PKS ADALAH MASA DEPAN….

 

 

 

“Saya rasa antum tidak perlu taujih, visi misi sudah
jelas, kita hanya tinggal menunggu takdir baik kita di 2009”. Takdir
bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, akan tetapi ia sesuatu yang kita
‘ikut’ ciptakan. Antara kehendak kita yang kita harapkan bertemu dengan
kehendak Allah.

2009
adalah tahun keajaiban bagi banyak orang, banyak orang-orang diluar PKS
mengatakan 20% terlalu besar untuk PKS. Ikhwah di DPP bilang: “hanya
keajaiban yang buat kita bisa dapat 20%”, saya bilang: “Maka keajaiban
itu harus kita wujudkan 2009 nanti. Bahkan, kalau 20% itu keajaiban,
maka kita ingin melampaui keajaiban itu. 20% adalah angka yang harus
kita lampaui akhi.”

Kita
adalah anak-anak muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban,
partai ini bertugas untuk ciptakan keajaiban. 20% adalah tugas sejarah
untuk kita. Umar ibn Khotthob pernah mengatakan: “Setiap saya
menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda”

SBY
pernah ditanya: “kenapa minta didukung PKS?” jawabnya: “saya butuh
dukungan moril dari PKS” –beliau tahu, bahwa kita ini tidak bisa
diharapkan untuk dukungan dana, karena PKS gak punya duit.

Tahun ‘70-an Presiden Korsel Park Jung He ke aceh, dia lihat ayat Qur’an di sebelah Masjid Baiturrahman: “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” –beliau
bertanya; “artinya apa?”, “Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum,
sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri”. Jadilah ayat itu
dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi
pemerintah; “Tuhan tidak mengubah keadaan Korea Selatan, sampai rakyat
Korea yang mengubah keadaannya sendiri”. Padahal hanya satu ayat tapi
luar biasa hasilnya sekarang. Kalau kita karena kebanyakan ayat, ada
6666, jadi bingung mau mulai dari mana.

Pendiri
republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang memulai dan
melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini yang salah. Ini
menimbulkan ketidakpastian, maka inilah tanggungjawab kita untuk
mengakhiri ketidakpastian. Mereka yang mengisi era pasca orba adalah
orang yang menghabiskan 30 tahun hidupnya di orde baru, ini dalam
bahasa manajemen disebut dismatch/diskontinu.

 

Karena Realitas Berubah, Tapi Pikiran Tidak Berubah.

 

Gaya
kepemimpinan yang ditawarkan PKS adalah egaliter, demokratis. Dalam
politik Indonesia belakangan, parpol tidak tawarkan sesuatu yang baru
bagi masyarakat, sehingga Soeharto bisa naik kembali menjadi presiden
Indonesia yang paling dicintai rakyatnya diantara presiden-presiden
republik ini yang pernah ada. Kami menyebut masa ini sebagai:
kepemimpinan nasional yang disconnecting dengan bangsanya
sendiri. Orde lama demokratis tetapi tidak sejahtera, sedangkan orde
baru sejahtera, tapi tidak demokratis. Maka, kita ingin padukan itu.
Demokratis dan Kesejahteraan dalam sebuah neraca yang seimbang.

 

Maka Kami Tegaskan, Bahwa 20% ini Bukanlah Angka, Tetapi Simbol Dari Tekad.

 

Ketika
Hasan Al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu Mesir masih dijajah
Inggris. Imam Syahid mengawali dengan 7 sasaran dakwah, dan poin ke-7
adalah Ustadziyatul ‘Alam. Sebuah cita-cita besar yang jauh melampaui
langkah kaki. Bangsa yang sedang dijajah ingin menjadi guru bagi
peradaban manusia? Ini menghasilkan utopia, yang mana orang-orang
bersahaja saat itu percaya bahwa hal ini bisa diwujudkan, meskipun
tidak pada masa mereka.

Hampir
seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama’ah yang
legendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya. Karena
orang itu dipimpin bukan oleh seorang Al Banna, tetapi oleh ide-ide
besar.

Seorang
guru pernah membawa mangkuk besar kemudian diisi batu-batu besar sambil
bertanya pada murid-muridnya: “Apakah mangkuk ini sudah penuh?” –sudah,
jawab muridnya. Kemudian sang guru mengisi mangkuk itu dengan pasir,
dan pasir itu memenuhi sela antara batu-batu besar, kemudian sang guru
kembali bertanya: “Sudah penuhkah mangkuk ini?” –kali ini murid
terpecah menjadi dua; ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum,
meskipun tidak tahu dimana belumnya. Kemudian guru itu menyiramkan air
ke dalam mangkuk, dan air itu pun membasahi pasir dan memenuhi mangkuk
itu sekali lagi.

Kemudian
guru itu mengambil mangkuk yang baru, dan diisinya dengan pasir,
sejenak kemudian ia berkata: “apakah mangkuk ini masih muat untuk batu2
besar ini?”-spontan para murid mengatakan :”tidak”, -“maka seperti
itulah kepala kita, jika kita isi dengan hal-hal yang kecil, maka ia
tidak akan pernah sanggup diisi oleh ide-ide besar. Fikirkanlah ide-ide
besar, maka hal yang kecil akan termuat dengan sendirinya.”

 

Lalu Kenapa PKS Harus Diberi Kesempatan Memimpin Republik ini?

 

Jawabannya
tidak ada kecuali karena satu hal: “Keadilan” ; karena jika kita sudah
melihat para pemimpin lain sudah pernah gagal, tolong beri satu
kesempatan pada kader-kader PKS untuk memimpin bangsa ini dan ikut
gagal bersamanya. Tapi jika kita bisa mengubah kegagalan itu? Kita
tidak butuh terima kasih dari Indonesia.

Islam dan keIndonesiaan harus menjadi satu, setiap jengkal wilayah teritorial republik ini adalah lahan dakwah kita. Islam dan keIndonesiaan ibarat isi dan kulit, ibarat makna dan kata.

Ini
adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah
kemenangan dan menutupnya, cerita tentang bagaimana PKS menyiasati
semua keterbatasannya. Memenangkan pemilu 2009 adalah tugas sejarah
bagi PKS.

Jika
kita membayangkan layar komputer atau display HP di masa depan. Fitur
apakah yang kita inginkan terpampang sebagai fitur utama? Jika Layar
komputer dan display HP itu adalah Indonesia, maka kita ingin PKS
menjadi fitur utamanya.

 

PKS Adalah Fitur Masa Depan Indonesia.

 

Hal ini dikarenakan 2 hal : Ide besar dan great performance. Semua ini ada di PKS. Dan partai apapun yang mampu tawarkan solusi bagi Indonesia akan memimpin republik ini.

Banyak
orang makan, sampah akan banyak, sampah adalah problem. Partai yang
bisa memberikan solusi untuk sampah: adalah masa depan. 230 juta
penduduk Indonesia dan terus bertambah, membutuhkan lapangan kerja,
mengakibatkan pengangguran. Partai yang bisa memberikan solusi untuk
pengangguran: adalah masa depan.

 

PKS Adalah Simbol Dari Ide-ide Besar dan Kinerja-kinerja Besar.

 

Soekarno
mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena legendaris, berfikir
tidak seperti orang lain berfikir, Soekarno memikirkan revolusi.
Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu bernama pembangunan.
Kenapa para Presiden republik ini yang menjabat setelah reformasi hanya
bertahan 12-16 bulan? Karena mereka berfikiran pendek dan tak ada ”narasi besar” dalam fikiran mereka.

Penafsiran
tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru adalah
kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan, sebagaimana mereka
juga memiliki kebaikan. PKS adalah matchmaker, PKS mensintesa
kebaikan-kebaikan periode sebelum reformasi. Kita mensintesa demokrasi
dan kesejahteraan. Demokrasi orde lama yang mengeliminsai
kesejahteraan, dan kesejahteraan orde baru yang mengeliminasi demokrasi.

 

Jika PKS Bisa Mewujudkan Sintesa Ini, Maka Kita adalah Masa Depan

 

PKS
menggabungkan orde lama yang adil tapi tidak makmur, dan orde baru yang
sejahtera tetapi tidak demokratis. Maka nama partai ini adalah Partai
Keadilan Sejahtera. Jika sekarang kita membuat program “PKS mendengar”,
sudah saatnya kita memulai ujung dari program ini, yaitu “PKS bicara”

Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata:

Tuhan,

Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta.

Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini menjadi satu

 

Kita adalah Simbol Perekat yang Akan Memimpin Reformasi.

 

Lidi
kita adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita
harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita
membentuk sapu lidi bersama. Itulah yang dituntut dari PKS sebenarnya,
tidak hanya bersih, tetapi juga membersihkan. Kenapa reformasi jalan di
tempat? Karena semua orang yang punya potensi tidak tahu dimana
tempatnya.

KPK
anggarannya 78 M setahun, tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah
dari korupsi setahun 24 M. Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran
untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat
skandal itu yang harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu
hanya 10 juta $ paling banyak. Ini cara membunuh nyamuk dengan meriam.

Kita
selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian disana
tidaklah cukup, kita harus menjadi unsur perekat yang membuat seluruh
warga Indonesia peduli, itu baru cukup.

Berkumpul
tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh atau acara
seperti ini, tempat sudah penuh, tapi tidak ada yang membuka dan
memimpin acara, tak ada yang dikerjakan bersama, semua hanya datang dan
berbicara diantara mereka tentang kebaikan dan kerja bersama.
Perkumpulan tersebut adalah sia-sia.

 

Maka Matchmaker Ini Harus Dibarengi Dengan Satu Kemampuan Lain: Inovator

 

Inovator
adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita mendahului langkah kita dan
langkah orang lain, bahkan langkah semua orang di republik ini. Seorang
ulama dakwah menyatakan : “Jika satu jama’ah itu hanya dipenuhi oleh
massa yang banyak, maka jama’ah itu akan punya jangkauan tangan dan
kaki yang panjang tapi jangkauan mata yang pendek, sehingga sering
tersandung dan jatuhlah jama’ah itu. Sebaliknya jika sebuah jama’ah itu
hanya punya massa yang sedikit, meskipun banyak intelektual maka
jama’ah itu akan memiliki jangkauan mata yang luas tetapi jangkauan
tangan yang pendek, sehingga hanya bisa berangan-angan tapi kemudian
bersedih”

Maka
Ibnu Qayyim mengatakan tidak boleh melihat akhwat, karena itu akan
mewariskan kesedihan. Pandangan mata akan diikuti hasrat, tetapi hasrat
diikuti ketidakberdayaan. Maka ia hanya akan mewariskan kesedihan.

Kita memiliki semua yang dibutuhkan masyarakat; massa besar, tertib, santun, militansi, visi misi, kesetiaan, ketaatan, semua.

Mengapa
Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu, bahwa
al-Qur’an diturunkan ayat demi ayat untuk menjawab setiap dimensi
kemanusiaan yang terjadi dikalangan sahabat. Bahwa wahyu selalu
mendahului langkah kaki para sahabat.

Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: “inna fatahna …”
–jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan aman. DR. Said
Ramadhon al Buthi dalam Fiqhu Shirah menjelaskan bahwa pada saat ayat
tersebut diturunkan, mayoritas sahabat tidak tahu apa arti dari ayat
tersebut. Sampai mereka mengalaminya 2 tahun kemudian dan tersadar
bahwa Al-Qur’an telah mendahului mereka.

Perang
Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-Anfaal, Allah
sudah memperingatkan kaum muslimin agar tidak tergoda. Kenyataannya
setelah perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan Hamzah bin Abdul
Mutholib –paman nabi, Mush’ab bin Umair –sahabat yang sangat dicintai
Nabi, dan 70 sahabat syahid. Allah tidak kemudian menghinakan, tetapi
turun ayat “laa khoufu, walaa tahzanu…”

PKS
akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat
non-muslim akan mengatakan: “Perbedaan agama sudah tidak relevan
sekarang”, dan masyarakat Muslim akan mengatakan: “Memang andalah yang
menampilkan Wajah Islam dengan benar”

7 Kata kunci strategi
pemenangan pemilu 2009 tidak perlu dihafal sebagaimana antum hafalkan
al-Fatihah. Hanya butuh keyakinan & senyuman, kemudian rasakan aura
kemenangan dan sebarkan itu kepada para kader dakwah.

Itulah yang dirasakan
para sahabat yang berperang bersama Kholid bin Walid, mereka tidak
pernah bertanya strategi, taktik, tahapan seperti apa. Berperang
bersama akh Kholid saja itu sudah cukup. Begitulah semangat dengan
keyakinan.

Khalid bin Walid
ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh para pendeta,
pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam peperangan adalah
mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin Walid. Khalid tahu
persis itu yang para pendeta itu lakukan, akan tetapi Khalid tetap
meminum air beracun itu untuk mengatakan pada musuh Allah itu: ”Dengan
izin Allah, racun ini tidak akan membunuhku”, sambil membaca do’a yang
setiap hari kita baca dalam ma’tsurat: “Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’ wahuwas samii’ul ‘aliim”

Di Afrika, semua rusa
bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak
berlari lebih kencang dari singa, maka mereka akan mati dimakan. Di
Afrika, semua singa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa
jika mereka tidak berlari lebih cepat dari rusa, maka mereka akan mati
kelaparan.

Di
Indonesia, semua petinggi partai lain bangun di pagi hari dengan satu
kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari PKS, maka
konstituen mereka akan habis, dan PKS akan menang di 2009.

Kita
telah menyampaikan pesan pada mereka melalui ratusan pilkada di daerah,
bahwa setiap kita menang, kita memperolehnya dengan sarana yang
pas-pasan. Dan ketika mereka menang, mereka membayarnya dengan harga
yang terlalu mahal. Pesan itu telah jelas di kepala mereka:
“Pertarungan jangka panjang melawan PKS bukan suatu pekerjaan yang
mudah”. Dalam keadaan miskin saja mereka harus setengah mati kalahkan
kita apalagi jika keadaan kita besok lebih baik daripada sekarang ini?

Sekarang
ini pesan-pesan ini telah sampai, pasca Mukernas (di Bali) bahkan orang
partai lain sudah berfikir: “PKS sudah masuk kandang kita”. Top ten
media adalah Mukernas, 5 dari narasumber terbanyak yang dihubungi
selama pekan ini oleh media adalah PKS.

 

Dan Ini Semua Hanya ‘Isyarat Pendahuluan’.

 

Sejarah
seperti apa yang ingin kita tulis? Mari berimajinasi, saat 20, 30, 40
tahun lagi guru SD IT bercerita tentang sejarah hari ini kepada
cucu-cucu kita, “Dahulu kala.. ada sebuah partai..”. Maka ending cerita
ini jelas, bahwa 20% adalah tugas sejarah untuk kita.

Sepanjang
tahun saya selalu ditanya oleh Suara Pembaharuan dengan pertanyaan yang
sama: “Apakah anda ingin membuat partai lagi jika PKS tidak lolos ET?”,
maka saya menjawab: “jika 1999 kemarin kita tidak lolos kemudian kita
membentuk PKS, maka 2004 kami akan membentuk Partai Keadilan dan
Sejahtera dan Kebahagiaan, dan jika 2009 kita masih tidak lolos juga,
kami akan membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan serta
Kehormatan”

 

Wa antum a’lamu inkuntum mukminiin,
kemudian pertanyaan itu sekarang berubah: “Apakah PKS siap memimpin
republik ini?”… kita menjawab: “20% adalah cerita yang kita buat hari
ini” ■

24 Responses to “PKS ADALAH MASA DEPAN….”

  1. die Says:

    subhanallah.. Allahu akbar

  2. Fathan Says:

    Laa ilaaha illaLLah.. Allahu Akbar!!!

  3. Miftah Says:

    Subhanallah wal hamdulillah
    Allahu akbar

  4. hidayat Says:

    PKS JAYA TERUS, ALLOHU AKBAR!!!

  5. defender Says:

    Insya Allah ustadz..Perubahan di negeri ini akan lahir dari tangan - tangan kita..!!!
    Kemerdekaan Pekestina kelak tidak terlepas dr perjuangan kita disini..
    bahkan kebangkitan Islam diseluruh Dunia pun akan berawal dari kemenangan2 kita di Indonesia
    AllahuAkbar

  6. ade Says:

    Allahu akbar.. Benar apa kata ustad, berikan PKS kesempatan untuk memimpin negri ini

  7. nurul Says:

    assalamu’alaikum
    subhanallah…
    Insya Allah, PKS datang untuk menyelamatkan ummat

    bangkitlah negeriku,harapan itu masih ada
    Allahu akbar!!

  8. andri Says:

    Sangat Menggugah Akhi !

    Allahu Akbar

  9. dans Says:

    kuncinya adalah sinergi… sinergi dengan berbagai kelompok dakwah di luar PKS akan semakin meningkatkan citra PKS itu sendiri sebagai pioneer wihdatul Ummah… model perubahan yang ditawarkan PKS adalah perubahan struktural sedangkan dakwah PKS di tingkatan grassroot sangat kultural.. tinggal menunggu kekuatan kelompok lain untuk menyatukan langkah… 1 hal yang perlu ditegaskan disini adalah goal setting kita adalah Islam. kemenangan PKS sejatinya adalah kemenangan Islam secara sosio-politik… Insya Allah, DIA tau hamba-hamba Mukhlisin yang berjuang dengan keteguhan hati di jalan-Nya.
    salam…

  10. Hendra Says:

    PROKLAMASI
    Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan (dari kaum tua konservatif ke kaum muda progresif) d.l.l (dan mewujudkan Indonesia sebagai negeri untuk tempat beribadah kepada Tuhan) diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
    Yogyakarta, hari 17 bulan Agustus tahun 2008
    Atas nama bangsa Indonesia
    Kaum muda negarawan

    Ditulis oleh Hendra Sugiantoro

  11. al-jauhari Says:

    *
    PROKLAMASI

    Kami bangsa jang merdeka… Berdaoelat… dan Berhoekoem dengan Ideologi jang HAQ…
    menjatakan REVOLOESI bagi negeri kami. Hal-hal jang mengenai pembebasan dan pengawalan revoloesi dan lain-lain akan dilaksanakan dengan seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya.

    Djakarta, 12 Agoestoes 2007
    Atas nama kaoem revoloesioner doenia
    GELORA BOENG KARNO

  12. Istiqamah Saja Says:

    Akh, Anis!

    jangan sampai kau menyebarkan pemikiran sinkretisme, campur adukkan agama

    PKS
    akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat
    non-muslim akan mengatakan: “Perbedaan agama sudah tidak relevan
    sekarang”, dan masyarakat Muslim akan mengatakan: “Memang andalah yang
    menampilkan Wajah Islam dengan benar”

  13. Istiqamah Saja Says:

    Dari forum SMS FKP, 26 Nov 2008 jam 21

    STOP PRESS

    HATI2 BERITA FITNAH/POLITISASI :
    1.Td siang ada rekonsiliasi FKP dgn Anis di rmh Anis.
    2.Assalamualaikum.Slrh kader uku yg mo hadir utk menyaksikan TABAYUN ant bendahara FKP uhd ust Anis harap kumpul hari ini di rmh ust aAnis 9.00 pagi. sebarkan !

    JWBAN FKP :
    KE 2 BERITA TSB TDK BENAR KRN FKP TDK SDG DALAM KONFLIK DG SIAPAPUN.JADI FKP TDK PERLU REKONSILIASI DG SIAPAPUN JG. FKP HANYA INGIN MENGEMBALIKAN JAMAAH KE ASHOLAH DAKWAH.

  14. anwar Says:

    saya yakin PKS mampu mencapai 20 % ato lebih. insya Allah . amin

  15. ikhwan pemalu Says:

    pesan bagus dari ustad daud rasyid

    Kembali ke Asholah Dakwah
    Dr. Daud Rasyid MA (KIK Al Hikmah tanggal 16 November 2008)

    Ba’da tahmid wa sholawat

    Ayyuhal muslimuun, ikhwah fillah yang dirahmati Allah, syukur alhamdulillah yang tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang masih meneguhkan semangat kita walaupun dari sana sini SMS ataupun panggilan ataupun lobi-lobi untuk orang-orang tertentu agar tidak ikut dan tidak berhubungan dengan forum kader peduli, tetapi ternyata alhamdulillah ana lihat mesjid ini, dari sejak pertemuan yang lalu bahkan makin penuh. Ada apa ini, antum ini semua? Makin ditakut-takuti makin penuh, makin banyak yang hadir. Sebenarnya ini menunjukkan sebuah kerinduan kepada asshoolatudda’wah.

    Kita ingin kembali kepada materi-materi yang dulu kita pelajari sejak awal. Al walaa-u lillaah, al baraa ‘ankulliththawwabiin. Berpihak kepada Allah. Innama waliyyukumullaahu warrasuuluhu walladziina aamanu, sesungguhnya wali kamu itu adalah Allah, rasulNya dan orang-orang beriman.

    Sekarang sudah menjadikan pahlawan orang-orang yang tak jelas arah hidupnya. Dijadikan sebagai tokoh, sebagai wali. Diangkat nama-nama orang yang dalam sejarah telah tercatat permusuhan mereka itu kepada Islam.

    Kenapa dulu syari’at Islam terganjal pada tahun 45? Dalam Piagam Jakarta, kita semua tahu sejarah. Padahal pada waktu diproklamasikannya itu kemerdekaan, dasar-dasar daripada negara ini, itu didasarkan kepada Undang-undang Dasar 45 yang mengacu kepada Piagam Jakarta. Yang intinya, ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Tanggal 18, sehari, berubahlah itu, dicoretlah itu. Oleh siapa? Kelompok nasionalis yang kita tahu siapa. Mereka inilah yang ditokohkan sebagai pahlawan sekarang dan dalam iklan-iklan di televisi itu.

    Jadi kita ini berubah 180 derajat, dari sebuah jama’ah (kelompok) umat Islam yang ingin mengerahkan wala’ nya kepada Allah menjadi berwala’ kepada syaithon dan thawwabiin. Na’udzubillaahi min dzalik. Kita tidak mau. Saya yakin inilah yang mendasari kehadiran antum.

    Sebenarnya ikhwah fillah, ana mencium perubahan ini sudah sejak awal, pada waktu adanya mukernas di Depok, di mana diundang berorasi bekas musuh kita — yang sudah meninggal — tokoh sekuler di Indonesia. Antum masih ingat? Disuruh, diminta, dihormati, diagungkan untuk berorasi. Saya tidak perlu sebut nama, karena antum semua sudah tahu, betul ndak?

    Pada waktu itu hari Jum’at. Ana gak habis pikir, pusing kepala. Apa dasarnya ini orang diundang? Yang dulu kita ludahi, yang dulu kita hujat sebagai tokoh sekuler, tiba-tiba disambut, dihormati, diagungkan seperti guru. Laa hawla wala quwwata illa billaah. Pada saat itu betul-betul ana, secara pribadi, hati ini tersayat-sayat. Seperti meludah, dijilat kembali ludahnya.

    Oleh karena itu, pada saat itu, ana ingat kembali ini ceritanya. Begitu dia naik, ana langsung keluar. Ditahanlah ana oleh tiga orang. “Ustadz, ustadz, tunggu dulu, sebentar saja ustadz!”

    “Oh tidak ada. Tidak pantas bagiku untuk menghormati, menghadapi muka orang yang dulu memusuhi Islam. ”

    Waktu itu dia diagungkan, dijadikan rujukan sebagai bapak intelektual Indonesia. Dan seperti orang yang mengilhami gerakannya yang disebut dengan partai da’wah.

    Dari situ saja, waktu itu, saya sudah mulai membayangkan, ini bagaimanapun ke depannya akan menjadi kelompok sekuler. Sudah mulai hilang rambu-rambu yang dipelajari, al walaa-u lillaah. Maka hari demi hari makin menunjukkan. Betul kata salah seorang ikhwah kita di dalam forum SMS itu, hari-hari ini belakangan terus akan memberitahukan kepada engkau, apa yang dulunya engkau tak tahu. Apa yang dulunya masih tertutup rahasia, hari ke depan akan makin lama makin tersingkap rahasia tabir-tabir yang dulu tersembunyi.

    Kita mengira bahwa kita itu berjalan di atas sebuah thariiqudda’wah yang shahihah, thariiqul anbiya wal mursaliin, ‘ibadatullaahi wahdah, al kufru liththaghuut. Tetapi ternyata belakangan kitapun diajak berdamai, cair, lemah lembut. Menunjukkan wajah yang senyum kepada orang-orang mujrimin yang menghancurkan negara ini, yang menjual negara ini. Kitapun disuruh untuk berbaik-baik kepada mereka. Bagaimana mungkin seorang kader da’wah bisa menerima seperti itu?

    Oleh karenanya ikhwah fillaah rahimakumullaah, mari kita tetap berpegang. Perbanyak antum tilawatil Qur’an, insyaAllah orang-orang yang terus senantiasa berpegang kepada kitabullah, ini tidak akan mau tergelincir. “Laa tajtami’u ummati ‘ala dhalaalah”, kata nabi kita SAW. “Tidak akan mungkin ummatku bersatu dalam sebuah kesesatan.”

    Jadi mudah-mudahan kita ini penyelamat agar saudara-saudara kita yang lain tidak sampai sesat. Kita ini sebagai pengontrol mereka. Sekali lagi kita ingin tegaskan, kita ini bukan mau merebut sebuah qiyadah. Apa yang mau direbut? Kita ndak punya kemampuan apa-apa. Kita ini bukan mau mengganjal, kita ini bukan mau menggagalkan, tidak. Tetapi jalan da’wah yang sudah dari awal dibangun secara benar, ini jangan sampai miring, seperti orang yang mabuk, tidak lihat jelas jalannya yang mana yang harus ditempuh, ke kiri atau ke kanan. Kita tidak mau seperti itu, karena semuanya kita ini punya patokan, punya dasar kitabullah, sunnah rasulillah. Tidak akan lahir mujtahid-mujtahid baru yang akan mempunyai ta’wil-ta’wil untuk menjustifikasi kebijakan-kenijakan yang nyeleneh dan kontroversial. Tidak bisa itu, dan itu tidak akan kita biarkan. Dan kalau kita tetap dituduh sebagai orang-orang yang ingin menggembosi, yang ingin menciptakan jama’ah baru, biarlah mereka nanti tahu bahwa kita tidak punya keinginan untuk membuat apa-apa yang baru. Kita hanya ingin meluruskan jalan yang sudah ada.

    Oleh karenanya mereka seharusnya membuka hati dan harusnya mereka itu berterimakasih ada yang mengingatkan. Kan begitu seharusnya? Mereka harusnya ruju’ kepada yang benar. Berterimakasih, bukan justru menteror, beberapa saudara kita diteror lewat SMS, dan seterusnya dan seterusnya. Maka oleh karena itu, kita tidak akan berhenti dalam menegakkan al ma’al amru bil ma’ruf wan nahi ‘anil munkar, kapanpun dan di manapun.

    Dan kita yakin, insyaAllah, dengan do’a-do’a kita, kita berdo’a agar ikhwah kita akan kembali seluruhnya ke jalan yang benar. Dan kita tidak perlu berdo’a agar mereka celaka, tidak. Mereka itu sedang menghadapi sebuah cobaan yang disebut dengan dunia. Supaya mereka sadar akan cobaan itu, dan tidak larut tergelincir, akhirnya mereka pun terpental dari jalan da’wah. Nanti, akhirnya yang disebut oleh Said Hawwa, al mutafaqiqu fii thaariqudda’wah, jangan dibalik, jangan dibilang kita ini orang-orang yang berguguran di jalan da’wah. Sekarang ada pemutarbalikan istilah, orang lurus dibilang bengkok, yang bengkok dibilang lurus. Ini berarti kacamata sudah tidak benar. Kalau kacamata sudah tidak benar, itu memang betul. Hitam kelihatan putih, putih kelihatan hitam.

    Jadi oleh karenanya, sekali lagi, mari kita tamassuh bi kitabillaah. Apa yang dulu biasa kita lakukan, tilawatil Qur’an adalah merupakan tugas seorang akh untuk berusaha mengkhatamkan Qur’an itu minimal satu bulan sekali. Ini adalah tugas-tugas kita sebagai akh di dalam jama’ah ini. Begitu juga ikhwah, kita menghidupkan sunnah, jangan kita anggap kecil, sepele sunnah-sunnah. Sunnah-sunnah nabi itu semuanya mulia. Rasulullah sudah berpesan kepada kita, jangan kamu anggap sepele. “Taraktufiikum amroi maa intamasaktum bihi balanthadhillu ba’di ‘abada”. Biar orang lain menyepelekan sunnah, menganggap bahwa dirinya sudah berubah, kita sudah maju, kita sudah meninggalkan masa lalu.

    Oh tidak, kita tetap katakan, kita ini tetap dulu seperti yang dulu juga. Kapanpun dan di manapun kita hidup, tetap saja manhaj yang kita pakai manhaj yang lama. Manhajudda’wah anbiya wal mursaliin yang mengajak orang kepada ‘ibadatullaah, al waahidil qahhaar. Ikhwah fillah rahimakumullah, kalaupun awalnya kita mau berpartai tujuannya adalah untuk mengajak orang menyembah Allah, bukan mau mencari kekuasaan. Tak ada gunanya mencari kekuasaan. Apa gunanya kekuasaan kalau akhirnya membuat kita celaka. Karena Allah pun mengatakannya dalam al Qur’an
    “Wa ‘adallaahulladzina amanu minkum wa ‘amilushshaalihaati, layastakhlifannahum fil ardhi, kamastakhlafalladzina min qablihim, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, wa layubaddi lannahum min ba’di khawfi him amna ; ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an”

    Allah menjanjikan kepada orang beriman dan beramal sholeh. Antum ndak usah ribut, pusing kepala cari kekuasan. Itu sudah janji Allah, akan dikasihnya. Ndak usah sampai kamu mengorbankan idealisme menjual tokoh-tokoh orang. Akhirnya sekarang yang punya tokoh pada marah semua. Malu tidak itu? Malu sekali. NU nya marah, Muhammadiyahnya marah, orang nasionalisnya marah. Sudah tidak ada harga diri lagi. Tokoh orang disanjung-sanjung seolah-olah tidak punya tokoh kamu itu.

    Padahal kita itu, qudwatuna Rasulullah SAW. Kita tidak perlu kepada tokoh-tokoh. Semua tokoh itu ada cacatnya, betul tidak? Yang bersih dari cacat Rasulullah SAW. Kenapa kamu sibuk menokohkan orang? Semua mereka itu punya cacat, yang cacatnya itu tidak tanggung-tanggung.

    Oleh karenanya, kita kembali kepada manhaj, Allaahu ghayatuna, warrasul sa’iduna. Rasulullah itu pemimpin kita yang insyaAllah tidak akan ada sesuatu yang negatif pada diri Rasulullah SAW. Kenapa kita sibuk mencari tokoh di luar tokoh yang sudah diajarkan kepada kita?

    Kembali kepada ayat yang tadi, Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, akan diberinya kekuasaan. Nah ini dia… Jadi kamu tidak usah pusing, sibuk, menjilat ke sana ke mari mencari perhatian orang. Ada pepatah Arab, “Kullun yadda’i hubban bi Laila, wa Laila la tusirru bi waahid”, Semua laki-laki mengatakan Laila cinta pada saya, tetapi Laila tidak pernah mengakui satu orangpun diantara mereka. Malu sekali.

    Jadi Allah akan memberikan yang namanya kekuasaan itu, layastakhlifannahum, istikhlaaf, sebagaimana yang diberikannya kepada ummat sebelum kamu, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, akan memberikan tamkiin, akan memantapkan posisi diin ini di muka bumi, kemudian wa la yubadilannahum min ba’di khawfi him amna, akan diganti Allah rasa takut menjadi rasa aman, tapi syaratnya apa? ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an.

    Sekarang kita itu sudah mulai menyerempet-nyerempet ke syirik, betul tidak? Mengakui nasionalisme yang dibuat oleh orang-orang nasionalis yang tidak mengenal Allah, yang tidak bertauhid kepada Allah Ta’ala. Jadi kita sudah mulai nyerempet ke situ. Yang tadinya faham tentang tauhid, yang tadinya memusuhi syirik tapi sekarang sudah berubah. Bagaimana kita mau mendapatkan kekuasaan dari Allah Ta’ala? Yakin ana gak bakalan. Tidak bakal dikasih Allaah Ta’ala itu. Karena sudah dikatakan demikian, “ya’buduunani la yusyrikuna bi syai-an”. Mereka menyembah Aku dan tidak mensekutukan Aku dengan segala sesuatu apapun.

    Oleh karena itu, apapun namanya kita ini, mau jam’iyah mau jama’ah mau hizbiyyah, tugas kita adalah mengajak orang untuk ‘ibadatillaahi wahdah. Sekarang sesudah jadi partai, berani gak mengajak orang ke tauhid? Berani gak mengajak orang supaya menyembah Allah? Tidak berani. Sesudah jadi partai akan berbicara dengan bahasa-bahasa politik.

    Dipikir mereka, mereka akan bisa diberikan Allah kekuasaan. Oh tidak. Jadi selama kita tidak menempuh jalur, manhaj, cara, thariiqah yang dilakukan oleh para pendahulu kita dari ummat ini, maka Allah tidak akan kasih. Kalaupun dikasihNya nanti, ya kekuasaan yang akhirnya menghancurkan kita. Ada yang mau? Saya yakin semua kita tidak akan mau. Gara-gara kekuasaan iman kita tergadai. Gara-gara kekuasaan aqidah kita larut. Gara-gara kekuasaan yang haram menjadi halal. Tidak, lebih bagus kita tidak punya kekuasaan

    Ikhwah fillah rahimakumullah, jadi pertemuan kita ini sebenarnya ingin menghidupkan kembali apa yang dulu, yang biasa kita pelajari. Syahadatain, memantapkan makna syahadatain itu kembali. Di mana lagi ada pengertian ilaah almarhu fihi? Sudah ndak ada lagi itu materi-materi seperti itu. Pertemuan-pertemuan hanya dicekoki dengan pilkada di sini, pilkada di sana, menghadapi 2009, yang tidak ada hubungannya dengan keimanan.

    Oleh karenanya banyak para ikhwah itu mengeluh, datang ikut liqo tetapi iman tidak terasa bertambah. Bahkan pulang liqo, pusing kepala. Kalau dulu datang liqo, pulang, semangat keimanan membara, kecintaan kepada Allah SWT. Sehingga habis malam itu dihabiskan untuk sujud kepada Allah dan berdiri di hadapan Allah. Sekarang, karena terlalu larut malam membicarakan masalah agenda-agenda, pulang tengah malam, tidur, subuhpun lewat. Apakah begitu kader da’wah?

    Jadi oleh karenanya ikhwah fillah rahimakumullah, biarpun sebagian saudara kita menuduh ini sebuah upaya untuk menggembosi, kita katakan kepada mereka, tidak ada penggembosan. Yang ada adalah penyadaran. Ana, antum semua, mari kita sama-sama menyadarkan saudara-saudara kita yang sedang larut dengan dunia. Kembalilah wahai ikhwah ke jalan yang benar, dan kami semuanya saudaramu. Tidak ada keinginan diantara kami untuk memecah-belah dan untuk menimbulkan permusuhan. Apabila kembali jama’ah ini kepada khithah yang aslinya, insyaAllah, Allah akan memberikan kemenangan itu di luar yang kita perhitungkan.

    Allaahu akbar!

  16. JIRAN Says:

    Saya mengenal sedikit dengan ust Daud Rasyid, bahkan pernah menghubungi beliau tatkala diamanahi DPW untuk meminta beliau sebagai muwajjih dalam multaqa muwajjihin. Jawaban dari beliau sangat mengagetkan karena beliau tidak bersedia bahkan menyuruh para muwajjih itu ikut saja dalam pengajian di masjid yang biasa beliau isi. Pengajian itu adalah pengajian ta’lim umum. Padahal acara yang diprogram DPW itu acara khusus muwajjihin.

    Seorang ustadz bercerita di majlis tertutup (saya termasuk di dalamnya) bahwa dia telah menegur ust Daud Rasyid karena kalau diminta ceramah di TV saja mau, tapi giliran ikhwah yang minta, nolak!

    Kalau berbicara ashalah, apakah itu perilaku ashalah?

  17. fai Says:

    ust. daud rasyid bukannya dah resign dari al hizb ni????? koq masih dijadikan rujukan?? istilahnya kan dah jadi outsider gitu loh…. untuk ust daud rasyid smoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayangNya kpd beliau dan kita semua shg kita dihimpun oleh Allah dalam naungan yang tiada naungan selain dg izinNya.

  18. gaza Says:

    masalah tolak menolak kan relatif, kalo memang beliau tidak bisa, tidak bisa amanah, yach mau diapain lagi. dari pada memfitnah FKP itu BIN, padahal bohong. dari pada bikin iklan soeharto itu. dari pada pake istilah kencingi sumur zam-zam maka engkau akan terkenal. dari pada ,menolak pengusutan BLBI, dari pada nuekin marwan batubara, sodara sendiri…kejam deh kamu.

  19. Tobatlah_Nis Says:

    Mengulas Anismisme: Nasehat Untuk Pak Sekjen PKS
    Pengantar DOS

    To the point saja, apa itu anismisme? Istilah ini tercetus ketika tadi siang saya sedang lunch meeting dengan seorang al-akh senior, ketika kami sedang ngobrol tentang berbagai hal (tepatnya saya sedang minta nasehat sih), termasuk salah satunya tentang pemikiran sekjen PKS al mukarram al ustadz Anis Matta, Lc. Paparan pemikiran ustadz kita ini belakangan memang membuat kening banyak orang berkerut heran, sampai ada beberapa email masuk ke mailbox saya meminta agar secara khusus mengulas pemikiran beliau.

    Pemikiran yang ‘khas’ ini, terutama yang dituangkan dalam kitab beliau ‘Dari Qiyadah Untuk Kader’, memang agak spektakuler sehingga menjadi wajar kalau disebut sebagai sebuah ‘isme’ baru. Awalnya, sang al-akh menyebutnya anisisme atau pemikiran Anis, tapi supaya lebih gampang disebut dan kedengaran lebih ngilmiah (menurut saya), saya menyebutnya anismisme, atau isme sebuah pemikiran AnisM.

    Dari email yang masuk tersebut, ada tulisan bagus dari orang yang juga kompeten, sehingga saya putuskan untuk dimuat apa adanya. Mohon maaf kepada ustadz Idris A. Shomad, karena tidak minta izin antum memuat tulisan ini. Saya yakin tulisan antum bukan tulisan rahasia yang tidak layak diketahui khalayak, sebaliknya menurut saya tulisan antum harus dibaca oleh kader dan simpatisan PKS secara luas. Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk antum.

    Saya merencanakan ada beberapa tulisan lagi membahas hal ini, dalam serial ‘Mengulas Anismisme’. Untuk yang ingin menyumbangkan tulisan dalam membahas anismisme, silahkan kirim ke email saya. - DOS

    Menjaga Harmoni Partai Dakwah Dengan Cinta

    -Nasehat Untuk Pak Sekjen PKS-

    DR. H.M. Idris A. Shomad, M.A

    (Wakil Ketua P3ID Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah)

    ”Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan kelapangan hati dan setinggi-tingginya itsar : memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Karena –seperti pesan Bapak Persaudaraan Islam Abad XX, asy-Syahid Hasan al-Banna, ”Saudara yang lurus memandang para saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri. Karena seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaliknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka akan dapat bersama yang lain. ”Tentu saja ini sangat berat diterima oleh orang yang menafsirkannya sebagai primordialisme, sektarianisme dan fanatisme. Cobalah lengkapi dengan pernyataan sebelumnya: ”Yang dimaksud dengan Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan paling kuat dan mahal. Ukhuwah itu saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur”. (Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah, Pustaka Da’watuna 2004).

    Berdakwah Dalam Politik atau Berpolitik Dalam Dakwah ?

    Meski Terma “Partai Dakwah” belum dikenal dalam Khazanah Keilmuan Dakwah, tetapi terma tersebut paling tidak menjadi paradigma baru dan sekaligus inovasi yang dimunculkan oleh PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mulai mampu berunjuk gigi sejak tahun 2004.

    Atribut Partai Dakwah pada PKS secara implisit tertuang dalam Muqaddomah Anggaran Dasar PKS “Bertolak dari kesadaran tersebut maka dibentuklah Partai Keadilan yakni partai politik yang mengemban amanah dakwah demi mewujudkan cita-cita universal dan menyalurkan aspirasi politik kaum muslimin beserta seluruh lapisan masyarakat Indonesia”.

    Atribut Partai Dakwah juga secara implisit dicantumkan dalam ART Bab II Pasal 3 (antara lain disebutkan):

    “Menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat, khususnya umat Islam, secara benar, jelas, utuh dan menyeluruh”

    “Mendorong kebajikan di berbagai bidang kehidupan”.

    “Memberantas kebodohan, kemiskian dan kerusakan moral”.

    ”Menghimpun jiwa dan menyatukan hati manusia di bawah naungan prinsip-prinsip kebenaran”.

    Mendekatkan berbagai persepsi antara madzhab-madzhab di kalangan umat Islam”. Dst.

    Hal tersebut juga disebut-sebut saudara Anis dalam bukunya ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” bahwa ”partai ini adalah wujud daripada gerakan dakwah kita. Partai adalah representasi keseluruhan dari total kekuatan yang kita miliki sepanjang 18 tahun pertama kita membina umat” (hal 17 alinea 1).

    Dapat dipahami Partai Dakwah sebagaimana dimaksud para pendiri PKS adalah sebuah lembaga yang menjadikan partai sebagai sarana atau ’kendaraan’ menyampaikan dakwah dalam segala bentuk dan aspeknya; sehingga dapat dipahami pula bahwa ”Dakwah” bagi PKS adalah ’panglima’ bagi perjuangan menyebarkan nilai dan prinsip kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat di Indonesia khususnya.

    Karenanya, penulis melihat bahwa Dakwah dalam konteks ini sesuatu yang dipertaruhkan dalam perjalanan sebuah partai yang senantiasa bergelut dengan beragam problematika lokal, nasional, regional dan bahkan problematika global, dan selalu berinteraksi dengan berbagai aspek kehidupan sosial politik dan ekonomi serta kehidupan keagamaan di negeri yang kental dengan fenomena keberagaman. Tidak mustahil nama Dakwah tercitrakan buruk hanya karena sikap dan perilaku para pelaku politik di partai tersebut.

    Semua menantikan jawaban ril dan nyata, apakah PKS berdakwah dalam politik atau berpolitik dalam dakwah? Jika nilai dan prinsip-prinsip sebagaimana tertuang dalam AD/ART dan Falsafah Dasar Perjuangan (al-fikru al-asasi) PKS teraplikasi dalam aktifitas politik, berarti mereka benar-benar berdakwah dalam politik, artinya melaksanakan misi dakwah dan menjadikan partai (politik) sebagai sarana dan alat perjuangan mereka; sebaliknya jika sikap dan perilaku politik mereka tidak menggambarkan nilai dan prinsip-prinsip tersebut, berarti mereka berpolitik dalam dakwah, artinya menjadikan dakwah hanya sebagai tameng untuk kepentingan politik, atau lebih populer dengan istilah hizbiyah (fanatis golongan atau sektarianisme dalam politik).

    ”Dari Qiyadah Untuk Para Kader”.

    Ungkapan di atas adalah judul sebuah buku yang merupakan kumpulan dari arahan-arahan saudara Anis Matta Sekjen PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Buku ini mempunyai tiga judul yang berbeda, pertama sebagaimana tercantum dalam lembaran pertama cover buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader”, judul kedua sebagaimana termaktub dalam penjelasan lembaran kedua cover buku ”Dari Qiyadah untuk Kader”, judul ketiga sebagaimana termaktub dalam cover depan ”Integrasi Politik dan Dakwah” –seri pemikiran Anis Matta-.

    Sepintas buku ini merupakan acuan dan arahan politik PKS untuk para kedernya, sebab kata ”Qiyadah” menggambarkan pimpinan institusional partai, seakan arahan-arahan dalam buku ini merupakan arahan formal yang mencerminkan persepsi dan pemikiran para pimpinan partai.

    Namun mencermati isi kandungan buku ini, penulis meragukan kesan tersebut; karena terdapat paradoks intelektual dari pemikiran-pemikiran di dalamnya, dari soal analisa sejarah politik Islam, persepsi harta dan uang, sampai masalah institusi partai; keraguan penulis itu muncul karena pengetahuan penulis dari bacaan buku-buku PKS dan pengalaman interaksi penulis dengan para elit dan kader-kader intelektual PKS.

    Syukurlah pada cover depan buku dicantumkan kata ”seri pemikiran Anis Matta”, yang sedikit menjelaskan bahwa isi buku ini ternyata hanya sekedar lontaran pemikiran saudara Anis Matta. Tetapi kesan bahwa pemikiran-pemikiran tersebut adalah pemikiran para pemimpin partai akan tetap ada, karena seorang Anis tidak bisa dipisahkan dari pimpinan (qiyadah) PKS disamping posisinya kini sebagai pejabat publik. Mungkin akan beda kesannya jika yang menyatakan dan melontarkan adalah seorang anggota biasa.

    Betapapun banyaknya kejanggalan dan keganjilan pemikiran dalam buku ini, akan tetapi penulis melihat adanya nilai-nilai positif di dalamnya, seperti daya stimulan dan spirit motivasi kepada kader-kader PKS dalam menjalankan roda kendaraannya sesuai visi dan misi partai menuju Indonesia yang adil dan sejahtera.

    Sebelum saya membaca buku ”Dari Qiyadah kepada Kader”, saya telah membaca buku-buku Saudara Anis seperti ”Menyongsong Abad 21”, ”Membentuk Karakter Islami”, ”Indahnya Demokrasi”, juga tulisan-tulisannya di majalah Tarbawi; saya mendapatkan banyak hal yang memberikan inspirasi kebangkitan pemikiran Islam yang bernuansa spiritualitas Islam menuju peradaban bermoral yang mesti dilakoni oleh para pahlawan muslim yang gigih dan mampu mengusung mega proyek tersebut.

    Namun setelah membaca buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” dan mendengar rekaman arahannya dalam CD-Rom, penulis mendapatkan kejanggalan dan keganjilan, bahkan kecurigaan terhadap arah dan orientasi pemikiran Saudara Anis, khususnya saat menyinggung masalah keuangan dan ilustrasi dari persepsi tentang harta. Seakan peradaban yang diimpikannya adalah peradaban yang mengandalkan uang yang dijadikan sebagai tujuan bukan alat dan sarana. Sikap itu membuatnya tega menyatakan ”Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara dan masakin. Ahlul masjid di negeri ini terdiri atas fuqara dan masakin” (hal: 65, alinea 3).

    Mungkin tujuan saudara Anis baik, yakni memotivasi kader untuk aktif membantu partai mencarikan dana organisasi dan mengharap munculnya para pengusaha muslim yang berafiliasi kepada pembangunan negara yang adil dan makmur; tetapi sangat naif bagi seorang pejabat publik muslim dan elit politik partai Islam seperti saudara Anis ketika harus mengatakan ”Kalau kita melihat mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar mobil itu, sapu baik-baik lalu berdo’alah” (hal 79, alinea 2).

    Saudara Anis juga merasa selama belajar agama tidak pernah diajarkan pemahaman keagamaan tentang kekayaan, padahal yang saya tahu tempat belajarnya di LIPIA diajarkan Bab al-Buyu’ dalam mata kuliah fiqih, disana dipelajari fiqih muamalat yang berorientasi kepada cara-cara berbisnis yang bermoral, belum lagi dalam mata kuliah hadits juga banyak dipelajari hadits-hadits tentang harta; jadi kalau dia tidak merasa itu semua sama halnya tidak memahami arah pemikiran para ahli fiqih dalam bahasan-bahasan fiqihnya, mungkin diantara faktornya adalah saudara Anis saat itu belum memiliki sense of bussines yang tajam seperti saat ini ketika merasakan sulit mendanai PILKADA-PILKADA di alam demokrasi yang masih bernuansa materialistis ini.

    Re-Moderisasi Pemikiran Partai Dakwah.

    Mencermati pemikiran PKS dalam dokumen-dokumen dan data-data manuskrip PKS, penulis melihat dan menilai bahwa PKS memiliki pemikiran yang moderat (laa ifroth walaa tafrith), yang memadukan antara asholah (orisinalitas) dan mu’asharah (modernitas), mengawinkan antara idealita dengan realita.

    Membaca buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” penulis melihat terdapat pemikiran yang melawan Moderasi Pemikiran PKS. Sebagai contoh dapat disebutkan disini, di satu sisi terdapat idealita ”Negeri ini (Indonesia) akan menjadi Kiblat Politik Dunia Islam” (hal 23, alinea 3), dikuatkan dengan kutipan tulisan Malik bin Nabi ”apabila dunia Islam ingin bangkit maka dunia Islam membutuhkan semua sandaran spiritual yang sangat kokoh. Dan sandaran spiritual yang kokoh itu sangat mungkin atau bahkan hanya mungkin diperoleh kaum muslimin di seluruh dunia Islam dari sebuah negeri yang bernama Indonesia” (hal 21 alinea 1); idealita itu jika tidak diimbangi dengan pandangan terhadap realita umat Islam baik dalam tataran individu maupun kelembagaan bagi organisasi massa atau organisasi politik Islam termasuk kondisi PKS masa kini, akan membuat para politisi termasuk saudara Anis memaksakan diri membawa semua permasalahan kepada aktifitas politik, hal itu terbukti ketika dia melihat cita-cita dakwah perolehan partai-partai Islam 50+1, karena dia mengkapitalisasi kesolehan masyarakat dengan hitungan angka-angka politik, katanya: ”yang kita maksud dengan masyarakat islami secara kuantitatif adalah apabila jumlah orang soleh di negeri ini lebih dari 50%” (hal 19 alinea 3); dan hitungan tersebut dikonversi dengan perolehan suara PEMILU. Padahal pemilih partai islam belum tentu karena kesolehannya, mereka memilih bisa karena figurnya, bisa karena uangnya, bisa karena faktor-faktor lain.

    Asholah (orisinalitas) pemikiran PKS yang lain adalah prinsip Tsiqah (Trust), prinsip ini juga disebut-sebut saudara Anis dalam bukunya, bahwa tsiqah merupakan alat ukur soliditas kader dari hasil tarbiyah; namun dia mungkin lupa bahwa Tsiqah tidak bersifat konstan, tetapi ia seperti iman yang berkarakter fluktuatif, naik turun. Bedanya dengan iman, fluktuasi tsiqah melihat obyek tsiqah disamping subyeknya.

    Saudara Anis melihat tsiqah dari sisi subyeknya saja, seakan ia ingin mengatakan kepada setiap kader untuk menanamkan tsiqah kepada qiyadah. Saya sangat setuju dengan pernyataannya tersebut, sebab tanpa trust kepemimpinan tidak akan mampu eksis dan apalagi mengakses program-programnya; tetapi tsiqah seseorang bisa saja akan naik sebagaimana bisa turun hanya karena disebabkan oleh sikap perilaku qiyadah yang kurang ’mengenakkan’.

    Mungkin saja sikap dan perilaku yang menjadi pemicu tsiqah itu sesuatu yang dianggap sepele atau hal yang kecil oleh qiyadah, tapi qiyadah yang bijak adalah yang tidak apriori, ia mesti melongok juga barangkali hal yang dianggapnya kecil adalah besar dalam pandangan orang lain. Seperti gaya hidup seseorang, mungkin sebagian orang melihatnya hal yang sepele, tapi dalam pandangan orang lain mungkin sesuatu itu dapat menyinggung perasaan seseorang, apalagi di masa-masa krisis ekonomi, karenanya bisa menjadi masalah besar. Paling tidak menjadi pemicu munculnya masalah besar di sebuah komunitas.

    Dari sana dapat dipahami mengapa Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq agar segera kembali menemui para shahabat non-arab yang sebagai kader dakwah Rasulullah saw (Bilal, Salman dan Shuhaib r.a) ketika Abu Bakar r.a mengatakan kepada mereka ”apakah kalian sedang menceritakan seorang tokoh besar Quraisy (maksudnya Abu Sofyan)”, Penulis memahami bahwa Rasulullah saw ingin menegaskan kepada kita pentingnya menjaga hati, sebagaimana beliau ingin mengajarkan kepada para pemangku jabatan budaya meminta maaf kepada orang meskipun posisinya sebagai prajurit biasa.

    Kadang-kadang juga cara komunikasi seseorang bisa menjadi pemicu munculnya ketidak-tsiqohan di antara mereka. Mungkin masalah ini sepele jika dibanding agenda besar yang sedang ditekuni PKS, yaitu meniti membangun peradaban yang bermoral. Tetapi ingat sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil, jangan menyepelekan sesuatu yang kecil lantaran obsesinya meraih sesuatu yang besar. Rasulullah saw ditegur Allah SWT ketika bersikap acuh kepada seorang Ibnu Umi Maktum lantaran keinginan besar Rasulullah saw yaitu keislaman para pembesar Quraisy (baca QS. ’Abasa 1-10 dan al-Kahfi: 28).

    Tsiqah juga sejatinya teraplikasi dari dua arah (tsiqah mutabadilah), tsiqah qiyadah kepada kader dan tsiqah kader kepada qiyadah; kader mesti tsiqah kepada qiyadah bahwa segala kebijakan dan arahan mereka demi kemaslahatan dakwah dan umat, sebaliknya qiyadah juga mesti tsiqah kepada kader bahwa segala nasehat dan kritik dari kader kepada qiyadah karena kecintaan dan demi kebaikan dakwah dan umat.

    Demikian prinsip tabayyun, bukan prinsip yang aplikasinya hanya berupa tuntutan kepada orang lain untuk melakukan klarifikasi, tetapi sejatinya pihak ’tertuduh’ atau ’tergosip’ juga mesti introspeksi diri ”mengapa orang melakukan hal iitu terhadap diri saya”.

    Harmonisasi Hubungan Dari QOLBU

    Qolbu (hati) adalah pengarah sejati bagi sikap dan perilaku manusia, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam haditsnya yang shahih.

    Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan dalam keberagaman latar belakang pendidikan, budaya dan tradisi suku bangsa pada komunitas tertentu. Bahkan perbedaan tersebut dapat menjadi sarana peningkatan kedewasaan seseorang dalam interaksinya di suatu komunitas. Sebab perbedaan-perbedaan itu dapat melahirkan itsro’ fikri (pengayaan perbendaharaan pemikiran), disamping mengajarkan pengendalian diri agar tidak apriori dan merasa benar sendiri. Karenanya dapat dipahami urgensi syuro dalam organisasi.

    Penulis yakin bahwa Majlis Syuro PKS sebelum memutuskan sebuah perkara, menerima begitu banyak pendapat yang berbeda, tetapi Majlis itu mesti memberikan satu keputusan, berarti ada pendapat yang ’dikalahkan’ atau ’dikesampingkan’. Sebagai anggota majlis syuro yang dewasa dan arif tentunya menerima hasil keputusan syuro dengan lapang dada meskipun tidak seperti pendapat dan ide-idenya yang cemerlang. Karenanya ia tidak menyatakan statement lain di luar hasil syuro tersebut.

    Saudara Anis adalah bagian dari personil pimpinan partai. Penulis sangat yakin saudara Anis memahami bahwa keberhasilan PKS bukan hanya kerja satu dua orang, kesuksesan yang diraih merupakan hasil dari kerja sama elemen partai secara menyeluruh, baik qiyadah maupun kader; jangan ada yang merasa paling berjasa, sebaliknya jangan pernah ada yang merasa rendah diri hanya karena kerja-kerjanya tidak nampak pada publik dan media.

    Dahulu guru saya dan guru kita semua KH Rahmat Abdullah –rahimahullah- mengajarkan sebuah ilustrasi ’amal jama’i itu seperti jam dinding yang baik dan indah; meskipun yang nampak hanya jarum panjang, jarum pendek dan tampak luar lainnya, tetapi jam tersebut tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak dinilai baik oleh orang lain tanpa kerja-kerja mur yang paling kecil di dalam jam tersebut yang tentunya tidak nampak dalam pandangan.

    Khitaman…

    ”Menjaga Harmoni Partai Dakwah Dengan Cinta” , judul tulisan ini merupakan salah satu asas ’amali kerja-kerja dakwah apapun eranya, sejak era nukhbawiyah sampai era mu’assasi dan bahkan era dauli, asas ’amali ini sejatinya tetap melekat pada setiap da’i; demikian yang diajarkan oleh guru dan murobbi para da’i Imam Hasan al-Banna ketika menyusun do’a Rabithah dan meminta kepada para kader dakwah untuk melantunkannya di pagi dan sore hari :

    اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ الْقُلُوبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ

    وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيعَتِكَ

    فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا وَامْلأَْهَا بَنُورِكَ الَّذِي لاَيَخْبُو

    وَاشْرَحْ صُدُورَهَا بِفَيْضِ الإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ

    وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِي سَبِيلِكَ

    إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِير

    Jangan-jangan kekeringan hubungan para kader dan atau hubungan qiyadah dengan kader, dan atau hubungan antar qiyadah hanya gara-gara lupa tidak membaca do’a ini. Mari menjaga harmoni Partai Dakwah dengan cinta. Cinta sejati, cinta berdasarkan mahabbatullah, cinta berlapiskan akhlak mulia dan etika sopan santun serta cinta berhiaskan sikap perilaku saling menghargai dan menghormati orang lain. Allahu A’lam Bish-showab.

    http://pkswatch.blogspot.com/2008/02/mengulas-anismisme-nasehat-untuk-pak.html

  20. satriabajaireng Says:

    Kader kab Tangerang tetap solid allahh uakbar !

  21. yasmin filistin Says:

    Yang namanya asholah adalah TETAP DALAM JAMA’AH. Kalo sudah outsider itu namanya PENYIMPANGAN DARI ASHOLAH. “Yadullah ma’al jama’ah”. Kekeruhan dalam jama’ah jauh lebih baik dari kejernihan individu.

    Kalah-menang dalam ‘politik’ bukan rujukan akan pihak yang benar, sebagaimana dulu zaman Nabi, beliau pernah menang dan juga pernah kalah.

    Buat semua, mari kembali kepada asholah da’wah ini dengan tetap berpegang DALAM JAMA’AH.

  22. gin Says:

    benarkah PKS adalah masa depan? femikiran tetap, memang realitas berubah…..tapi Islam dan ajaran Rasulnya tidak pernah berubah…..

  23. AROSE Says:

    udahlah, jangan benturkan antar PKS dan FKP, apalagi bicara inside and outsider.

    wahai akhi… hormatilah orang tua, guru-gurumu, masyaikh kalian. Hatta beliau tidak sejalan dengan kehendakmu, bahkan biarpun engkau merasa beliau telah mencambukmu, atau lebih sakit daripada itu.

    dan. marilah kita terus berjalan menatap hari esok dengan kepala tegak, tapi hati senantiasa tertunduk dalam khususk, antara khouf dan roja’.

    tidak ada yang tahu sedikitpun dari amalan kita apakah mendapatkan ridloNya ataupun tidak.

    dari Kader Malang Peduli

  24. heru Says:

    setelah 20% itu sudah menjadi basi,
    siapa lagi yang mau membuat pernyataan pembenaran disini???

Leave a Reply