Archive for September, 2007

Mengelola Ketidaksempurnaan

Sunday, September 30th, 2007

Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi
Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia
dibagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi
Muhammad SAW? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan setelah ia
direbut oleh Ustman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi
setelah ia direbut habis oleh Aisyah?

Kita hanya berbagi pada
sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis
oleh para nabi dan orang shalih terdahulu. Karena itu persoalan cinta
selalu permanen begitu: jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara
utuh dan sempurna dalam diri kita. Pilihan-pilihan kita, dengan begitu,
selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang
berbudi. Sebaliknya, ada lelaki shaleh yang tidak menawan atau
perempuan shalehah yang tidak cantik. Pesona kita selalu tunggal.
Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisa berdiri dan berjalan
dalam waktu yang lama. Maka tentang pesona fisik itu Imam Ghazali
mengatakan: “Pilihlah istri yang cantik agar kamu tidak bosan.” Tapi
tentang pesona jiwa itu Rasulullah SAW bersabda: “Tapi pilihlah calon
istri yang taat beragama niscaya kamu pasti beruntung.”

Persoalan
kita adalah ketidaksempurnaan. Seperti ketika dunia menyaksikan tragedi
cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Dua setengah milyar manusia
menyaksikan pemakamannya di televisi. Semua sedih. Semua menangis.
Puteri yang pernah menjadi trendsetter kecantikan dunia dekade 80-an
itu rasanya terlalu cantik untuk disia-siakan oleh sang pangeran.
Apalagi Camila Parker yang menjadi kekasih gelap sang pangeran saat
itu, secara fisik sangat tidak sebanding dengan Diana. Tapi tidak ada
yang secara obyektif mau bertanya ketika itu. Kenapa akhirnya Charles
lebih memilih Camila, perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik,
dan lebih tua ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu?
Jawaban Charles mungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta,
“Karena saya lebih bisa bicara dengan Camila.”

Kekuatan budi
memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justru terkembang di
tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan. Begitu masa uji
cinta selesai, biasanya lima sampai sepuluh tahun, kekuatan budi
akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubungan jangka
panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang Bukan karena
kecantikan atau ketampanan berkurang. atau hilang bersama waktu.
Yang
berkurang adalah pengaruhnya. Itu akibat sentuhan terus menerus yang
mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetik tersebut.

Apa
yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melalui
proses pembelajaran. Belajar adalah proses berubah secara konstan untuk
menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu. Fisik mungkin
tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ia lebih
ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antara kepribadian
bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itu biasanya
termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman dan tatapan mata serta
gerakan refleks tubuh kita. Itu yang menjelaskan mengapa sering ada
lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyak wanita. Begitu
juga sebaliknya.

Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang
sebagai pecinta pembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah
perolehan hidup yang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itu
pesonanya. Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah, kata Malik
bin Nabi, wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya.

Ceramah ceramah Hasan Albanna suatu Pengantar

Sunday, September 30th, 2007

Keistimewaan ceramah-ceramah beliau adalah pada ruh kehidupan yang
menggelora pada setiap kata. Apabila gagasan-gagasannya begitu memukau
dan mempesona, maka ruh kehidupan yang menggelora pada setiap katanya
telah mengguncang jiwa para pendengarnya, mengubah paradigma mereka,
merekonstruksi pikiran mereka, dan membangun semangat serta komitmen
baru pada diri mereka untuk bangkit membangun kejayaan umat sekali lagi.

Walaupun
kita tidak sempat mendengarnya, tapi dari membaca saja akan sangat
terasa betapa cermah-ceramah itu mengalir deras. Seperti kata Ahmad Isa
‘Asyur yang menghimpun ceramah-ceramah beliau, “Menghanyutkan setiap
orang yang mendengarnya!”

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengetahui
dengan baik bagaimana membangunkan kembali umat yang telah tertidur
pulas begitu lama dan memasukkan ruh kehidupan dalam diri mereka.
Beliaulah yang pernah mengatakan kepada kader-kadernya bahwa “Kalian
adalah ruh baru yang mengalir dalam jasad umat.”

Apakah yang
dibutuhkan oleh sebuah umat untuk bangkit meraih kejayaannya yang
hilang? Yang mereka butuhkan adalah sebuah referensi yang membingkai
nilai-nilai, pemikiran, strategi, sistem dan karakter individu maupun
kolektif mereka pada saat mereka merenda kehadiran historisnya hari
demi hari. Sesungguhnya marja’iyyah (referensi) itu ada di tengah kita,
yaitu Al Qur’an. Tetapi seperti kata beliau sendiri, orang-orang Barat
mencari cahaya dalam kegelapan, namun umat Islam tertidur dalam cahaya.

Maka
yang dibutuhkan oleh umat ini adalah membangun ulang hubungan mereka
dengan Al Qur’an sebagai referensi. Sebab sesungguhnya Al Qur’an tidak
saja mempunyai kandungan kebenaran Ilahiah yang mutlak, tapi juga
mempunyai wibawa dan kekuatan pembangkit yang mahadahsyat.

Maka
hanya dengan sebuah gesekan kecil, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna,
kehidupan dan kekuatan itu tiba-tiba mengalir dalam tubuh umat. Umat
yang terbelakang itu tiba-tiba menjadi maju, tiba-tiba para penggembala
kambing itu menjadi pemimpin dunia, tiba-tiba masyarakat Badui itu
menjadi pusat peradaban dunia.

Itulah yang dilakukan oleh Imam
Syahid Hasan Al-Banna, menghubungkan akal dan hati umat dengan Al
qur’an dan menghadirkan pandangan-pandangan Al qur’an dalam berbagai
dimensi kehidupan, serta persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang
dihadapi umat. Ketika umat kembali kepada referensinya ia pasti akan
bergerak secara sistematis dalam perjalanan kebangkitannya. Di manakah
letak kematangan sebuah umat kalau bukan pada referensi dan sistematika
pertumbuhannya? Jika kepada referensi dan sistmeatika itu kita
menambahkan anasir kepemimpinan yang kuat, maka mengertilah kita betapa
menyatunya tiga kata itu dalam diri Imam Syahid Hasan Al-Banna,
marja’iyyah (referensi), manhajiyyah (sistematis), dan qiyadiyyah
(kepemimpinan).”

Subhanallah..
Anis Matta gitu loh.. ^_^
Saya pribadi suka dengan tulisan pa Anis Matta, berbunga-bunga.. :)

Buku
itu sendiri ditulis oleh Ahmad Isa ‘Asyur, seorang anggota Ikhwan.
Membaca tulisannya, terasa sekali betapa beliau mencintai Imam Syahid.

Melalui
tulisannya ini pulalah, terasa banget betapa Imam Syahid sangat
mencintai umat ini, jadi ingat Rasulullah yang juga sangat mencintai
umatnya, sehingga saat meninggalnya pun, bukan Aisyah, istri
tercintanya atau Fatimah, anak terkasihnya, namun yang disebut terakhir
oleh Rasulullah adalah “ummati, ummati, ummati”..
Subhanallah.. betapa ingin kami membalas cintamu ya habibi..

Beberapa
hari yang lalu, ketika membaca ulang buku Risalah Pergerakan, membaca
kalimat-kalimat seruan dari Imam Syahid, subhanallah, terasa mengalir
ruh baru dalam raga ini, sedemikian besarnya cinta beliau untuk umat
ini.

Simaklah kata-katanya berikut ini:
“Betapa inginnya kami
agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri
kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai
penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Tiada
sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, selain rasa cinta yang
telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis
air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami."

Saya
tidak hendak menuliskan secara utuh tiap-tiap bab dalam buku ini,
mungkin lain kesempatan, insya Allah. Kali ini, saya hanya ingin
mengutip sedikit-sedikit kata-kata beliau di beberapa ceramah yang
meninggalkan kesan mendalam pada diri saya pribadi, sungguh saya ingin
meneladani beliau dalam hal betapa tulus dan dalamnya cinta beliau pada
umat ini.

Berikut saya kutipkan pembukaan dari ceramah beliau yang berjudul:
Risalah Ibrahim AS.
(hal.109)

“Kita
panjatkan puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, karena
Dia telah mencurahkan nikmat yang besar dan agung ini kepada kita,
yaitu nikmat bercinta dan bersatu karena-Nya serta nikmat
tolong-menolong dalam rangka menegakkan kalimat-Nya dan membela
syariat-Nya. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik pemimpin dan
sebaik-baik pemberi pertolongan.

Ikhwan sekalian, kita sedang
berada dalam sebuah pertemuan yang kental dengan nuansa persaudaraan
dan keruhanian. Dalam pertemuan ini, terlihat nikmat akbar dan karunia
agung dari Allah SWT, yaitu sebuah nikmat yang senantiasa disebut-sebut
oleh Allah di hadapan kita, nikmat persaudaraan yang telah menyatukan
hati kita, mempersaudarakan ruh kita, dan mewujudkan dalam diri kita
suatu kenikmatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh siapa yang
pernah merasaknnya secara nyata.

Memang, di antara perasaan-
perasaan hati, ada yang tidak bisa digambarkan dengan ungkapan lisan.
Nikmat kecintaan dan persaudaraan karena Allah, mengandung makna
spiritual yang buahnya tidak bisa dirasakan selain oleh mereka yang
terlibat di dalamnya. Persaudaraan, wahai Akhi, selain merupakan
kenikmatan di dunia, juga merupakan keselamatan di akhirat. Ringkasnya,
cinta adalah kelezatan, buah, dan faedah, yang tidak bisa diketahui
kecuali oleh siapa yang pernah merasakannya secara sungguh-sungguh dan
benar. Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia menyatukan kita di atas
landasan kecintaan dan persatuan karena-Nya. Sesungguhnya Dia Maha
Mendengar dan Maha Mengabulkan.”

In the name of love.. atas nama cinta..
Cinta karena Allah..

Berikut pembukaan dari ceramah beliau yang berjudul:
Risalah Musa AS.
(hal.121)

“Ikhwan
sekalian, saya ingin memberitahu Anda tentang perasaan yang saya
rasakan dan tentang apa yang seharusnya dilakukan, karena tujuan kajian
ini bukan sekedar untuk mendapatkan informasi ilmiah atau ruhaniah
semata.

Ikhwan sekalian, dari pertemuan ini saya tidak bermaksud
mengemukakan banyak hakikat ilmiah kepada Anda semua agar bisa Anda
mengerti dan tidak bermaksud mempengaruhi jiwa Anda semua, karena pada
akhirnnya pengaruh itu pasti muncul pada siapa saja yang mendengarkan
dan merenungkan kitab Allah SWT.

Saya tidak bermaksud mewujudkan
kedua hal ini semata, tetapi saya bermaksud mendapatkan manfaat nyata
yaitu agar perjumpaan kita dalam kajian ini bisa kita jadikan sebagai
sarana untuk saling mengenal, menjalin hubungan, agar sebagian kita
akrab dengan sebagian yang lain dan sebagian kita berbahagia berjumpa
dengan sebagian lain, sehingga jiwa kita saling akrab, hati kita saling
bertaut, pikiran kita saling mengasah, dan agar dalam kajian dan
pertemuan ini kita bisa terus-menerus mengkaji banyak atau sedikit dari
aspek-aspek ilmiah yang berkaitan dengan diri kita.

Ikhwan
tercinta, dengan pertemuan ini saya ingin membuka kesempatan untuk
saling memahami dan mengenal, maka hendaklah Anda semua berusaha
mewujudkannya. Percayalah kepada saya, bahwa saya merindukan kajian
ini, sekalipun kadang-kadang saya tidak mempunyai hasrat untuk
berbicara, tetapi mungkin saat berlangsungnya acara kajian ini adalah
saat jiwa ini bersih. Barangkali jiwa ini bisa berpaling dan mengendur,
tetapi percayalah kepada saya, Ikhwan sekalian, bahwa saya merindukan
saat ini, di hari ini, dengan kerinduan yang luar biasa. Saya
menunggu-nunggu saatnya tiba. Bertanya dan saling memahami adalah
perbuatan yang pahalanya lebih besar di sisi Allah daripada belajar.

Nabi kita SAW pernah bersabda,
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga saling mencintai.”

Seorang
mukmin adalah orang yang berhati nurani, berperasaan, dan hidup.
Hatinya kaya raya. Wahai Akhi, seorang mukmin adalah seorang yang lemah
lembut dan ramah di mana pun ia berada.”

Subhanallah..
Betapa lembutnya hati beliau.. jadi teringat firman Allah dalam QS Al Maidah 5:54:
“..Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin..”

Berikut pembukaan dari ceramah beliau yang berjudul:
Surat Paling Lengkap Mencakup Makna dan Tujuan Al Qur’an
(hal.149)

“Ikhwan
yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan
dari Allah, yang baik dan diberkahi: assalamu ‘aalikum warahmatullaahi
wabarakatuh.

Bagus sekali bila seseorang berada di tengah-
tengah kelompok pilihan dan istimewa yang terdiri dari para pemuda
beriman yang bersih, yang hati mereka tidak dipertemukan dan tidak
dipertautkan kecuali oleh dakwah yang baik, kata-kata yang baik, dan
tujuan yang baik pula. Kita memohon kepada Allah agar memasukkan kita
dalam golongan orang-orang yang baik, di dunia maupun di akhirat.
Sesungguhnya Dia sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Tahukan
Anda, ampunan, rahmat, dan karunia apakah yang turun kepada kita di
majelis yang mulia ini, yang dilaksanakan di jalan Allah dan karena
Allah? Rahmat macam apa? Ampunan macam apa? Curahan karunia macam apa
yang turun kepada kita yang berkumpul di salah satu taman surga ini?
Bukankah pertemuan kita ini termasuk dalam kategori halaqah zikir?
Sedangkan
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika kamu melihat taman-taman surga,
maka bersenang-senanglah di sana.” Para sahabat bertanya, “Apakah
taman-taman surga itu, wahai Rasulullah?” “Halaqah-halaqah dzikir,”
jawabnya.

Beliau juga bersabda:
“Tidaklah suatu kaum
berkumpul di suatu rumah Allah, membaca dan mempelajari kitab Allah
secara bersama-sama, kecuali mereka pasti diliputi oleh rahmat,
ketenangan turun kepada mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Allah
menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya.”

Ikhwan
tercinta. Bukankah kita berkumpul di suatu rumah Allah? Meskipun tempat
ini bukan masjid, tetapi sama dangan masjid dipandang dari tujuan
pembangunannya dan aktivitas yang dilakukan di dalamnya.

Berbahagialah,
Ikhwan sekalian, sesungguhnya kita berada di salah satu rumah Allah.
Para malaikat mengelilingi, rahmat Allah meliputi dan ketenangan turun
kepada kita.” “Sentuhan Hati Hari Selasa", yang pasti dirasakan oleh
orang semacam saya ketika berdiri di tengah-tengah Anda, dan yang harus
ditunaikan sebaik-baiknya ini, sedikit pun tidak akan saya
lebih-lebihkan dan saya buat-buat, tetapi ia benar-benar merupakan
bisikan dari hati ke hati.”

Subhanallah..
Memang yang datang dari hati, akan sampai pula ke hati..
Dakwah
yang Imam Syahid lakukan berangkatnya dari hati yang penuh cinta,
walhasil sampai pula pada hati yang saling terpaut karena cinta..

Berikut pembukaan dari ceramah beliau yang berjudul:
Amar Ma’ruf Nahi Munkar
(hal.201)

Amma
ba’du. Secara formal, saya meminta maaf kepada Anda semua lantaran
keterlambatan saya saat ini, namun secara substansial saya memohon maaf
kepada diri saya sendiri karena telah menghalanginya dari indahnya
perjumpaan akrab dengan Anda semua saat ini.

Ikhwan semua.
“Sentuhan Hati Hari Selasa” menghendaki untuk menunjukkan hak dan
keberadaannya. Bila kita tidak mengenal hak diri kita, maka siapakah
yang akan mengenalinya? Karena itu, izinkan saya berpanjang lebar
dengan “Sentuhan Hati Hari Selasa” ini untuk menggambarkan hak
persaudaraan, seraya memohon kepada Allah SWT agar memberikan manfaat
kepada saya dan Anda semua dengan apa yang kita ucapkan maupun yang
kita dengarkan, serta memperat ikatan persaudaraan ini di antara hati
kita, yang ia merupakan kekuatan bagi orang-orang yang lemah dan bekal
bagi orang-orang yang bercita-cita dan berjuang. Saya memohon kepada
Allah SWT agar menyatukan hati kita di atas ridha-Nya dan memberikan
kepada kita kenikmatan cinta karena-Nya, serta menjadikannya bermanfaat
bagi kita di dunia dan akhirat.

Ikhwan semua, Anda telah membaca
dan mengetahui bahwa Allah SWT menghargai ikatan di antara orang-orang
beriman ini dengan harga yang tinggi, sehingga menilainya sebagai satu
bentuk keimanan, dan ketiadaannya sebagai satu bentuk kekufuran. Anda
semua telah membaca fiorman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu bersaudara.” (QS Al Hujurat 49:10)

Subhanallah..
Hasan Al-Banna banget gitu loh..

Kutipan yang terakhir..

“Ikhwan
sekalian, ini adalah malam yang agung lagi mulia. Kita sedang berada di
dalamnya dan menikmatinya karena ia adalah wahana bersatunya hati yang
saling menolong dalam ketaatan kepada Allah dan dalam rangka mencari
ridha Allah. Saya tidak melupakan sentuhan yang tampak di hadapan saya,
menggetarkan perasaan saya, dan mempengaruhi jiwa saya, kemarin.

Kemarin
saya berjalan-jalan, bersama seorang akh. Kami memperbincangkan hal-hal
biasa dan umum. Di sela-sela pembicaraan, akh ini mengingatkan bahwa
sekarang hari Senin, dan besok hari Selasa. Sungguh menggembirakan dan
mengesankan, ketika ia berbicara mengenai perasaan aneh yang muncul
pada dirinya. Dengan bersahaja dan nada datar, ia berkata, “Saya sering
menghitung-hitung kedatangan malam tersebut karena kerinduan untuk
berjumpa dengan saudara-saudara saya.” Kemudian ia melanjutkan
perkataannya, “Sekarang saya mengetahui hikmah hari Jum’at dan shalat
Jum’at, yang banyak di antara kaum muslimin tidak memperhatikan
rahasianya. Andaikata mereka serius memperhatikan hari Jum’at dan
shalat Jum’at, tentu keadaan mereka tidak sebagaimana sekarang. Ketika
mewajibkan pertemuan-pertemuan ini, Islam melihat tujuan-tujuan luhur
di dalamnya yaitu pertemuan jiwa dan hati yang ikhlas pada hari Jum’at
untuk melaksanakan shalat Jum’at. Sayangnya, manusia melaksanakan
shalat Jum’at sekedar sebagai pelaksanaan kewajiban, yang barangsiapa
telah melaksanakannya, gugurlah kewajiban tersebut darinya dan
barangsiapa belum melaksanakannya maka ia mendapatkan hukuman.”

Akh
tersebut mulai berbicara panjang lebar, sedangkan saya sedikit kurang
perhatian terhadapa pembicaraannya, karena ia telah menghujani saya
dengan dua sentuhan.

Pertama, kegembiraan karena kaum muslimin
mulai mengetahui faedah pertemuan ini, yaitu pertemuan hati dan jiwa.
Inilah yang menggembirakan dan membahagiakan saya, sekaligus membuat
saya kurang memperhatikan isi pembicarannya.

Kedua, saya
khawatir jika waktu berlalu terlalu lama sementara mereka belum juga
mengetahui hikmah tersebut, sehingga mereka memahami Selasa hanya
sebagai hari pelajaran, melupakan hikmah di balik itu, yaiutu
tolong-menolong dalam rangka menggapai ridha Allah SWT.

Kita
memohon kepada Allah SWT agar mempertemukan kita di dalamnya atas
landasan cinta karnea-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Doa.”

Subhanallah..
Jadi ingat doa robithoh yang diajarkan Imam Syahid.. saya suka banget dengan doa itu, indah, penuh cinta dari kelembutan hati..
“Ya
Allah.. sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah
berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk
taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan
berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan
pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah
jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal
kepada-Mu, hidupkanlah dengan marifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan
syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan
sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga shalaat serta salam selalu
tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua
sahabatnya"

Ada lagi sebuah ceramahnya yang berkesan banget,
sehingga saya tidak rela untuk hanya sekedar mengutip sebagiannya,
insya Allah, ntar akan saya tuliskan utuh, judulnya: Jika Anda Ingin
Menjalin Hubungan dengan Allah, Perbaruilah Taubat (hal. 163)

oiya, satu hal lagi..
menyimak
untaian kalimat cinta dari Imam Syahid, saya teringat nasyid Suara
Persaudaraan yang berjudul Ukhuwah.. saya suka banget nasyid itu..
berikut cuplikannya:

"Rasulullah mengajarkan
tentang arti kata cinta
yang harus diungkapkan pada
sahabat atau saudara
dengan kata-kata indah
yang terungkap dari lisan
seindah yang tersimpan di dalam kalbu"

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Sunday, September 30th, 2007

Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Jadi obrolan kita belum selesai.

Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta? Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yg dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yg bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini; bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya… menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya?

Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya? Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya?

Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, "Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rosulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!. Apakah beda antara Rosululloh dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja? Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain. Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau "obsesi" yang berlebihan terhadap fisik.

Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak. Semua yg ada dlm jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang utk berubah dan berkembang. Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan.

Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yg tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.

Dan ungkapan "Aku Cinta Kamu" boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik (dan tidak menyenangkan). Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah (ranting atau cabang) yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni. Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah.

Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda?

Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya:

DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU …
MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA …