inipun, banyak juga kapasitas yang belum kita daya
gunakan, toh kalau kita mencipkan keamanan dan kesejahteraan yang
paling menikmati itu siapa konglomerat juga, dan kebanyakan non muslim.
Jadi kenapa kita bekerja sendiri, kemudian mereka yang menikmati dari
jauh harus ikut bekerja sama kita, itu yang kita maksud dengan
investasi. Kita punya proyek mensejahterakan Negara begini, cara
mensejahterakan itu begini, begini. Kamu ikut share dari awal..!!

Karena
mereka dapat finance nanti, kalau dapat keamanan di Indonesia, orang
china kan yang paling menikmati, paling gesit ke pasar, oleh karena itu
ada anekdot, ada orang china mau masuk Islam, datang ke orang arab,
kata orang arab jangan masuk Islam, ente masuk Islam pertama harus di
sunat, yang kedua harus shalat lima waktu cape ente, ramadhan ente
puasa, lapar, babi tidak boleh, terlalu banyak yang tidak boleh,
cinanya pulang si anaknya datang, pak kenapa dilarang masuk Islam?
Ditanya keabahnya itu kenapa dilarang masuk Islam? Kata abahnya : tanah
kita sudah diambil, rumah kita sudah diambil, pasar kita sudah dikuasai
oleh mereka, kalau mereka masuk Islam masjid kita juga diambil, habis
kita punya itu, kita harus pertahankan yang namanya warisan nenek
moyang kita itu, satu-satunya property yang kita miliki.

Jadi yang mau kita kerjakan disini adalah masyru’ lil jami’. Dan karena itu yahtaju ila musyarakatil jami’.  Karena yahtaju ila musyarakatil jami’, itu yang kita maksud dengan partnership itu, karena itu kira harus main step by head –satu langkah kedepan-. Dari sekedar musyarakah menjadi isyrak.

Kita adalah shohibul masyru, yang lainnya investor, ikut saham dari awal, tapi kita project ownernya, orang lain ikut bersama kita. Semua orang memberikan kontribusi sesuai dengan hajatnya. Dan inilah yang dimaksud dengan unsur tabadul lil maslahah dalam politik itu.

Seperti
yang sering saya ulang-ulang, kalau antum datang kepada orang minta
sumbangan bangun masjid orang itu bilang sekarang belum ada duit, tahun
depan baru ada. kan masjidnya harus ditunda tahun depan, nanti tahun
depan dia sudah punya duit antum datang lagi kesana dikasih antum duit
satu tahun. Masjid selesai antum kasih laporan, kita foto masjidnya
sudah jadi, laporan keuangan lengkap. Antum dapat pahala amal dan orang
itu dapat pahala infak, kemudian orang itu bilang kamu tidak kaya
karena bangun masjid, karena uangnya tidak dikorupsi jadi kita
dua-duanya dapat pahala.

Tapi
kalau antum datang ke orang minta sumbangan untuk pemilu orang itu
bilang gak punya duit pemilunya bisa ditunda gak? Gak bisa kan. Kalau
antum dikasih duit, setelah itu antum jadi anggota dewan, waktu jadi
anggota dewan antum terima gaji katakanlah 37 juta atau 50 juta dengan
tambahan lain-lainnya sebulan, di kali 12 bulan (dalam setahun), dikali
5 tahun (50X12X5). Berapa totalnya? 3 Milyar. Dikali anggota ke dewan,
3 M dikali 50 (3X50), berarti 150 M. Jadi orang-orang melihat PKS
berduit, karena kita kasih infak buat PKS, yang dikasih PKS buat kita
apa?

Kalau
ada satu ikhwah dalam waktu 5 tahun punya duit 3 M, dipotong berapa
persent buat partai? Ambil setengahnya buat partai, satu setengah buat
partai, satu setengah buat kita, bagi lima tahun paling tidak setor 25
juta sebulan, kalau antum punya mobil 1,5 M dalam 5 tahun kira-kira
punya mobil apa? Ini tetangga yang lihat, yang ikut teriak-teriak, wah
ada kemajuan dari shahib saya, itu tidak bisa dihindari, gak bisa
ditutupi, orang-orang menyaksikan. itulah sifat mu’amalah maliyah dalam politik.

Ada
ikhwah masuk tadinya anggota dewan, gak punya mobil, sekarang punya
mobil 2,3,5 dan seterusnya, orang-orang yang ikut nyumbang itukan lihat
begitu, ah..kau sudah sejahtera sekarang. Terus maslahat yang didapat
itu apa? Itulah pertanyaan orang ikhwah sekalian. Itulah bedanya
muamalah. Makanya unsur tabadulul maslahah dalam politik yang tidak bisa kita hindari karena sifatnya, tabiatnya begitu; tabiat muamalahnya, sifat uang yang beredar.

Ada buku Ibnu Khaldun tentang ini! “al-kasbu wal maisyah”. Mukaddimah ibnu Khaldun, antum baca bab al-kasbu wal maisyah, antum lihat bagaimana sifat uang itu diterangkan oleh Ibnu Khaldun!!

Kita disini tidak sedang bicara soal yang sangat sempit. Tapi kita bicara yang skala luas, nah kalau ingin bicara dari strategi partnership kira-kira polanya itu begini; strategi partnership ini sebenarnya bukan ide baru, ini konsepnya rabtul am
di kaderisasi, ini ide ada dalam bisnis, ide dalam politik, ide dalam
skala global, kalau antum lihat Negara-negara Amerika utara, tengah dan
selatan bikin misalnya NAFTA, APEC untuk fasifik, itu strategic partnership

Itu
semuanya ide partnership, nah sekarang kita ingin coba menggagas.
Caranya kita menjadi besar itu adalah bertumbuh menjadi besar, menjadi leading party melalui partnership. Nah untuk membuka strategi partnership
ini. Pertama kali keterbukaan dulu supaya orang merasa diterima di PKS
dan supaya semua orang bisa menerima PKS. Jadi isu keterbukaan itu
adalah isu untuk menghilangkan barier. Menghilangkan dulu entri barier ke PKS itu apa? Itu dulu yang kita hilangkan.

Apa
hambatan orang masuk kepada kita, dan apa hambatan kita masuk kepada
orang lain. Ada orang-orang yang menganggap PKS itu kumpulan manusia
semi malaikat, makanya tidak terjangkaulah para artis seperti kita ini.
Makanya artis-artis yang maju hanya dipakai pada pemilu, dipajang
sebagai etalase habis itu ditinggal karena komunitas itu.

Nah kalau berier
ini bisa kita hilangkan. Sekarang kita coba bagaimana power itu kita
bangun. Ambillah PKS disini, yang pertama-tama kita perlukan itu adalah
kita bagi dua sumbernya kakinya PKS akan seperti kira-kira itu. Disini
ada investor, dari kalangan pelaku utama pasar. Disini ada militer
disini. Ada informal leader. Dan disini ada para professional. Termasuk
di dalamnya adalah para birokrat. Nah ini (investor dan militer)
fungsinya untuk menjadi financial dan security support, dan ini
(informal leader dan profeioanl) menjadi front linner, orang yang ada digaris depan, wajahnya PKS ke depan itu ini. Gabungan antara informal leader dan para professional, dibelakangnya itu mesti ada support,  ini yang kita sebut dengan political capital dan ini yang kita dengan social capital.

Dan disini ikhwah sekalian yang disebut dengan masyarakat, atau dalam terminology pemilu kita sebut dengan votter, jadi dengan demikian PKS punya 4 kaki; dua supporting sistemnya dan dua front linnernya.

Jadi
kita perlu menyatu dulu dengan ini (investor dan militer); back up dulu
disini, kita punya proposal, tapi kita perlu merekrut informal leader
sama professional disini. Yang akan jadi front linner PKS,
resepsionisnya PKS, dan disitu harus gagah,, yang ini gak perlu
kelihatan, tapi back up, kunci-kuncinya ada disini.. ini yang bicara
kemana-mana; PKS bukan ancaman. Shohib. Dan ini yang bicara kemana-mana
PKS bukan ancaman buat pasar. Bisnismen. Kalau antum diterima di
militer, diterima di pasar, tahap awal pertama selesai. Selanjutnya
publik, kalau antum punya profesional disini, antum menjalankan
instutusi Negara, seperti yang saya sebutkan tadi distance negara itu ada tiga, politisi, militer dan pengusaha. Inilah social capital tapi inikan semuanya dari orang sipil,

Informal
itu bisa politisi, selebrity, bisa ulama bisa macam-macam, itu semua
kita gabung, kita ramu jadi satu, jadi satu kekuatan, apa pekerjaan
utama PKS disini? Atau hafal kalimat ini “The Match maker” kita keluar dari sini, naik dari calo menjadi match maker.
Jadi waktu kita berhadapan dengan mereka, yang ada di kepala kita itu
bagaimana mendayagunakan sumber daya semuanya untuk kepentingan proyek
ini. Itu sebabnya kenapa narasi itu kapasitas yang tidak boleh hilang
dari kita karena itu syarat utama jadi leader, kapasitas kita
gabung antara kita dengan orang. Tapi untuk ide mesti dari kita itu,
itu kuncinya, inilah yang menjelaskan kenapa soekarno memimpin
semuanya, dia yang punya ide yang lain semuanya ikut, datang dengan
kapasitasnya masing-masing, kita yang punya project, kita yang punya
narasi dan kita yang punya ide dan orang lain datang. Nah untuk tidak
terlalu banyak ada bagusnya antum endapkan dulu.

 

SEKOLAH KEHIDUPAN

June 3rd, 2008 by anismatta

Ini adalah tulisan saya sekitar

lima

tahun yang lalu
mengenai sekolah alam …. Semoga bermanfaat…

 

Sumber Kegembiraan


Mereka benar-benar hidup. Mereka masih terus berbincang dan bersenda gurau
dalam perjalanan pulang ke rumah. Sehari penuh di sekolah seakan tidak
melelahkan mereka. Atau mungkin - tepatnya - lelah tidak menghilangkan gairah
mereka. Itu pemandangan sehari-hari dari keempat anak-anak saya dan ketiga
temannya yang sama-sama bersekolah di Sekolah Alam. Padahal, karena jarak rumah
dan sekolah yang jauh -sekitar 40 km - mereka harus menghabiskan 10 sampai 12
jam setiap harinya untuk belajar dan perjalanan.

Sekolah telah menjadi pusat kehidupan mereka saat ini. Mereka benar-benar
menikmati pusat kehidupan itu. Bahkan waktu-waktu mereka di rumah pun digunakan
untuk membicarakan kehidupan mereka di sekolah. Sekolah bukan lagi beban.
Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan penghayatan penuh.
Sekolah adalah sumber kegembiraan. Bukan sumber stress yang biasanya
membuat mereka kehilangan gairah.

Disini kehidupan dihadirkan dalam sebuah tata ruang dengan lansekap yang ditata
sedemikian rupa agar tetap natural dan tampak riil. Dengan menggunakan konsep fun
learning
, Sekolah Alam telah mengubah sekolah menjadi sebuah miniatur
kehidupan yang bukan saja natural dan riil, tapi juga indah dan nyaman. Proses
belajar mengajar berubah menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan
penuh kegembiraan. Itu membantu anak-anak menikmati masa-masa awal pertumbuhan,
dan membangun imaji-imaji positif tentang kehidupan dan bumi yang mereka huni.

Itu pesona pertama yang mengantar saya ke Sekolah Alam!!!

Persepsi kita tentang kehidupan, tentang dunia, tentang bumi yang kita huni,
yang kelak melandasi sikap-sikap kita dalam menjalani hidup, sesungguhnya
terbentuk di masa awal pertumbuhan itu. Seperti apa kita mempersepsi kehidupan,
dunia dan bumi yang kita huni pada awal kehidupan kita, seperti itulah kita
akan menjalaninya. Imaji-imaji positif akan melahirkan energi, semangat dan
gairah kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Maka setiap "luka persepsi"
pada masa itu, kelak akan mewariskan "luka emosi" dalam kehidupan
kita. Dan setiap luka emosi, kelak akan mewariskan "gangguan
pensikapan" dalam keseluruhan kepribadian kita. Itu sebabnya anak-anak
yang bahagia di masa kecil jauh lebih berpeluang untuk berbahagia di masa
dewasa dan tuanya kelak.

Saya hanya ingin anak-anak saya menikmati masa-masa awal "perkenalan"
mereka dengan kehidupan, dunia dan bumi yang mereka huni. Mereka tidak
dilahirkan untuk memikul obsesi-obsesi saya sebagai orang tua. Mereka
dilahirkan untuk kehidupan mereka sendiri. Tugas saya adalah memfasilitasi mereka
untuk mengenal dunia dan kehidupan dimana mereka ditakdirkan menjalaninya.
Walaupun mungkin saja mereka mendahului saya menemui ajal, tapi pada galibnya
sayalah yang akan mendahului mereka. Jadi rasanya saya tidak akan menyertai
mereka dalam keseluruhan waktu yang akan mereka lalui di dunia. Maka biarlah
kuantar mereka sampai ke gerbang kehidupan, dan kukatakan pada mereka:
"Inilah kehidupan yang dikaruniakan Allah kepadamu, wahai anak-anakku.
Kalian hanya harus mensyukurinya. Dan itulah alasan mengapa kalian harus
gembira menjalaninya".


Belajar Untuk Menjadi


Dalam miniatur kehidupan yang natural dan riil seperti itu, anak-anak
benar-benar dipandang sebagai manusia seutuhnya. Bukan sekedar robot cerdas -
yang harus dijejali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan - dimana jam-jam
belajar merupakan saat-saat "pengisian" yang mengerikan. Ledakan
informasi di abad ini barangkali membuat banyak orang panik. Sementara
kehidupan yang telah berubah menjadi medankompetisi yang kejam mendorong mereka berpikir, bahwa untuk bisa bertahan hidup
anda harus mengetahui segalanya.

Begitulah sekolah-sekolah kita didirikan sebagai tempat menjajakan
"barang-barang" yang bernama ilmu pengetahuan, yang harus
"dimiliki" setiap orang agar bisa bertahan hidup. Maka kita mengagumi
"kecerdasan". Karena itulah mata uang paling bergengsi yang digunakan
membeli "barang-barang" tersebut. Dan belajar adalah proses
transaksinya.

Di sekolah seperti itu anak-anak belajar "menguasai" pelajaran. Bukan
menjadi sesuatu dengan pelajaran tersebut. Makin banyak pelajaran yang dapat
mereka kuasai, makin baik transaksi mereka. Maka kita sekolah-sekolah berburu
anak-anak cerdas, yang dapat melakukan banyak transaksi.

Tapi yang kemudian kita saksikan justru sebuah ironi. Anak-anak itu tidak mengalami
transformasi pembelajaran. Pelajaran matematika, misalnya, tidak serta merta
membuat mereka dapat berpikir logis. Pelajaran sejarah tidak memberi mereka
kesadaran dan emosi akan identitas kolektif. Pelajaran bahasa bahkan tidak
membantu mereka berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar adalah proses berubah secara konstan!!!

Pengetahuan bukan barang yang harus kita miliki. Pengetahuan adalah sebuah
fungsi. Ia adalah cahaya yang menerangi ruang kesadaran batin kita. Seperti
umumnya cahaya yang berpendar-pendar di tengah ruang gelap, kita hanya bisa
bergerak secara baik dalam jengkal-jengkal ruang yang dibingkai cahaya. Sebagai
sebuah fungsi kita harus mempelajari semua pengetahuan yang membantu kita
berubah menjadi lebih baik. Belajar adalah proses menggunakan pengetahuan
sebagai penuntun perjalanan mendekati kesempurnaan secara konstan. Belajar
adalah proses menjadi secara konstan. Karena menjadi merupakan proses yang
tidak pernah berakhir, maka belajar adalah satu-satunya proses kehidupan yang
tidak pernah selesai.


Manusia adalah gabungan yang rumit antara ruh, emosi, akal dan fisik. Setiap
aspek itu, kata Muhammad Quthub, seperti senar gitar yang harus dipetik bersama
untuk melahirkan simfoni kepribadian yang utuh dan indah. Anak-anak bukan
tabung besar yang harus diisi dengan pengetahuan. Mereka adalah senyawa
kehidupan yang rumit dan kompleks. Mereka berubah, berbentuk dan
bermetamorfosis melalui proses-proses yang juga kompleks, dimana pengetahuan
hanyalah salah satu aspeknya.

Dalam konteks itu, maka semua pengetahuan yang mereka butuhkan untuk membangun
kehidupan yang lebih baik harus mereka pelajari. Sebaliknya, semua pengetahuan
yang tidak mempunyai fungsi spesifik dalam kehidupan riil mereka tidak perlu
mereka pelajari. Jenis pengetahuan terakhir ini, kata Umar Bin Khattab, bukan
aib untuk tidak diketahui. Itu sebabnya Rasulullah saw mengajarkan kita sebuah
doa: "Ya Allah ajari kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan beri kami
manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan pada kami". Dengan begitu,
pengetahuan bekerja dalam kehidupan mereka, sebagai sumber pencerahan hidup.


Begitulah saya menyaksikan anak-anak saya tumbuh dan berkembang, terus menerus
berubah dan menjadi sesuatu yang lain, bersamaan dengan pertambahan usia
sekolah mereka. Gabungan antara pelajaran kelas, latihan outbound, penelitian
lapangan (outing), market day, dan lainnya, telah memberikan pemahaman dan
kesadaran yang relatif lebih utuh tentang kehidupan, membentuk struktur emosi
dan mentalitas yang lebih stabil, serta membangun sikap-sikap keseharian yang
lebih tercerahkan dari waktu ke waktu.
Apa yang mereka pelajari di kelas terasa begitu dekat kehidupan sehari-hari
mereka. Mereka, misalnya, belajar makna uang dan bagaimana menciptakannya
melalui kegiatan market day. Suatu saat anak sulung saya, Hisan, yang kini
duduk di kelas enam, mendapatkan untung sebesar 9000 rupiah dari hasil menjual
juice dalam acara market day. Dia benar-benar merasa menang.
"Sekarang", katanya, "Ican mulai tahu bagaimana caranya bikin
uang".

Pembelajaran seperti itu tentu saja menghadirkan pengetahuan dalam kehidupan
nyata mereka. Pengetahuan bekerja pada fungsinya: membimbing mereka menjalani
hidup. Itu sebabnya setiap pertambahan pengetahuan melahirkan
perubahan-perubahan baru dalam kehidupan mereka. Mereka menjadi lebih baik.
Mereka menjadi lebih tercerahkan.

Tradisi Ilmiah, Bukan Prestasi Belajar

Sekolah bukanlah lapangan pacuan kuda!!!

Tapi ada sekolah yang dirancang sebagai lapangan pacuan kuda. Disana anak-anak
dipacu untuk mengetahui lebih banyak. Bukan untuk menjadi sesuatu yang lebih
baik. Tapi untuk mengalahkan orang lain. Kemajuan belajar diukur dengan capaian
angka-angka. Bukan dengan perubahan-perubahan mendasar pada cara berpikir,
struktur emosi dan pola sikap.

Di sekolah seperti itu kasta-kasta baru dibangun berdasarkan kecerdasan!!!

Barangkali tidak sepenuhnya salah untuk membagi murid-murid kedalam kelas-kelas
berbeda berdasarkan tingkat kecerdasan. Yang salah adalah tren pembelajaran
yang kita kembangkan. Secara tidak sadar sebenarnya sekolah semacam itu
mengembangkan tren pembelajaran transaksional: anak-anak membayar mahal untuk
mendapatkan guru terbaik, agar bisa menguasai semua pelajaran dan lulus dengan
angka terbaik.

Sekolah semacam itu biasanya melahirkan anak-anak pintar, bukan pembelajar
apalagi ilmuwan. Mereka mempunyai prestasi belajar yang baik. Tapi tidak
memiliki tradisi ilmiah yang kokoh. Kalau kelak mereka mendapatkan gelar doctor,
prestasinya pasti summa cum laude. Tapi disertasi doktornya mungkin
merupakan karya ilmiahnya yang pertama dan terakhir. Secara intelektual mereka
mengalami diskontinyu. Mereka mungkin menduduki banyak jabatan akademik yang
terhormat. Tapi tidak akan pernah punya waktu dan perhatian untuk menggarap
karya ilmiah yang monumental.

Ada

beda yang
teramat jauh antara tradisi ilmiah dan prestasi belajar. Prestasi belajar yang
biasanya diukur secara kuantitatif melalui ujian, bukanlah indikator
terbentuknya tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah diukur melalui sikap seseorang terhadap
pembelajaran, pengembangan intelektual berkesinambungan, penggunaan cara
berpikir ilmiah dalam penyelesaian masalah, pembentukan keterampilan
intelektual seperti bahasa oral dan tulisan, aktualisasi intelektual
berkesinambungan, dorongan berkarya yang konstan.

Tren inilah yang hendak dibangun di Sekolah Alam. Sekolah ini menghapus sistem
rangking, yang bukan saja memicu pembentukan kasta baru berdasarkan kecerdasan,
tapi juga memandang potensi setiap siswa secara sama dan mengabaikan keunikan
dan diferensiasi individual pada bakat, minat dan intelejensi. Disini siswa
dipacu untuk tumbuh maksimal pada pusat keunggulan intelejensinya, yang menyatu
bersama bakat dan minatnya. Tidak ada persaingan antar siswa yang dilakukan
dengan standar yang sama. Sebab tujuan pembelajarannya membangun tradisi
ilmiahnya, bukan sekedar memicu prestasi belajar. Siswa-siswa itu bukan peserta
lomba pacuan kuda. Mereka dididik untuk menjadi pembelajar yang optimal dalam
pembelajarannya.

Pendidikan Untuk Zaman
Yang Berubah

Waktu adalah variabel lain. Persepsi kita tentang waktu mempengaruhi pola didik
kita. Kita tidak mendidik anak-anak kita untuk hidup pada zaman yang telah kita
lalui atau yang telah dilalui orang lain atau peradaban lain. Mereka memiliki
zamannya sendiri. Pendidikan bertujuan menyiapkan mereka untuk menghadapi zaman
mereka sendiri.

Anak-anak kita hidup pada sebuah zaman dimana pengetahuan berkembang pesat dan
merubah sendi-sendi kehidupan kita secara fundamental dan sangat cepat. Durasi
perubahan-perubahan besar dalam kehidupan kita berlangsung kilat, karena
faktor-faktor perubahnya bekerja simultan dan cepat. Ini menimbulkan kegamangan
dan disorientasi dalam dunia pendidikan.

Faktanya adalah kita tidak punya kendali atas zaman yang kelak akan dilalui
anak-anak kita kelak. Kita tidak punya kendali atas perubahan-perubahan itu.
Mungkin sekali kita bahkan sudah tidak ada ketika mereka mengalami
perubahan-perubahan besar itu. Tapi adalah juga fakta bahwa semakin cepat dan
sering suatu perubahan terjadi, semakin kita membutuhkan pegangan hidup yang
bersifat permanen, yang tidak ikut berubah dalam perubahan-perubahan itu.

Jadi yang dibutuhkan anak-anak kita adalah pegangan permanen itu. Yaitu
keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai agama. Agama mengajarkan mereka
hakikat-hakikat besar dalam kehidupan mereka: tentang asal usul mereka, tentang
tujuan hidup mereka, tentang nilai-nilai yang harus membimbing hidup mereka,
tentang faktor-faktor permanen yang membentuk kualitas hidup mereka, yaitu
penerimaan Allah, manfaat sosial dan pertumbuhan berkesinambungan.

Apabila mereka belajar tentang itu semua dengan benar, mereka tumbuh pada pusat
kehidupan yang benar dan pasti. Tapi itu saja tidak cukup. Mereka juga
membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang diperlukan untuk bertahan dan
bertumbuh pada semua situasi. Sebagiannya merupakan keterampilan intelektual,
sebagiannya lagi merupakan keterampilan emosional, sebagiannya lagi merupakan
keterampilan fisik.

Sisanya biarlah mereka yang memperlajarinya sendiri!!
Itu yang dikembangkan Sekolah Alam. Membangun kemampuan-kemampuan dasar pada
anak yang membuatnya proaktif dan adaptif terhadap perubahan-perubahan
lingkungan. Kemampuan berpikir logis misalnya. Jika seorang anak mampu berpikir
logis, itu mungkin lebih penting ketimbang sekedar mendapatkan angka tinggi
dalam pelajaran matematika. Sebab kemampuan itu yang memberika kekuatan
"mencerna" masalah-masalah hidupnya. Begitu juga latihan outbound.
Disini mereka melatih keberanian, kesabaran, keuletan, kerjasama tim, kepemimpinan.
Latihan ini membangun struktur mentalitas mereka secara kuat yang membuat
mereka tahan terhadap goncangan-goncangan hidup.

Eskperimen Yang Belum
Selesai


Namun tetap saja perlu dicatat: Sekolah Alam adalah eksperimen yang belum
selesai. Usia sekolah ini masih terlalu muda. Selain itu, jangan mengharap
anak-anak kita jadi sempurna di usia 12 tahun ketika ia menamatkan sekolah
dasarnya. Tapi itu memang tabiat dunia pendidikan: dunia eksperimentasi tanpa
henti. Disanalah proses kreatifnya berlangsung. Karena lingkungan strategis
terus berubah, maka eksperimen-eksperimennya perlu dikembangkan terus menerus.

Yang penting adalah apresiasi yang kita berikan terhadap setiap eksperimen
baru. Dan buku (Sekolah Impian) yang sekarang hadir di hadapan pembaca ini
adalah sebentuk apresiasi terhadap eksperimen yang belum selesai itu. Buku ini
merupakan catatan kesan dari semua orang yang terlibat dalam eksperimen
tersebut.

Ada

penginisiatif awal, pimpinan lembaga, guru dan orang tua murid. Dengan mengangkat
berbagai aspek dari proses pembelajaran di Sekolah Alam, buku ini bertujuan
mengangkat eksperimen-eksperimen pendidikan Sekolah Alam sebagai sebuah
diskursus pendidikan.

Eksperimen-eksperimen itu tidak harus benar. Tapi pahala memulainya telah diraih,
sekarang tinggal merebut pahala perbaikan dan penyempurnaannya. Apa yang
penting dalam sebuah eksperimen bukanlah hasilnya. Tapi bibit yang ditanam
dalam eksperimen itulah yang kelak akan berbuah: niat baik, kerja keras, obsesi
kesempurnaan, kelapangan dada menerima kritik dan kerendahan hati merima
pujian, tidak cepat puas dengan keberhasilan-keberhasilan kecil, serta anggapan
yang tidak pernah hilang bahwa semua sukses dalam eksperimen ini semata-mata
merupakan rahmat Allah, bukan karena kehebatan kita.

Semoga Allah menerima amal-amal kita, memaafkan kelalaian-kelalaian kita, dan
menyempurnakan kekurangan-kekurangan kita. Semoga keterlibatan kita dalam dunia
pendidikan ini, dalam posisi sebagai apapun, menjadi amal unggulan yang akan
mengantar kita meraih ridha Allah dan surga-Nya kelak. Amin.

Jakarta, 22
September 2003


Anis Matta

SAYAP YANG TAK AKAN PERNAH PATAH

June 3rd, 2008 by anismatta

Mari kita bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak sampai, atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas ditempa takdir, atau layu tak berbalas.
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.
Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau, jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana, Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, Maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

PKS ADALAH MASA DEPAN….

May 5th, 2008 by anismatta

 

 

 

“Saya rasa antum tidak perlu taujih, visi misi sudah
jelas, kita hanya tinggal menunggu takdir baik kita di 2009”. Takdir
bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, akan tetapi ia sesuatu yang kita
‘ikut’ ciptakan. Antara kehendak kita yang kita harapkan bertemu dengan
kehendak Allah.

2009
adalah tahun keajaiban bagi banyak orang, banyak orang-orang diluar PKS
mengatakan 20% terlalu besar untuk PKS. Ikhwah di DPP bilang: “hanya
keajaiban yang buat kita bisa dapat 20%”, saya bilang: “Maka keajaiban
itu harus kita wujudkan 2009 nanti. Bahkan, kalau 20% itu keajaiban,
maka kita ingin melampaui keajaiban itu. 20% adalah angka yang harus
kita lampaui akhi.”

Kita
adalah anak-anak muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban,
partai ini bertugas untuk ciptakan keajaiban. 20% adalah tugas sejarah
untuk kita. Umar ibn Khotthob pernah mengatakan: “Setiap saya
menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda”

SBY
pernah ditanya: “kenapa minta didukung PKS?” jawabnya: “saya butuh
dukungan moril dari PKS” –beliau tahu, bahwa kita ini tidak bisa
diharapkan untuk dukungan dana, karena PKS gak punya duit.

Tahun ‘70-an Presiden Korsel Park Jung He ke aceh, dia lihat ayat Qur’an di sebelah Masjid Baiturrahman: “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” –beliau
bertanya; “artinya apa?”, “Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum,
sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri”. Jadilah ayat itu
dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi
pemerintah; “Tuhan tidak mengubah keadaan Korea Selatan, sampai rakyat
Korea yang mengubah keadaannya sendiri”. Padahal hanya satu ayat tapi
luar biasa hasilnya sekarang. Kalau kita karena kebanyakan ayat, ada
6666, jadi bingung mau mulai dari mana.

Pendiri
republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang memulai dan
melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini yang salah. Ini
menimbulkan ketidakpastian, maka inilah tanggungjawab kita untuk
mengakhiri ketidakpastian. Mereka yang mengisi era pasca orba adalah
orang yang menghabiskan 30 tahun hidupnya di orde baru, ini dalam
bahasa manajemen disebut dismatch/diskontinu.

 

Karena Realitas Berubah, Tapi Pikiran Tidak Berubah.

 

Gaya
kepemimpinan yang ditawarkan PKS adalah egaliter, demokratis. Dalam
politik Indonesia belakangan, parpol tidak tawarkan sesuatu yang baru
bagi masyarakat, sehingga Soeharto bisa naik kembali menjadi presiden
Indonesia yang paling dicintai rakyatnya diantara presiden-presiden
republik ini yang pernah ada. Kami menyebut masa ini sebagai:
kepemimpinan nasional yang disconnecting dengan bangsanya
sendiri. Orde lama demokratis tetapi tidak sejahtera, sedangkan orde
baru sejahtera, tapi tidak demokratis. Maka, kita ingin padukan itu.
Demokratis dan Kesejahteraan dalam sebuah neraca yang seimbang.

 

Maka Kami Tegaskan, Bahwa 20% ini Bukanlah Angka, Tetapi Simbol Dari Tekad.

 

Ketika
Hasan Al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu Mesir masih dijajah
Inggris. Imam Syahid mengawali dengan 7 sasaran dakwah, dan poin ke-7
adalah Ustadziyatul ‘Alam. Sebuah cita-cita besar yang jauh melampaui
langkah kaki. Bangsa yang sedang dijajah ingin menjadi guru bagi
peradaban manusia? Ini menghasilkan utopia, yang mana orang-orang
bersahaja saat itu percaya bahwa hal ini bisa diwujudkan, meskipun
tidak pada masa mereka.

Hampir
seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama’ah yang
legendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya. Karena
orang itu dipimpin bukan oleh seorang Al Banna, tetapi oleh ide-ide
besar.

Seorang
guru pernah membawa mangkuk besar kemudian diisi batu-batu besar sambil
bertanya pada murid-muridnya: “Apakah mangkuk ini sudah penuh?” –sudah,
jawab muridnya. Kemudian sang guru mengisi mangkuk itu dengan pasir,
dan pasir itu memenuhi sela antara batu-batu besar, kemudian sang guru
kembali bertanya: “Sudah penuhkah mangkuk ini?” –kali ini murid
terpecah menjadi dua; ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum,
meskipun tidak tahu dimana belumnya. Kemudian guru itu menyiramkan air
ke dalam mangkuk, dan air itu pun membasahi pasir dan memenuhi mangkuk
itu sekali lagi.

Kemudian
guru itu mengambil mangkuk yang baru, dan diisinya dengan pasir,
sejenak kemudian ia berkata: “apakah mangkuk ini masih muat untuk batu2
besar ini?”-spontan para murid mengatakan :”tidak”, -“maka seperti
itulah kepala kita, jika kita isi dengan hal-hal yang kecil, maka ia
tidak akan pernah sanggup diisi oleh ide-ide besar. Fikirkanlah ide-ide
besar, maka hal yang kecil akan termuat dengan sendirinya.”

 

Lalu Kenapa PKS Harus Diberi Kesempatan Memimpin Republik ini?

 

Jawabannya
tidak ada kecuali karena satu hal: “Keadilan” ; karena jika kita sudah
melihat para pemimpin lain sudah pernah gagal, tolong beri satu
kesempatan pada kader-kader PKS untuk memimpin bangsa ini dan ikut
gagal bersamanya. Tapi jika kita bisa mengubah kegagalan itu? Kita
tidak butuh terima kasih dari Indonesia.

Islam dan keIndonesiaan harus menjadi satu, setiap jengkal wilayah teritorial republik ini adalah lahan dakwah kita. Islam dan keIndonesiaan ibarat isi dan kulit, ibarat makna dan kata.

Ini
adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah
kemenangan dan menutupnya, cerita tentang bagaimana PKS menyiasati
semua keterbatasannya. Memenangkan pemilu 2009 adalah tugas sejarah
bagi PKS.

Jika
kita membayangkan layar komputer atau display HP di masa depan. Fitur
apakah yang kita inginkan terpampang sebagai fitur utama? Jika Layar
komputer dan display HP itu adalah Indonesia, maka kita ingin PKS
menjadi fitur utamanya.

 

PKS Adalah Fitur Masa Depan Indonesia.

 

Hal ini dikarenakan 2 hal : Ide besar dan great performance. Semua ini ada di PKS. Dan partai apapun yang mampu tawarkan solusi bagi Indonesia akan memimpin republik ini.

Banyak
orang makan, sampah akan banyak, sampah adalah problem. Partai yang
bisa memberikan solusi untuk sampah: adalah masa depan. 230 juta
penduduk Indonesia dan terus bertambah, membutuhkan lapangan kerja,
mengakibatkan pengangguran. Partai yang bisa memberikan solusi untuk
pengangguran: adalah masa depan.

 

PKS Adalah Simbol Dari Ide-ide Besar dan Kinerja-kinerja Besar.

 

Soekarno
mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena legendaris, berfikir
tidak seperti orang lain berfikir, Soekarno memikirkan revolusi.
Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu bernama pembangunan.
Kenapa para Presiden republik ini yang menjabat setelah reformasi hanya
bertahan 12-16 bulan? Karena mereka berfikiran pendek dan tak ada ”narasi besar” dalam fikiran mereka.

Penafsiran
tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru adalah
kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan, sebagaimana mereka
juga memiliki kebaikan. PKS adalah matchmaker, PKS mensintesa
kebaikan-kebaikan periode sebelum reformasi. Kita mensintesa demokrasi
dan kesejahteraan. Demokrasi orde lama yang mengeliminsai
kesejahteraan, dan kesejahteraan orde baru yang mengeliminasi demokrasi.

 

Jika PKS Bisa Mewujudkan Sintesa Ini, Maka Kita adalah Masa Depan

 

PKS
menggabungkan orde lama yang adil tapi tidak makmur, dan orde baru yang
sejahtera tetapi tidak demokratis. Maka nama partai ini adalah Partai
Keadilan Sejahtera. Jika sekarang kita membuat program “PKS mendengar”,
sudah saatnya kita memulai ujung dari program ini, yaitu “PKS bicara”

Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata:

Tuhan,

Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta.

Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini menjadi satu

 

Kita adalah Simbol Perekat yang Akan Memimpin Reformasi.

 

Lidi
kita adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita
harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita
membentuk sapu lidi bersama. Itulah yang dituntut dari PKS sebenarnya,
tidak hanya bersih, tetapi juga membersihkan. Kenapa reformasi jalan di
tempat? Karena semua orang yang punya potensi tidak tahu dimana
tempatnya.

KPK
anggarannya 78 M setahun, tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah
dari korupsi setahun 24 M. Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran
untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat
skandal itu yang harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu
hanya 10 juta $ paling banyak. Ini cara membunuh nyamuk dengan meriam.

Kita
selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian disana
tidaklah cukup, kita harus menjadi unsur perekat yang membuat seluruh
warga Indonesia peduli, itu baru cukup.

Berkumpul
tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh atau acara
seperti ini, tempat sudah penuh, tapi tidak ada yang membuka dan
memimpin acara, tak ada yang dikerjakan bersama, semua hanya datang dan
berbicara diantara mereka tentang kebaikan dan kerja bersama.
Perkumpulan tersebut adalah sia-sia.

 

Maka Matchmaker Ini Harus Dibarengi Dengan Satu Kemampuan Lain: Inovator

 

Inovator
adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita mendahului langkah kita dan
langkah orang lain, bahkan langkah semua orang di republik ini. Seorang
ulama dakwah menyatakan : “Jika satu jama’ah itu hanya dipenuhi oleh
massa yang banyak, maka jama’ah itu akan punya jangkauan tangan dan
kaki yang panjang tapi jangkauan mata yang pendek, sehingga sering
tersandung dan jatuhlah jama’ah itu. Sebaliknya jika sebuah jama’ah itu
hanya punya massa yang sedikit, meskipun banyak intelektual maka
jama’ah itu akan memiliki jangkauan mata yang luas tetapi jangkauan
tangan yang pendek, sehingga hanya bisa berangan-angan tapi kemudian
bersedih”

Maka
Ibnu Qayyim mengatakan tidak boleh melihat akhwat, karena itu akan
mewariskan kesedihan. Pandangan mata akan diikuti hasrat, tetapi hasrat
diikuti ketidakberdayaan. Maka ia hanya akan mewariskan kesedihan.

Kita memiliki semua yang dibutuhkan masyarakat; massa besar, tertib, santun, militansi, visi misi, kesetiaan, ketaatan, semua.

Mengapa
Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu, bahwa
al-Qur’an diturunkan ayat demi ayat untuk menjawab setiap dimensi
kemanusiaan yang terjadi dikalangan sahabat. Bahwa wahyu selalu
mendahului langkah kaki para sahabat.

Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: “inna fatahna …”
–jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan aman. DR. Said
Ramadhon al Buthi dalam Fiqhu Shirah menjelaskan bahwa pada saat ayat
tersebut diturunkan, mayoritas sahabat tidak tahu apa arti dari ayat
tersebut. Sampai mereka mengalaminya 2 tahun kemudian dan tersadar
bahwa Al-Qur’an telah mendahului mereka.

Perang
Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-Anfaal, Allah
sudah memperingatkan kaum muslimin agar tidak tergoda. Kenyataannya
setelah perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan Hamzah bin Abdul
Mutholib –paman nabi, Mush’ab bin Umair –sahabat yang sangat dicintai
Nabi, dan 70 sahabat syahid. Allah tidak kemudian menghinakan, tetapi
turun ayat “laa khoufu, walaa tahzanu…”

PKS
akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat
non-muslim akan mengatakan: “Perbedaan agama sudah tidak relevan
sekarang”, dan masyarakat Muslim akan mengatakan: “Memang andalah yang
menampilkan Wajah Islam dengan benar”

7 Kata kunci strategi
pemenangan pemilu 2009 tidak perlu dihafal sebagaimana antum hafalkan
al-Fatihah. Hanya butuh keyakinan & senyuman, kemudian rasakan aura
kemenangan dan sebarkan itu kepada para kader dakwah.

Itulah yang dirasakan
para sahabat yang berperang bersama Kholid bin Walid, mereka tidak
pernah bertanya strategi, taktik, tahapan seperti apa. Berperang
bersama akh Kholid saja itu sudah cukup. Begitulah semangat dengan
keyakinan.

Khalid bin Walid
ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh para pendeta,
pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam peperangan adalah
mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin Walid. Khalid tahu
persis itu yang para pendeta itu lakukan, akan tetapi Khalid tetap
meminum air beracun itu untuk mengatakan pada musuh Allah itu: ”Dengan
izin Allah, racun ini tidak akan membunuhku”, sambil membaca do’a yang
setiap hari kita baca dalam ma’tsurat: “Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’ wahuwas samii’ul ‘aliim”

Di Afrika, semua rusa
bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak
berlari lebih kencang dari singa, maka mereka akan mati dimakan. Di
Afrika, semua singa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa
jika mereka tidak berlari lebih cepat dari rusa, maka mereka akan mati
kelaparan.

Di
Indonesia, semua petinggi partai lain bangun di pagi hari dengan satu
kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari PKS, maka
konstituen mereka akan habis, dan PKS akan menang di 2009.

Kita
telah menyampaikan pesan pada mereka melalui ratusan pilkada di daerah,
bahwa setiap kita menang, kita memperolehnya dengan sarana yang
pas-pasan. Dan ketika mereka menang, mereka membayarnya dengan harga
yang terlalu mahal. Pesan itu telah jelas di kepala mereka:
“Pertarungan jangka panjang melawan PKS bukan suatu pekerjaan yang
mudah”. Dalam keadaan miskin saja mereka harus setengah mati kalahkan
kita apalagi jika keadaan kita besok lebih baik daripada sekarang ini?

Sekarang
ini pesan-pesan ini telah sampai, pasca Mukernas (di Bali) bahkan orang
partai lain sudah berfikir: “PKS sudah masuk kandang kita”. Top ten
media adalah Mukernas, 5 dari narasumber terbanyak yang dihubungi
selama pekan ini oleh media adalah PKS.

 

Dan Ini Semua Hanya ‘Isyarat Pendahuluan’.

 

Sejarah
seperti apa yang ingin kita tulis? Mari berimajinasi, saat 20, 30, 40
tahun lagi guru SD IT bercerita tentang sejarah hari ini kepada
cucu-cucu kita, “Dahulu kala.. ada sebuah partai..”. Maka ending cerita
ini jelas, bahwa 20% adalah tugas sejarah untuk kita.

Sepanjang
tahun saya selalu ditanya oleh Suara Pembaharuan dengan pertanyaan yang
sama: “Apakah anda ingin membuat partai lagi jika PKS tidak lolos ET?”,
maka saya menjawab: “jika 1999 kemarin kita tidak lolos kemudian kita
membentuk PKS, maka 2004 kami akan membentuk Partai Keadilan dan
Sejahtera dan Kebahagiaan, dan jika 2009 kita masih tidak lolos juga,
kami akan membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan serta
Kehormatan”

 

Wa antum a’lamu inkuntum mukminiin,
kemudian pertanyaan itu sekarang berubah: “Apakah PKS siap memimpin
republik ini?”… kita menjawab: “20% adalah cerita yang kita buat hari
ini” ■

Orang-orang Romantis

May 5th, 2008 by anismatta

Qais sebenarnya tidak harus bunuh diri. Hidup tetap bisa dilanjutkan tanpa Layla. Tapi itulah masalahnya. Ia tidak sanggup. Ia menyerah. Hidup tidak lagi berarti baginya tanpa layla. Ia memang tidak minum racun. Atau gantung diri. Atau memutus urat nadinya. Tapi ia membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sampai napas berakhir. Tidak bunuh diri. Tapi jalannya seperti itu.

Orang-orang romantis selalu begitu : rapuh. Bukan karena romantisme mengharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur. Kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama. Qais lelaki yang halus. Sekaligus lemah.

Kombinasi begini banyak membuat orang-orang romantis jadi sangat rapuh. Apalagi saat-saat menghadapi badai kehidupan. Misalnya ketika mereka harus berpisah untuk sebuah pertempuran. Maka cinta dan perang selalu hadir sebagai momen paling melankolik bagi orang-orang romantis. Mengerikan. Tapi tak terhindarkan. Berdarah-darah. Tapi tak terelakkan. Itu dunia orang-orang jahat. Dan orang-orang romantis datang kesana sebagai korban.

Begitu ruang kehidupan direduksi hanya ke dalam kehidupan mereka berdua dunia tampak sangat buruk dengan perang. Tapi kehidupan punya jalannya sendiri. Ada kaidah yang mengaturnya. Dan perang adalah niscaya dalam aturan itu. Maka terbentanglah medan konflik yang rumit dalam batin mereka. Dan orang-orang romantis yang rapuh itu selalu kalah. Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang beriman : kalau mereka mencintai istri-istri mereka lebih dari cinta mereka pada jihad, maka Allah pasti punya urusan dengan mereka.

Tapi itulah persoalan inti dalam ruang cinta jiwa. Jika cinta jiwa ini berdiri sendiri, dilepas sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya memang biasanya kesana : romantisme biasanya mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya ke dalam ruang kehidupan mereka berdua saja. Karena di sana dunia seluruhnya hanya damai. Di sana mereka bisa menyambunyikan kerapuhan atas nama kehalusan dan kelembitan jiwa. Itu sebabnya cinta jiwa selalu membutuhkan pelurusan dan pemaknaan dengan menyatukannya dengan cinta misi. Dari situ cinta jiwa menemukan keterahan dan juga sumber energi. Dan hanya itu yang memungkinkan romantisme dikombinasi dengan kekuatan jiwa. Maka orang-orang romantis itu tetap dalam kehalusan jiwanya sebagai pecinta, tapi dengan kekuatan jiwa yang tidak memungkinkan mereka jadi korban karena rapuh.

Ketika kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, janda itu hanya menjawab enteng, Alhamdulillah, sekarang dia mungkin sudah bersenang-senang dengan para bidadari…

Uang

March 15th, 2008 by anismatta

ini adalah bagian dari ceramah saya ketika Jaulah, sekedar ide semoga bermanfaat dan menjadi bahan untuk didiskusikan, meski ada Ikhwah yang mengatakannnya Anismismi ( ajaran anis) yang terkesan glamour dan konsumtif… tapi sekali lagi ini adalah sekedar ide…


Bismillah,
Ikhwan dan Akhwat sekalian,

Alhamdulillah kita
dipertemukan oleh Allah dipagi hari ini, walaupun kemarin saya ragu- ragu
apakah saya bias hadir hari ini atau tidak. Istri saya sakit demam berdarah dan
dirawat dirumah sakit hingga hari ini. Alhamdulillah hari ini ada perbaikan
sedikit dan bisa ditinggal. Selain itu, rasanya sudah rindu sama antum semuanya
karena cukup lama tidak kesini. Sebenarnya saya punya rencana kunjungan kesini
pada bulan januari yang lalu dalam rangkaian jaulah ke 13 DPW bersama 13
pengurus Bidang Kaderisasi dan Bidang Pembinaan Wilayah. Rencana itu dibatalkan
karena saat itu sedang musim pesawat jatuh, jadi ada 8 DPW yang kita pending
perjalanannya termasuk ke

kota

Pekan Baru ini.

Ikhwan sekalian.
Pagi ini kita bicara tentang uang. Sudah lama sekali saya mengusulkan bagian
kurikulum di departemen kaderisasi untuk memasukkan pokok bahasan tentang uang.
Gagasan- gagasan itu mulai muncul ketika saya dahulu berada diawal dakwah ini.
Salah satu pekerjaan yang saya lakukan adalah Lajnah Minhaj, di Bidang
Kaderisasi bersama kang Aus. Saat itu, saya ikut menyusun beberapa Materi
Tahmidi H1, H2. Kita memang tidak pernah berfikir untuk menyusun satu materi
tentang uang karena yang ada dibenak kita bahwa bagian- bagian dari tarbiyah
itu adalah tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketika
kita membuat partai, kita menambah sedikit yaitu materi tarbiyah siyasiyah.

Jadi Kalau wasilah
dari tarbiyah ruhiyah itu banyak, ada Lailatul Katibah juga mutaba’ah yaumiyah.
Wasilah tarbiyah fikriyah juga banyak tatsqif dan macam- macam. Tarbiyah
Jasadiyah ada latsar ada mukhoyam. Tarbiyah siyasiyah sudah dengan sendirinya
karena ada wasilah berupa partai. Tapi kita semuanya menghadapi suatu benturan
realita yang disebabkan karena ada missing link dalam system berfikir kita.

Ada satu kosa kata yang
tidak masuk kedalam benak kita padahal itu sangat menentukan masa depan kita
yaitu uang. Jika ada yang bertanya kenapa kita miskin maka jawabannya karena
memang kita tidak belajar masalah uang.

Ikhwan sekalian
Salah satu gejala benturan budaya yang sering kita lihat muncul bersama
munculnya orang- orang setengah kaya baru. Tapi itu tidak disebabkan karena
bibit- bibt kemiskinan itu memang ada dalam diri kita, ada dilingkungan kita,
bahkan ketika kita mulai membuat partai. Padahal kita belum kaya dan memang
belum kaya. Apabila kita memakai standard Kiyosaki, masuk dalam tahap amanpun
belum. Tapi sudah dianggap hanya kayak arena sdikit beda dengan teman- teman
ikhwah yang lain. Kita dianggap kaya karena memiliki mobil padahal mobil itu
kebutuhan pokok dalam fiqih Islam. Kita juga dianggap kaya karena bias bangun
rumah, padahal itu indicator dari garis kemiskinan. Rasulullah mengatakan
“Cukuplah bagi seorang Muslim itu bahwa dia punya sebuah rumah dan seorang
pembantu”. Jadi, rumah itu sama dengan pakaian. Hanya saja, dilingkungan kita,
banyak yang mempunyai anggapan, orang disebut kaya kalau sudah punya rumah.

Ikhwah sekalian
Oleh karena itu, banyak sekali yang bolong dalam tsaqafah kita tentang uang.
Kita bukan hanya salah membuat persepsi- persepsi itu, tetapi juga terkadang
mempunyai kecenderungan anti uang. Kalau istilah Ust Rahmat Abdullah ikhwah itu
sabar menderita tapi tidak sabar melihat orang lain lebih kaya. Makanya mudah
muncul gossip dikalangan orang yang punya sedikit kelonggaran secara financial,
apalagi kalau sebab kelonggaran finansialnya itu karena dia menjadi anggota
dewan. Jadi pada tahun 1999, saya jadi ketua tim khusus. Pada waktu itu sebagai
Sekjen saya tahu persis dimana letak daerah kuatnya PKS kalau saya mau jadi
anggota dewan.

Ketika
itu saya dicalonkan dari

Bandung

,

Jakarta

dan Sulawesi
Selatan atas usul DPW masing- masing. Nah, pilihan tertinggi jatuh pada
Sulawesi Selatan. Waktu itu saya belum mau jadi anggota dewan karena saya belum
punya rumah dan mobil. Saya tidak tidak mau bila nanti ada persepsi bahwa saya
punya mobil dan rumah karena jadi anggota dewan. Oleh karena itu saya pilih
Sulawesi Selatan. Jika saya pilih

Bandung

atau

Jakarta

pasti saya
terpilih jadi anggota dewan pada tahun 1999. pasti saya terpilih jadi anggota
dewan pada tahun 1999.
Saya mengerti persepsi- persepsi, gossip dan fitnah tentang harta dikalangan
kita itu banyak disebabkan tsaqafah yang bolong tentang uang. Jadi, kita bukan
hanya tidak berbakat jadi kaya tapi juga tidak senang dengan orang kaya dan
cenderung anti kekayaan.

Kapan saatnya kita
mulai mengalami benturan keuangan. Yang pertama setelah kita punya anak. Dahulu
waktu saya kuliah, kita dimotivasi untuk cepat menikah oleh para murabbi kita,
dengan satu alasan kemaksiatan sudah merajalela disekitar kita, daripada kita
berzina lebih baik kita menikah. Kalau kita berargumen lagi bahwa kita belum
ada pekerjaan karena kita masih kuliah, jawabannya adalah: tawakkal ‘alallah,
innallaha Ghoniy, selurh alasan- alasan aqidah dikerahkan untuk mendorong kita
nikah.

Sebagian besar
angkatan saya menikah ditahun pertama waktu kuliah. Saat itu saya belum
menikah. Ditahun kedua lebih lebih banyak lagi yang menikah, saya belum
menikah. Ditahunketiga lebihbanyak lagi yang menikah. Saya termasuk yang telat
menikah pada waktu itu.

Tapi kemudian kita
menemukan fakta bahwa ikhwah-ikhwah yang menikah semasa kuliah itu sebagian
besar angka pelajarannya jeblok karena disibukkan dengan dakwah juga harus
mencari ma’isyah. Saya menikah ditahun keempat setelah angka saya stabil karena
naik satu point lagi. Dosen saya sampai mengatakan, kalau kamu ambil Master,
menikah satu kali lagi.

ada ikhwah yang mengatakan kepada saya, Masya Allah, Antum ini merencanakan sesuatu
dengan detail. Saya bilang antum punya semangat tapi tidak punya rencana bagus.

Jadi kita semua
mulai mengenal uang dan mempunyai persepsi bahwa uang itu perlu ketika anak
kita menangis. Ketika saya datang ke calon mertua –saat itu beliau anggota DPR
dan sudah 17 tahun menjadi petinggi Golkar- untuk melamar, dia bertanya kepada
saya: “Anak saya mau dikasih makan apa?” Saya bilang mungkin saya tidak share
dirumah bapak tapi Insya Allah tidak makan batu. Kemudian dia bertanya lagi,
“Pendapatan kamu berapa?” Saya jawab, saya ada beasiswa 200 ribu perbulan.
“Selain itu apa lagi?” Saya bilang tidak ada. “Masih kuliah”. Tapi waktu itu
istri saya mengancam, kalau tidak kawin dengan saya, dia tidak mau kawin lagi.
Akhirnya kita menikah juga. Jadi kita ini ikhwah learning by accident. Belajar
dari benturan.

Ikhwah sekalian
Rasanya saya sendiri sebenarnya tadinya tidak pernah tertarik mengenal uang
lebih jauh. Karena 6 tahun saya di Pesantren juga tidak pernah belajar uang.
Lima tahun setengah kuliah di LPIA Fakultas Syari’ah juga tidak pernah belajar uang
kecuali 1 bab dalam pelajaran Fiqh yaitu kitab zakat, itupun dalam orientasi
Amil Zakat, tidak ada orientasi menjadi muzakki. Saya mulai tertarik dengan
uang setelah mengalami benturan diawal tadi saya ungkapkan, juga benturan
ketika saya di Sekjen. Setelah jadi Sekjen itulah saya mulai menilai ada suatu
masalah besar yang akan kita hadapi kalau masalah- masalah ini tidak selesai.
Sejak itulah saya mempelajari hal ini. Sebelumnya meskipun saya mengajar
Ekonomi Islam di UI, banyak belajar dan membaca masalah- masalah ekonomi, juga
banyak membaca buku- buku bisnis dan bergaul dengan orang- orang bisnis, saya
belum seberapa tertarik secara langsung dan punya perhatian secara khusus
terhadap masalah uang. Ketertarikan itu mulai muncul setelah mengalami benturan
betapa sulitnya kita mendanai aktifitas kita setelah kita terjun di
perpolitikan ini.

Ikhwah sekalian
Saya ingin bicara 3 point supaya kita lebih terarah dalam soal uang.
Pertama, Mengapa Islam menyuruhkita kaya
Kedua, Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin
Ketiga, Bagaimana kita mulai merekonstruksi kehidupan financial kita.
Ibnu Abid Duni menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua
diperintahkan menjadi kaya dalam Islam itu. Alasan Pertama, karena harta itu
tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau punya harta punggungnya rada
bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang ke sini
tegap-tegap semua kan ,
karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan kita kumpul di CGI tunduk-tunduk
semua, karena mau pinjam duit. Allah mengatakan “Janganlah kamu berikan harta-
harta kamu kepada orang-orang bodoh (orang-orang yang tidak sehat akalnya)
yaitu harta harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung
tegap”. Jadi Hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti
punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.

Alasan kedua,
peredaran uang itu adalah indicator keshalehan atau keburukan masyarakat.
Apabila uang itu beredar lebih banyak ditangan orang- orang jahat maka itu
indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-
orang shaleh maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat.
Masyarakat

Indonesia

ini rusak salah satu indikasinya karena karena orang- orang shalehnya sebagian
besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul Masjid dinegeri ini terdiri atas
fuqara wa masakin. Bahkan sebagian besar orang mungkin mengunjungi masjid bukan
karena benar- benar ingin ke Masjid, melainkan karena tidak punya tempat untuk
dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang- orang tua yang dating
kemasjid biasanya orang yang kalah dalam pergulatan social. Kalau dia tentara,
biasa setelah pension baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya setelah
dia bangkrut baru dia ke masjid.

Rasulullah SAW
mengatakan “ Sebaik- baik uang itu adalah uang yang beredar diantara orang-
orang shaleh”’ Jad Apabila kita yang ada disini tidak mengendalikan uang yang
ada di Riau, itu adalah tanda- tanda yang tidak bagus. Kenapa? karena kalau
uang itu berada ditangan orang- orang shaleh maka uang itu akan mengalir di
saluran- saluran yang baik. Kalau ibu- ibu disini dibagikan 1 Milyar kira- kira
uang itu akan diapakan. Buat daftar belanjanya. Antum bias lihat semuanya itu
belanja kebaikan. Pertama, pasti akan dipakai untuk potongan partai. Coba lihat
anggota DPR, begitu jadi anggota dewan yang pertama potongan buat partai.

Waktu itu ada
teman dari Golkar dan PPP, “Itu dana konstituen diapakan?” Kita jawab itu tidak
lewat kita, melainkan langsung ke Dapil (Daerah Pemilihan). Uang yang masuk
ketangan orang shaleh pasti mengalirnya di kebaikan juga. “Kalau gajinya berapa
dipotong? Kalau di Golkar Cuma 2,5 juta per bulan dipotong”. Kalau di PKS itu
bias 50 sampai 60 % dipotong. Jadi antum lihatdaftar belanjanya orang shaleh.
Kedua, untuk rihlah, kemungkinan itu pergi umrah atau menghajikan keluarga atau
naik haji sendiri.

Bapak- bapaknya
pun kalau punya uang 1 Milyar, tidak jauh- jauh dari situ juga; infak buat
partai, menyenangkan keluarga, dan operasional pribadi untuk dakwah pribadinya
juga. Semuanya di jalur kebaikan. Bila ada kenikmatan, tidak mungkin dia pergi
judi. Tidak mungkin juga dia pergi ke tempat prostitusi, paling- paling dia
cari jalur halal.

Tapi coba
sebaliknya, kalau uang itu beredar ditangan orang jahat, larinya juga pada
kejahatan. Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya sangat
kaya di daerah

Indonesia

.
Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka
main judi ke

London

.
Pesawat private jet itu jenis Boeing. Jadi kalau pergi dia membawa rombongan,
biasanya dia parker disana 1 minggu atau 2 minggu. Itu kalau parker,

kan

bayar. Selama dia
main judi, dia persilahkan teman- temannya yang ingin pakai pesawatnya, seperti
layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, biasanya bias rugi samapai 5 juta dollar,
meskipun kadang- kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main kesana,
sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke Pilotnya tolong ke

Singapore

beli Nasi

Padang

terus balik lagi ke

London

. Begitulah cara mereka mengunakan uang.

Kalaupun orang
kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah, dan dia tidak
punya visi dakwah, dan tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya, dia
pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan
seterusnya. Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira- kira
sekitar 2 juta dollar di badannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya ½ juta
dollar, jam tangannya bias sampai 2 milyar. Adalagi temannya kira- kira punya
200-an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira- kira 2 milyar.

Lebih buruk lagi,
kadang- kadang orang kaya yang tidak baik memakai uangnya untuk memerangi
kebeikan. Itulah yang terjadi ketika orang- orang Yahudi memegang kendali
keuangan dunia. Maka dari itu menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan,
untuk mengembalikan keseimbangan social, kehidupan ditengah- tengah kita.

Ketiga, terlalu
banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5
rukun Islam, Syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak
pakai uang tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu orang umat Islam

Indonesia

tiap tahun pergi haji. Rata- rata mengeluarkan 5000 dollar, coba antum kalikan
berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi
Jihad. Jadi kita tidak bias berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di

Indonesia

sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak
diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang disana. Rasul Mengatakan
“Siapa yang menyiapkan seorang bertempur maka dia juga dapat pahala perang”.

Jadi banyak sekali
perintah- perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke
Madinah, diantara hadits- hadits pertama yang beliau smapaikan pada waktu itu
adalah Afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi mentraktir itu tradisi nabawiyah.
Sering- seringlah mentraktir karena itu perintah Nabi, dan ini turunnya di
Madinah pada saat menjelang mihwar daulah. Kira- kira di jaman kita inilah, di
mihwar dakwah sekarang. Washilul arham dan sambung dhilaturrahim. Antum akan
melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa cirri- cirri orang maju itu
salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja
kebutuhan lauk- pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya
pulsa kita lebih tinggi itu indicator yang baik. Itu artinya silahturrahim kita
jalan. Jangan missed call, suruh orang telpon balik.

Keempat, Karena
harta itu adalah hal- hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan
strata social. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang.
Apabila tidak punya uang, biasanya kita juga biasanya jarang didengar oleh
orang. Misalnya dalam keluarga. Antum bersaudara ada 7 orang. Kalau kontribusi
financial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu- satunya
da’I dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena
disamping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan
uang yang banyak. Hadiah- hadiah pada hari lebaran, infaq- infaq dan seterusnya
dan itu biasanya melancarkan dakwah kita.

Saya hadir pada
suatu waktu di sidang Ikatan anggota Parlemen Negara- Negara OKI. Setiap kali
ada waktu bertanya yang paling pertama diberi kesempatan bertanya itu utusan
dari Arab Saudi, sedangkan utusan dari Negara miskin seperti Maroko atau
Tunisia biasanya tidak dapat giliran, kalau bukan sendiri yang angkat tangan.
Masalah harta ternyat juga berpengaruh pada hal- hal seperti itu.

 

Pada tahun 1994
saya ke Jerman. Dua tahun baru selesai kuliah, disana saya bertemu dengan salah
seorang ikhwah pengusaha yang punya beberapa supermarket disana. Dia datang
menemui saya memakai Mercy. Saya protes kepada dia dengan semangat dakwah dan
jihad, antum itu tega pakai Mercy, saudara-saudara antum di Palestina disana
masih berjuang, antum hidup di Jerman ini pakai Mercy bagaimana ceritanya. Dia
bilang nanti saya jelaskan, antum ikut saya saja dulu. Saya diajak keliling
supermarketnya dulu. Orang itu memang kaya. Sudah keliling dia bilang, di
Jerman ini kalau kau ingin ketemu seorang direktur, begitu kamu parkir mobil
nanti direktur itu suruh sekretarisnya tengok dia itu pakai mobil apa. Jika kau
tidak pakai Mercy nanti sekretarisnya bilang Direktur sedang tidak ada. Kalau
kau pakai Mercy kau disambut baik-baik oleh mereka. Mercy ini wajib disini.

Itu hal- hal yang
dibangga-banggakan oleh manusia. Dan itu berkali- kali disebutkan dalam
Al-Qur’an. Oleh karena itu sebagai Muslim saya ingin didengarkan orang, apalagi
kita sebagai da’I kita perlu punya wibawa didepan orang. Sebagian dari wibawa
itu juga dibentuk oleh kondisi financial kita.

Ulama- ulama kita
juga meriwayatkan bahwa ternyata diantara hal- hal yang disenangi oleh wanita
kepada laki- laki salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya
menyenangi pada laki- laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau
dia lebih kaya daripada perempuan, lebih kuat daripada perempuan. Dan
kepemimpinan itu

kan

diberikan kepada laki- laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberikan
nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa didepan istri tolong kewajibannya
ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikkan wibawa kita didepan istri.
Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga
seorang suami yang romantis dan realistis.

Ada

seorang akhwat berkata kepada saya, saya
sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak
bias hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka hidup kita juga
tidak akan nyaman. Sedikit banyak itu juga penting.

Kelima, harta itu salah
satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia didunia. Jangan lagi
pernah bilang “biar miskin asal bahagia”. Sekarang perlu kita balik, “biar kaya
asal bahagia”.

Saya ingat guru
saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bias
bahagia. Memang bias, tapi susah. Adalagi yang bilang “uang tidak bias membeli
cinta”. Memang tidak bias, tapi kalu kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih
enak. Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa diantara yang
membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, Istri yang sholehah, kedua, rumah
yang luas, dalam hadits lain disebutkan kamar- kamar yang banyak. Menurut
Syeikh Qordlowy yang disebut kamar- kamar itu minimal enam kamar. Satu buah
kamar untuk suami istri, sebuah kamar unruk anak laki- laki, sebuah kamar untuk
anak perempuan, sebuah untuk pembantu, dua buah kamar lainnya untuk kerabat
suami dan istri yang dating menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk
dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, perpustakaan keluarga dan
musholla. Kelanjutan dari hadits tiu, dan kendaraan yang nyaman.

Antum perhatikan
Rasulullah mengatakan rumah dan kendaraan. Rumah itu adalah indicator
stabilitas dan kendaraan itu adalah indicator mobilitas. Rasulullah mengatakan
kendaraan yang nyaman bukan sekedar kendaraan. Naik angkot itu kendaraan tapi
belum tentu nyaman, tapi kalau ada sedan yang empuk sehingga kita bisa rehat,
itu lebih bagus. Pulang mengisi Liqa’, kalau kendaraanya nyaman

kan

sedikit mengurangi
kelelahan. Itu juga perlu garasi. Jika suaminya pengurus DPW, istrinya pengurus
DPW, maka masing- masing perlu kendaraan juga. Kalau anaknya 7 siapa yang
anatar anaknya sekolah, jadi minimal perlu 3 mobil.

Waktu saya tidak
punya mobil, saya punya motor. Anak saya sekolah di al- Hikmah, jadi kalau
pulang diantar sama keponakan saya, anak saya diikat, takut kalau tidur
sewaktu- waktu bias jatuh dari motor. Saya bilang saya dosa kalau anak saya
sampai meninggal, akhirnya saya menelepon teman saya, “tolong sediakan mobil
untuk saya”. Itulah pertama kali saya punya mobil. Dosa kita, kasihan anak itu
jatuh dari motor. Setengah mati kita pupuk- pupuk, kita lahirkan dengan baik,
tapi mati karena kecelakaan begitu.

Kalau suaminya
pengurus DPW dan istrinya aktif di salimah atau di Pos

Wanita Keadilan

,

kan

perlu mobilitas juga. Masa suaminya pergi pakai mobil, sedangkan istrinya pergi
rapat kemana- mana sambil gendong anak. Dia sudah hamil 9 bulan, merawat anak,
malam tidak tidur. Kita zhalim juga terhadap istri kalau kita tidak memberikan
hal- hal yang membuat dia nyaman dalam kehidupan. Untungnya waktu kita menikah
dulu banyak akhwat kita yang tidak tahu hadits ini. Padahal dalam banyak
pendapat di berbagai madzhab misalnya di madzbhab Imam Syafi’I, apalagi Imam
Malik, kewajiban wanita itu yang sebenarnya hanya melayani suami dan mendidik
anak, sedangkan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan seterusnya itu tidak
termasuk dalam kewajiban wanita.

Qiyadah- qiyadah
akhwat mengikuti daurah tingkat nasional kemarin di Jakarta. Coba bayangkan
akhwat- akhwat kita sebagian besar sarjana. Waktu kuliah dia direkrut

kan

salah satu alasannya
karena dia anshirut taqyir dan otaknya brilian. Banyak akhwat kita Indeks
Prestasinya 4,1 begitu 10 tahun menikah, dia sudah tidak nyambung lagi dengan
suaminya kalau bicara, karena dia mengalami stagnasi intelektual. Tiba- tiba
dia mengerjakan semua semua pekerjaan pembantu rumah tangga, dia melahirkan
juga, melayani suami juga, memasak juga, mencuci juga, dan kadang- kadang kita
terbawa oleh romantika perjuangan, rasnya heroic melihat istri mencuci, suami
pulang dakwah dalam keadaan lelah, istri dirumah mencuci, mengepel lantai.
Sepuluh tahun kemudian kita dielus- elus oleh istri, kita piker sedang dipijit,
padahal hanya dielus- elus karena tangannya dipakai untuk mencuci, jadi
tangannya sudah bukan tangan ratu. Sementara suami pegang pulpen, pegang kertas
karena sibuk mengisi halaqah, sedangkan pekerjaan yang kasar- kasar dikerjakan
oleh istri. Sudah saatnya pekerjaan- pekrjaan begitu kita delegasikan kepada
mesin. Jangan buang waktu di dapur, di tempat mencuci. Delegasikan kepada
mesin. Kita ini orang- orang pilihan dari umat kita. Berapa banyak orang yang
sarjana di negeri ini, sedikit. Makanya kalau capres syaratnya S-1 calonnya
juga nanti sedikit. Saya tidak setuju kalau capres itu syaratnya S1, tamat SD
pun bisalah. Sebagian besar orang ikut. Jadi yang bias merasakan pendidikan
tinggi itu barang elit di negeri ini.

Jadi kalau akhwat
kita yang sarjana itu setelah menikah disuruh jadi pembantu rumah tangga atas
nama kesetiaan, ketaatan, cinta dan sejenisnya maka kita telah berbuat zalim
terhadap SDM kita sendiri. Mungkin akhwat kita itu sabar- sabar, dia menerima
keadaan. Tetapi walaupun dia menerima keadaan kita kehilangan potensi, kita
kehilangan umur- umur terbaik.

Sebenarnya kalau
dipacu untuk dakwah, untuk kepentingan lebih besar, lebih strategis, faedah
yang didapat pun akan jauh lebih besar. Waktu kita ini tidak akan cukup
mengerjakan hal- hal tersebut, maka belilah waktu orang lain. Hitung- hitung
kalau beli tenaga pembantu kita buka lapangan kerja, kita bukan hanya
mendelegasikan pekerjaan kita juga buka pekerjaan bagi orang lain.

Kira- kira itulah
5 alasan mengapa kita perlu kaya. Memang, walaupun kita miskin kita masih bisa
bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih
mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding kemiskinan. Makanya Rasul
mengatakan tentang minum susu, makan habbatussauda’, madu. Coba kalau antum,
misalnya, tidur diatas kasur yang empuk dalam ruangan ber-AC, tidur 2 jam itu
bias sangat nyenyak. Apalagi minum susu hangat sebelum tidur. Bangun pagi minum
madu campur habbatussauda’.

Saya kira kita
perlu memperbaiki dan melihat kembali pemahaman keagamaan seperti ini secara
benar. Sehingga kita jangan menganggap kemewahan itu justru melelehkan orang
tapi bikin nyaman. Inilah 5 alasan mengapa kita harus kaya.

Sekarang saya
ingin lebih jauh menembus kembali mengapa kita miskin selama ini. Sebabnya kita
miskin adalah: Pertama, karena kita memiliki pemahaman agama yang salah. Salah
satunya 5 alasan tadi tidak beredar dikalangan kita. Sekarang coba kita tonton
acara TV, nonton acara ceramah subuh di televisi. Kita akan lihat sebagian
besar ceramah- ceramah televisi itu menyuruh orang- orang miskin itu semakin
miskin atas nama kesabaran. Bahakan ada perang terhadap materialisme, karena
kita harus zuhud sekarang. Pemahaman tentang kezuhudan itu salah satu pemahaman
yang paling banyak merusak kita. Karena kita tidak tahu bedanya orang zuhud
dengan orang miskin.

Imam Ghazali
mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang punya dunia lalu meninggalkannya
dengan sadar. Orang miskin itu adalah orang yang ditinggal dunia. Kalau ada
orang miskin tidak dapat makan lalu puasa senin-kamis itu bukan orang zuhud.
Itu orang miskin yang berusaha memaksimalisasi kondisi keterbatasannya agar
tetap dapat pahala. Daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih bagus
tidak makan dapat pahala. Orang zuhud itu orang pasca dunia kalau orang miskin
itu orang pra dunia. Kita lihat Rasulullah SAW itu sudah kaya raya sebelum jadi
Nabi.

Kemiskinan
Rasulullah yang kita baca di hadits- hadits itu adalah kemiskinan atas pilihan.
Itu adalah pilihannya karena dia punya misi yang jauh lebih besar, yakni: yang
begini itu dia tidak perlu lagi, sudah selesai. Bahkan Rasulullah mengatakan
semua nabi- nabi itu sebagian besarnya kaya. Tidak ada lagi nabi yang diutus
setelah nabi Syu’aib melainkan pasti dia berasal  dar keluarga kaya dari kaumnya.

Rasulullah itu
mengenal uang waktu umurnya 8 tahun, dia mulai kerja dan mendapatkan gaji.
Pekerjaan pertamanya mengembala kambing. Umur 12 tahun dia sudah pulang pergi
luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam
perang sehingga punya pengalaman militer. Umur 20 tahun Rasul sudah jadi
pengusaha investornya adalah Khadijah. Watu umur 25 tahundia nikah dengan
investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Berapa harga seekor unta
sekarang? Jauh lebih mahal dari 1 ekor sapi. Kira- kira 10 juta 1 ekor unta
jadi totalnya 1 Milyar. Anak muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar. Itu
maharnya tapi yang disimpan itu masih ada.

Walaupun
Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik- baik wanita adalah
wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai system tapi tradisi
jahiliyah itu status. Oleh karena itu, waktu pamannya yang bernama Abu Thalib
menyampaikan khutbah nikahnya sebagai sambutan keluarga pada pernikahan
Rasulullah SAW, beliau mengatakan sesungguhnya orang Quuraisy tahu bahwa
Muhammad salah seorang pemudanya yang terbaik, yang paling terhormat. Layaklah
dia nikah dengan khadijah karena maharnya tersebut. Pemuda 25 tahun punya uang
1 Milyar, sedangkan kita 25 tahun baru selesai Perguruan Tinggi dan karya
terbesar kita adalah menulis lamaran kerja. Ini pemahaman keagamaan yang
beredar dikalangan kita yang membuat kita ini miskin.

Itu sebabnya di
Zaman penjajahan dahulu para penjajah itu dengan sengaja menghidupkan kelompok-
kelompok sufi ditengah masyarakat. Paham sufiyah dihidupkan supaya orang- orang
miskin itu tidak pernah bermimpi menjadi kaya dan merasa benar bahwa dia
miskin. Maka langkah pertama menuju kekayaan adalah perbaiki dulu pemahaman
keagamaan kita.

Saya dahulu
sekolah di pesantren 6 tahun, tempatnya dulu itu di hutan, bahkan tidak ada
mobil lewat disana, kalau kita inginmendapatkan kendaraan umum kita harus jalan
3 km terlebih dahulu. Pada suatu hari ada badai dating dan menerbangkan seluruh
atap gedung, masjid, dan seluruh benda yang ada disitu. Semuanya mudah
diterbangkan karena bangunan yang ada adalah bangunan murah semuanya. Tiap hari
kita makan hanya nasi dan kecap selama 6 tahun. Setiap kali kita makan, guru
saya selalu bilang ini nasi akan membuat kamu besar. Cuma butuh waktu. Karena
itu fisik saya kecil karena pada masa pertumbuhan kita tidak mendapatkan gizi
yang baik dengan alasan latihan, sabar, perjuangan.

Waktu itu saya
bilang ini sekolah sengaja disimpan jauh dari

kota

karena

kota

itu
neraka, disini kita hidupdengan cara yang benar. Waktu itu saya mau ke

Jakarta

untuk kuliah, saya minta guru saya istikharah buat
saya, satu bulan kemudian saya datang dan dia mengajurkan kepada saya untuk
kuliah di

Jakarta

saja di LPIA, karena LPIA itu selingkar syurga yang dikelilingi oleh neraka.
Itulah pemahaman keagamaan yang kita warisi.

Waktu saya kuliah
di LPIA juga belajar syariah namun tetap tidak ada yang mengajarkan kita
pemahaman keagamaan yang benar tentang kekayaan.

Kedua, karena kita
tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak mengajarkan kita dasar- dasar
yang benar untuk menegakkan kehidupan. Lihat kurikulum yang kita pelajari.
Tidak satupun yang kita pelajari di sekolah itu benar- benar kita pakai dalam
kehidupan real kita. Sekarang belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD sampai
Perguruan Tinggi. Tahun pertama itu 10 tahun, tetapi TOEFL kita tidak bagus-
bagus. Padahal bahasa itu adalah sarana komunikasi yang seharusnya menjadi
basic. Begitu juga tentang uang. Kita tidak pernah sama sekali belajar
disekolah tentang uang. Saya dulu belajar hitung dagang di sekolah tapi itu
pelajaran yang paling kita tidak suka.

Jadi lingkungan pendidikan
kita juga seperti itu. Setelah kita tarbiyah pun hal- hal seperti itu belum
diajarkan. Mungkin karena satu hikmah ataupun lainnya yang tidak kita ketahui.
Tetapi kalau kita membaca literature yang ditulis oleh Imam Hasan Al- Banna,
sebenarnya perhatian kearah ekonomi itu justru malah lebih besar dari awalnya.
Bahkan muncul gagasan ekonomi Islam itu adalah anjuran dari beliau. Salah satu
rintisan dari beliau untuk memperbaiki kehidupan ekonomi ummat Islam. Oleh
karena itu saya menganjurkan kepada ikhwah di kaderisasi untuk segera membuat
materi tatsqif tentang uang, karena itu perlu.

Ketiga, karena
kita ini memiliki ciri- ciri orang miskin dalam kepribadian. Ciri orang miskin:

Pertama, orang
miskin itu tidak pernah bermimpi jadi orang kaya. Kalau kit abaca buku the
millionaire mind (pemikiran milioner), di dalam buku tersebut disebutkan fakta
bahwa di kalangan orang miskin itu berkembang ide- ide yang membuat mereka itu
miskin. Salah satunya karena memang mereka tidak punya mimpi jadi orang kaya. Waktu
sekolah saya pernah ikut kursus keterampilan membuat sepatu, jadi saya bisa
membuat sepatu. Karena kita mindsetnya disiapkan untuk menjadi buruh, kalau
tidak bisa menjadi guru bahasa Arab akhirnya menjadi tukang sepatu. Kita lihat
rintisannya. Jadi kita tidak pernah punya mimpi untuk menjadi kaya. Contohnya,
kalau kita lihat orang pakai mobil Mercy, tidak pernah terpikir oleh kita kalau
kita juga ingin punya mobil Mercy. Yang terpikir oleh kita adalah tega-teganya
orang ini pakai Mercy.

Pertama kali Ketua
Majelis Syuro membangun rumah, banyak sekali ikhwah yang protes. Saya bilang
kenapa kalian protes. Dia pinjam uang antum. Saya datang ke rumahnya, Masya
Allah rumahnya bagus. Ya Allah berikanlah saya model rumah yang seperti ini.
Kalau kita melihat mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar di mobil itu,
sapu baik- baik lalu berdo’alah.

Ketika tinggal di
rumah mertua, saya bisa tinggal di tempat yang luasnya beberapa ribu meter.
Cuma saya bilang, saya tidak ingin didominasi oleh mertua. Jadi setelah menikah
saya bilang saya mau keluar dari rumah ini. Kata mertua saya, “Kamu mau tinggal
dimana?” Itu urusan saya, satu tahun saya sudah tinggal di sini. Saya keluar.
Lalu saya kontrak rumah. Rumah saya itu mirip kandang ayam, triplek- triplek
saja.

Ada

3
petak rumah, kalau kita bersin disini akan terdengar oleh semua tetangga.
Lantainya sebagian itu berupa tanah dan saya pun tidak punya kasur. Saya punya
kasur setelah anak ke-3 saya lahir. Istri saya kalau sudah hari Sabtu atau
Minggu mengajak pulang. Saya tahu dia ingin balik kesana. Tapi kita belajar
menata hidup kita sendiri, tidak tergantung dari orang.

Setiap hari saya
lewat di depan sebuah rumah besar halamannya luas. Kalau saya lewat rumah itu
saya berjalan pelan- pelan sambil menunggu bis dari Al- Manar. Saya melewati
rumah itu yang terletak di pojok halaman yang luas dan ada banyak pohon-
pohonan. Saya usap itu temboknya. Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya.
Apabila saudara antum punya mobil, antum jangan marah padanya. Jangan Tanya
uangnya dari mana. Jangan Tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap- usap
mobilnya.

Sekarang kalau
saya mau ke DPP tiap hari lewat Menteng, lewati rumah yang bagus- bagus, disitu
juga ada masjid yang besar bernama Sunda Kelapa. Saya suka berdo’a juga disitu.
Ya Allah, saya ingin tinggal disamping masjid ini, bagaimana caranya atur ya
Allah. Syurga aja kita pinta, apalagi rumah. Suatu waktu saya pernah naik
private jet punya Abu Rizal Bakrie waktu itu jauh sebelum era partai karena
saya suka ceramah dirumahnya. Kita pergi naik private jet nya. Enak juga naik
private jet. Saya berdo’a juga disitu. Saya juga ingin yang seperti ini karena
enak. Syurga aja kita pinta apalagi seperti ini.

Kemarin Muraqib
’Am ditanya oleh kader. Kadernya protes, “Ustadz Hilmi anggota dewannya sudah
mulai pada borju semuanya. Di jawab oleh ustadz Hilmi mereka tidak borju cuna
menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya. Jadi kalau ikhwah pada
kaya- kaya saya juga bahagia. Saya paling senang kalau ada ikhwah yang punya
private jet, perlu didorong itu. Jadi kita tidak perlu belanja tiket lagi kalau
ingin ke Riau. Tidak terikat dengan jadwal penerbangan regular. Dan saya Tanya
harga private jet itu, setidak-tidaknya kita sudah tahu harga private jet itu.

Sewaktu-waktu saya
naik mobil Land Cruiser punya teman saya, mobil saya Kijang. Saya bilang
mobilmu lebih enak dari mobil saya. Dia bilang kenapa. Saya bilang saya pikir
mobil saya itu lebih enak dimuka bumi, ternyata mobil bapak lebih enak. Memang
mobil kamu apa, saya jawab Kijang. Dia bilang, “Oh itu mobil masa lalu saya”.

Ikhwah sekalian.

Karakter orang
miskin itu harus kita hilangkan, itu sebabnya kita miskin. Karena tidak punya
mimpi menjadi orang kaya.

Kedua, kita ini
umumnya tidak ulet. Senang difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di
Melayu, pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi hadiah. Bahagia dan
bangga kalau ditraktir makan daripada kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin
menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di negeri ini, karena dia
lebih rajin bekerja.

Saya pernah
mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya
kasih kertas besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua mereka membuat
gambar yang sama. Sebuah rumah disampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada
masjid, kemudian ada pesawat terbang dan ada ka’bah. Saya suruh menjelaskan.
Dia bilang nanti saya berharap insya Allah sudah naik haji sebelum pensiun,
setelah pensiun nanti saya punya rumah di desa di sampingnya ada sawah- sawah,
disampingnya lagi ada masjid. Jadi dia Ibadah kerjanya. Saya bilang bapak
pensiun umur berapa. Dia bilang 55 tahun. Mau menghabiskan sisa umur di desa di
samping masjid dan disamping sawah. Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah
SWT berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan disamping sawah.
Begitu cara kita berfikir, kita menghindari tantangan.

Saya pernah
ceramah di Direktur BULOG, dia mau pensiun dini, dia tinggalnya di Patra
Kuningan dekat rumahnya Pak Habibie. Saya diminta mengisi ceramah dirumahnya
tentang menajemen harta untuk lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari
Fakultas Ekonomi semuanya. Saya bilang bapak setelah pension nanti mau tinggal
dimana. Dia bilang mau balik ke kampung halamannya di Solo. Saya Tanya Solonya
dimana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Dia sudah punya rumah disana
disampingnya ada sawah- sawah, ada masjid, persis seperti gambar orang Telkom
itu. Saya bilang kenapa tidak tinggal di

Jakarta

.
Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di

Jakarta

setelah pension. Biaya mahal, anak
saya sedang pada kuliah semuanya saya tidak kuat nanggung.

Coba kita lihat
waktu pendapatan kita berkurang yang kita lakukan itu adalah mereduksi dan
mengurangi kegiatan kita supaya kita menyesuaikan diri dengan pendapatan,
seharusnya ketika pendapatan kita berkurang bukan kegiatan yang kita reduksi
tapi yang kita lakukan adalah tetap memperbanyak kegiatan dan menambah
pendapatan. Jadi saya bayangkan kalau bapak di kasih umur 80 tahun, bapak akan
tinggal di kampong itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba menghayal- hayal
kira- kira jadwal hariannya seperti apa. Jam 3 insya Allah dia akan bangun
qiyamul lail sampai subuh dia sudah tidak tidur karena orang kalau sudah diatas
40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya Cuma 2 jam, setelah subuh mungkin dia
nanti wirid, setelah itu dia pergi jalan pagi, mungkin aktifitas jalan pagi dan
lainnya selesai jam 7. Setelah itu dia mandi lalu sarapan dia baca Koran.
Katakanlah selesai jam 9 setelah itu dia shalat dhuha. Setelah itu tanda Tanya
karena tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk waktu zuhur sebelumnya
dia punya waktu 3 jam, setelah itu dia makan siang setelah itu dia bangun tidur
siang, bangun ketika ashar. Ashar sampai maghrib dia lakukan duduk- duduk di
teras minum kopi sambil memandang sawah. Sebelum maghrib dia mandi, setelah
maghrib dia makan malam sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah shalat isya
melihat televisi sebentar setelah itu dia tidur lagi. Kita lihat tidak ada
waktunya yang produktif. Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu
tidak perlu ditunggu nanti dia akan dating sendiri kenapa kita tunggu- tunggu
dia.

Kita lihat cara
kita merencanakan hidup. Seharusnya di usia seperti itulah kita bekerja makin
giat karena jadwal kita makin dekat. Kematian kita makin dekat bukan makin
terserah tetapi begitulah pikiran yang ada pada orang- orang miskin. Orang-
orang ini tidak ulet, menghindari tantangan, tidak ingin kerja kers. Karena itu
rata- rata jadwal kerja orang miskin itu dibawah 8 jam. Sementara jadwal kerja
orang kaya itu diatas 15 jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja
mereka juga banyak.

(Sambungan dari Bagian 2)

Oleh : Ust. Anis Matta, Lc

PKS di masa yang
akan dating tidak bisa mengendalikan kehidupan ini semuanya kalau hanya
berkuasa di Negara tetapi tidak menguasai pasar. Tidak mungkin. Sekarang ini
kita akan menemukan secara individu, banyak individu yang lebih kaya dari
Negara. Oleh karena itu gabungan dari beberapa individu justru dapat dengan
mudah mengintervensi Negara dan memiskinkan Negara. Kalau kita hanya masuk ke
dewan, padahal dewan itu hanyalah bagian kecil dalam panggung Negara, masih ada
eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya punya sedikit di dewan itu, dan di
dewanitu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke
depan hanya bisa menekan, menguasai, mengendalikan situasi kalau kita punya
orang yang terdistribusi secara merata, memimpin Negara, memimpin civil
society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan
dakwah.

Ketiga, bagaimana
kita memulai membangun kehidupan financial kita.
Pertama, perbaiki ide kita tentang uang. Ide itu adalah wilayah kemungkinan,
“space of possibility”. Semua yang menjadi mungkin dalam ide kita pasti akan
menjadi mungkin dalam realita. Ide itu adalah tempat penciptaan pertama
sedangkan realitas itu adalah tempat penciptaan kedua. Jadi tidak ada realitas
yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa sebelumnya tercipta pertama kali dalam
ide- ide kita. Sebelum pesawat terbang itu di ciptakan yang pertama kali dahulu
adalah ide bagaimana manusia dapat terbang seperti burung. Jadi begitu sesuatu
jadi mungkin dalam ide kita, ia bisa menjadi mungkin dalam kenyataan.

Sekarang
perbaikilah ide- ide kita tentang uang. Belajarlah utuk mempunyai mimpi besar
tentang uang. Belajarlah untuk membuat daftar rencana, Insya Allah ketika saya
meninggal nanti saya mewariskan sekian banyak uang. Buatlah step ide ini luas.
Karena kalau space of possibility kita ini luas maka space of reality kita jadi
luas. Kalau kita lihat mobil, belajarlah mempunyai selera yang bagus.

Supaya ide- ide
ini tumbuh dengan baik kita perlu dari sekarang membaca sebuah buku tentang
uang. Bacalah buku diantaranya The Millionaire Mind, ada dua buku yang ditulis
oleh penulis yang sama karena ini adalah risetnya. Selanjutnya The Millionaire
Dead. Ini adalah penelitian yang dilakukan terhadap cara berpikir orang- orang
kaya yang ada di Amerika. Kemudian buku One Minute Millionaire (Bagaimana
menjadi Milliuner dalam 1 menit) dan ini juga punya website, kita bisa masuk
websitenya, mereka punya psikotest kalau kita ingin mengetahui apakah kita
punya talenta jadi orang kaya atau tidak.

Alamat websitenya www.oneminutemillionaire.com.
Buku yang ketiga adalah semua buku Robert T Kiyosaki. Yang ke-4 ini buku lama
tapi termasuk buku- buku awal yang dibaca orang tentang uang yaitu buku yang
ditulis oleh Napoleon Hill, Think and Grow Rich, Berfikir dan menjadi Kaya.
Buku terakhir ini adalah buku yang sangat lama karena diterbitkan pada tahun
80-an dan ditulis tahun 70-an, tapi menurut saya rasa masih masih relevan untuk
dibaca. Ini buku- buku dasar semuanya bagi pemula. Dan saya rasa penting juga
untuk mendapatkan landasan syar’I yang bagus tentang hal ini apabila kita baca
juga buku yang ditulis oleh syeikh Yusuf Qordlowi tentang nilai- nilai moral
dalam ekonomi Islam.

Perbaiki dahulu
ide kita tentang uang, perbaiki tsaqafah tentang uang dan mulailah mempunyai
mimpi besar untuk menjadi orang kaya, supaya kita Insya Allah naik derajatnya
dari amil zakat menjadi muzakki. Supaya kita datang kepada orang jangan lagi
bawa proposal, itu yang benar. Sering- seringlah ke tempat- tempat mewah,
jalan- jalan saja untuk memperbaiki selera.

Saya punya 1
halaqah yang terdiri dari anak- anak LIPIA. Mereka datangnya dari kampong, dari
pesantren semuanya. Saya tahu mereka membawa background, di backmindnya itu ada
psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya
Tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya
Allah kita mau pulang ke kampung mengajar ma’had, mengajar bahasa Arab. Suatu
hari saya ajak mereka, hari ini tidak liqa’, tetapi saya tunggu kalian di Hotel
Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh
mereka berdiri di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang
pakai ransel, diperiksa lama oleh security, karena penampilannya sebagai orang
miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau
antum datang pakai jas dan dasitidak ada yang periksa antum di ditu, karena
yang datang pakai ransel tampang kumuh.

Kemudian mereka
bertanya dimana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja disitu. Saya dekat
mereka tapi mereka tidak bisa melihat, saya hanya memperhatikan apa yang mereka
lakukan. Kira- kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar- mandir di lobby.
Minggu depan saya Tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab
mereka.

Saya Tanya,
pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya
jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng- ganteng semuanya cantik- cantik.
Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan. Makin kaya seseorang makin baik
wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum.
Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya
sedikit mulai terbuka. Karena ia membawa bibit dalam pikirannya untuk menjadi
orang miskin. Sekarang Alhamdulillah mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah
di UI ambil S2 Ekonomi Islam.

Ikhwah sekalian
jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi
hadirkan buku- buku itu kedalam rumah dan mulai dari sekarang anak- anak kita
juga mulai di ajari tentang uang. Ikutilah kursus- kursus tentang entrepreneurship
supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang uang.

Kedua, menyiapkan
diri untuk menjadi kaya. Orang- orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat
yang bagus, mereka mengatakan “sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih
dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup

gaya

orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi
orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena
itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah
pesimis. Saya punya seorang teman sekarang jadi kaya, dia datang ke Jakarta
hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan
oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia
pergi lari olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah.
Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting keluar rumah. Istrinya tidak tahu
kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti dijalan baru ditentukan siapa yang dia
temui hari ini.

Langkah pertama
perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar makan
yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering- seringlah makan yang
enak.

Menurut Utsman bin
Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan
kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri.
Syeikh Muhammad Al- Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa
orang-orang Barat itu pipinya merah, karena sirkulasi darahnya bagus, gizinya
bagus. Sedangkan kita orang- orang Timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak
ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat,
makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah- cerah.

Ibnu Taimiyah
mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita
pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua.

Ada

anak umur 25 tahun
pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya
seperti apa. Tampillah sebagai anak muda.

Cukur rambut yang
bagusbagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya kita
kelihatan ada optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata
kita kuat, perlu sedikit latihan menatap. Misalnya di pagi hariatau sore hari
menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya.
Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus. Latihan saja sendiri. Di dalam
kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap lilin dan matanya tidak berkedip
dan tidak berarir. Nanti kalau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi
kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah
kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah- cerah. Makanya Rasulullah itu
senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap- gelap atau warna yang
tidak menunjukkan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.
Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang- orang shaleh kita pakai baju
taqwa, itu pakaian orang Cina.

Pakailah baju yang
segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun anda sudah
berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua. Artinya
kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Jadi
tidak perlu menua- nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua,
bijak. Tampillah sebagai anak muda yang gesit dan optimis.

Ketiga, bergaullah
dengan orang- orang kaya, perbanyak teman- teman antumdari kalangan tersebut.
Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa bab rezeki lihatlah
kepada yang dibawah dan jangan lihat yang ada di atas. Antum tidak sedang tamak
ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka. Dahulu saya suka
ceramah di kalangan orang- orang kaya.

Waktu saya ceramah
di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit- duitnya, saya duduk
dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu
itu, tahu tidak bearapa harga karpet ini. Saya bilang saya tidak tahu, saya
pikir sajadah biasa. Dia bilang karpet itu harganya 100 ribu Dollar. Karpet
kecil harganya 1,6 M.

Waktu saya selesai
ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini
amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya Cuma ingin berkawan
dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau
saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata
saya. Saya mau bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali.
Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya
itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak,
saya ingin jadi teman.

Alhamdulillah dari
situ saya banyak teman dari kelompok orang- orang kaya, dan kalau datang kita
belajar, saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya
kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu
dido’akan panggil saya, bisa. Tapi

kan

saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang
ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.

Jangan karena kita
sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek. Saya
bergaul dengan orang- orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar
bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama- sama dan
saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada
hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang kaya seperti
itu.

Awal lahirnya
reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di
rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam
karena malu. Karenanya kita semua kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais
mengatakan sebelum Pemilu “Nanti Golkar kita lipat- lipat, kita tekuk- tekuk,
kita kuburkan dimasa lalu”. Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya
Pak Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah. Jadi berkumpullah
orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari.
Waktu itu Pak Amin sedang dikejar- kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat
pernyataan bahwa pemenang pemilu legislative yang paling layak jadi Presiden,
tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier. Saya
bilang Pak Fuad, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya
pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya
adalah i’tikaf, kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi
dulu wartawan, mungkin dosa- dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang
bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di

Indonesia

tetap saja diketahui
wartawan.

Kalau begitu kita
umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3
orang. 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang
beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita Cuma dihargai begini,
terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu dengan lugu datang menghadap Pak Fuad.
Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket first class. Dia bilang pokoknya 2 kali
lipat harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga
first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita sama- sama di kelas ekonomi
saja, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini

kan

masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa
dia bilang ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi
ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.

Kita tidak tahu
apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada
mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka
kecil bagi mereka. Uang 1 Milyar 2 Milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum
tentu punya tabungan sampai mati seperti itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa
pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh
mereka adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam
pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia
parfum. Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan
panas. Orang jahat itu api, kalau antum dekat-dekat akan menyebarkan panas.
Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita
tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut- ikut karena kita perbaiki selera.
Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan- jalanlah ke mall, lihat-lihat orang
kaya tidak usah belanja, lihat-lihat saja dulu, memperbaiki selera.

Datanglah ke
showroom mobil, datang ke pameran mobil. Lihat- lihat pegang- pegang. Rajinlah
berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya. Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun
kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap menganggap uang itu kecil dan
supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita.

Misalnya kita
punya 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar
dari ini. Jadi angka it uterus bertambah di kepala kita, walaupun dalam
kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita
rasa kita tentang angka. Bukan sekedar dapat pahala tetapi efek tarbawinya bagi
kita akan bertambah terus.

Kita belum pernah
merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk
menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus
seperti itu kita latih sampai menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus.

Kelima adalah
mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena
Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam hal perdagangan.

Saya juga ingin
menasehati ikhwah- ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan
mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum
tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk
periode selanjutnya.

Belum tentu juga
juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahal

gaya

hidup sudah berubah.
Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu
hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena
pekerjaan seperti ini, kita harus hati- hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling
bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah
terjun ke dunia bisnis.

Jatuh bangun waktu
bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung
jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz,
teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya.
Teruslah berbusnis. Lakukan bisnis sendiri sekecil- kecilnya. Tidak boleh
tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya
adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari
pedagang dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya,
yaitu professional.

Misalnya akuntan
itu

kan

professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya
terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan itu hanya 5 tahun.
Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah
dari dewan, hati-hati jangan sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ.
Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita
harus cari sumber lain.

Waktu kita terjun
ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal
keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya patner bisnis. Dia
mulai bisnis umur 16 tahun, semuajenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada suatu
waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang
menghasilkan uang. Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah
pandang terhadp orang kaya. Kita piker tangan dingin semua yang disentuh jadi
uang. Ternyata tidak juga.

Jadi hal- hal
seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan
berfikir dengan berdagang antum akan cepat kaya, yang menentukan antum cepat
berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu
ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang- orang sukses, nanti
kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses masih gagal juga.
Teruslah berdagang, teruslah bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang
tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.